Tragedi Samudra Hindia: Kapal Selam AS Tenggelamkan Frigat Iran di Perairan Sri Lanka

Kamis, 5 Maret 2026 - 20:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Retorika agresif di Washington. Presiden Donald Trump menggambarkan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran sebagai aksi

Retorika agresif di Washington. Presiden Donald Trump menggambarkan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran sebagai aksi "bajak laut" yang menguntungkan, memicu kecaman internasional terkait potensi pelanggaran hukum perang. Dok: Istimewa.

GALLE, POSNEWS.CO.ID – Perang antara Amerika Serikat dan Iran kini meluas hingga ke wilayah Samudra Hindia. Sebuah kapal selam bertenaga nuklir Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang Iran, IRIS Dena, di lepas pantai selatan Sri Lanka pada Selasa malam.

Insiden berdarah ini terjadi saat pemerintahan Donald Trump merealisasikan ancamannya untuk menghancurkan seluruh struktur kepemimpinan militer Teheran. Alhasil, frigat terbaru milik angkatan laut Iran tersebut kini karam di dasar laut bersama puluhan awaknya.

“Kematian Senyap” dan Rekaman Pentagon

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi serangan tersebut melalui pengarahan pers di Pentagon. Militer Amerika Serikat merilis cuplikan hitam-putih yang menunjukkan detik-detik torpedo kelas berat Mark 48 menghantam lambung IRIS Dena.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional,” ujar Hegseth. Ia melabeli penyerangan tersebut sebagai “kematian senyap” dan mengeklaimnya sebagai penenggelaman kapal musuh pertama oleh torpedo sejak berakhirnya Perang Dunia II. “Seperti pada perang itu, saat kita masih menjadi departemen perang, kita bertempur untuk menang,” tambahnya dengan nada asertif.

Baca Juga :  Kejahatan Perang di Sudan: Drone RSF Bantai Keluarga

Operasi Penyelamatan di Zona Ekonomi Eksklusif

Menteri Luar Negeri Sri Lanka, Vijitha Herath, mengungkapkan bahwa penjaga pantai menerima panggilan darurat pada Rabu pukul 05.08 pagi. Para awak kapal yang selamat mendeskripsikan insiden tersebut sebagai ledakan dahsyat yang melumpuhkan sistem pertahanan kapal secara instan.

Oleh karena itu, Sri Lanka segera mengerahkan dua kapal angkatan laut guna melakukan pencarian dan penyelamatan (SAR). Tim medis berhasil menyelamatkan 32 orang dari total estimasi 180 kru di atas kapal. Juru bicara Angkatan Laut, Buddhika Sampath, melaporkan bahwa petugas telah mengevakuasi 87 jenazah dari lokasi kejadian yang berjarak 81 kilometer dari Galle. Lokasi serangan berada di luar wilayah perairan teritorial Sri Lanka, namun masih berada di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara tersebut.

Kritik atas Pelanggaran Hukum Internasional

Langkah militer Washington ini memicu perdebatan sengit mengenai legalitas perang. Wes Bryant, mantan ahli penargetan operasi khusus Angkatan Udara AS, melabeli serangan terhadap IRIS Dena sebagai tindakan ilegal.

Baca Juga :  Gubernur Pramono: Jakarta Terbuka untuk Pendatang Pasca Idul Fitri 2026

Pasalnya, kapal tersebut sedang dalam perjalanan pulang setelah berpartisipasi dalam latihan navigasi yang India selenggarakan di Teluk Benggala. “Apakah kapal perang itu secara aktif menebar ancaman atau berpartisipasi dalam pertempuran? Anda tidak bisa mengeklaim kapal ini sebagai ancaman segera,” tegas Bryant. Ia menilai kebijakan administrasi Trump sebagai contoh berbahaya dari “military overreach” atau pelampauan wewenang militer.

Eskalasi Regional dan Front Turki

Di saat Samudra Hindia membara, konflik juga merembat ke wilayah anggota NATO. Turki melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal balistik Iran yang menuju ruang udara mereka pada hari Rabu.

Selanjutnya, Iran melalui Garda Revolusi (IRGC) bersumpah akan terus meluncurkan serangan balasan ke berbagai fasilitas sekutu di seluruh Timur Tengah. Dengan tertutupnya Selat Hormuz selama lima hari berturut-turut, dunia kini memantau dengan cemas apakah “perang torpedo” ini akan memicu krisis energi global yang tak terkendalikan di sisa tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23
Militer Amerika Serikat Tembak Mati Gembong Kriminal
BIGBANG Resmi Umumkan Jadwal Tur Dunia
PM Jepang Sanae Takaichi Mulai Kunjungan Sejarah ke Eropa
Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako Mulai Kunjungan
Bea Cukai Hong Kong Sita Ribuan Jersi Piala Dunia Tiruan
Amerika Serikat dan Iran Dekati Kesepakatan Damai

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:52 WIB

Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok

Minggu, 14 Juni 2026 - 10:44 WIB

Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23

Minggu, 14 Juni 2026 - 08:30 WIB

BIGBANG Resmi Umumkan Jadwal Tur Dunia

Minggu, 14 Juni 2026 - 07:12 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Mulai Kunjungan Sejarah ke Eropa

Minggu, 14 Juni 2026 - 06:40 WIB

Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako Mulai Kunjungan

Berita Terbaru

Poros baru Ulan Bator. Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh menerima kunjungan kenegaraan Menlu Tiongkok Wang Yi untuk mempererat kemitraan ekonomi dan menyelaraskan strategi pembangunan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok

Minggu, 14 Jun 2026 - 11:52 WIB

Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman berdialog dengan mahasiswa Universitas Brawijaya terkait Program Makan Bergizi Gratis. (Posnews/Ist)

NASIONAL

Dudung Libatkan Kampus Awasi Program Makan Bergizi Gratis

Minggu, 14 Jun 2026 - 11:28 WIB

Pencemaran rantai pasok elektronik. Penyelidikan Global Witness mengungkap keterlibatan tidak sengaja jenama global dalam mendanai kekerasan milisi M23 di Kongo. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23

Minggu, 14 Jun 2026 - 10:44 WIB