GALLE, POSNEWS.CO.ID – Perang antara Amerika Serikat dan Iran kini meluas hingga ke wilayah Samudra Hindia. Sebuah kapal selam bertenaga nuklir Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang Iran, IRIS Dena, di lepas pantai selatan Sri Lanka pada Selasa malam.
Insiden berdarah ini terjadi saat pemerintahan Donald Trump merealisasikan ancamannya untuk menghancurkan seluruh struktur kepemimpinan militer Teheran. Alhasil, frigat terbaru milik angkatan laut Iran tersebut kini karam di dasar laut bersama puluhan awaknya.
“Kematian Senyap” dan Rekaman Pentagon
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi serangan tersebut melalui pengarahan pers di Pentagon. Militer Amerika Serikat merilis cuplikan hitam-putih yang menunjukkan detik-detik torpedo kelas berat Mark 48 menghantam lambung IRIS Dena.
“Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional,” ujar Hegseth. Ia melabeli penyerangan tersebut sebagai “kematian senyap” dan mengeklaimnya sebagai penenggelaman kapal musuh pertama oleh torpedo sejak berakhirnya Perang Dunia II. “Seperti pada perang itu, saat kita masih menjadi departemen perang, kita bertempur untuk menang,” tambahnya dengan nada asertif.
Operasi Penyelamatan di Zona Ekonomi Eksklusif
Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, mengungkapkan bahwa penjaga pantai menerima panggilan darurat pada Rabu pukul 05.08 pagi. Para awak kapal yang selamat mendeskripsikan insiden tersebut sebagai ledakan dahsyat yang melumpuhkan sistem pertahanan kapal secara instan.
Oleh karena itu, Sri Lanka segera mengerahkan dua kapal angkatan laut guna melakukan pencarian dan penyelamatan (SAR). Tim medis berhasil menyelamatkan 32 orang dari total estimasi 180 kru di atas kapal. Juru bicara Angkatan Laut, Buddhika Sampath, melaporkan bahwa petugas telah mengevakuasi 87 jenazah dari lokasi kejadian yang berjarak 81 kilometer dari Galle. Lokasi serangan berada di luar wilayah perairan teritorial Sri Lanka, namun masih berada di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara tersebut.
Kritik atas Pelanggaran Hukum Internasional
Langkah militer Washington ini memicu perdebatan sengit mengenai legalitas perang. Wes Bryant, mantan ahli penargetan operasi khusus Angkatan Udara AS, melabeli serangan terhadap IRIS Dena sebagai tindakan ilegal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pasalnya, kapal tersebut sedang dalam perjalanan pulang setelah berpartisipasi dalam latihan navigasi yang India selenggarakan di Teluk Benggala. “Apakah kapal perang itu secara aktif menebar ancaman atau berpartisipasi dalam pertempuran? Anda tidak bisa mengeklaim kapal ini sebagai ancaman segera,” tegas Bryant. Ia menilai kebijakan administrasi Trump sebagai contoh berbahaya dari “military overreach” atau pelampauan wewenang militer.
Eskalasi Regional dan Front Turki
Di saat Samudra Hindia membara, konflik juga merembat ke wilayah anggota NATO. Turki melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal balistik Iran yang menuju ruang udara mereka pada hari Rabu.
Selanjutnya, Iran melalui Garda Revolusi (IRGC) bersumpah akan terus meluncurkan serangan balasan ke berbagai fasilitas sekutu di seluruh Timur Tengah. Dengan tertutupnya Selat Hormuz selama lima hari berturut-turut, dunia kini memantau dengan cemas apakah “perang torpedo” ini akan memicu krisis energi global yang tak terkendalikan di sisa tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















