SYDNEY, POSNEWS.CO.ID – Mundurlah ke masa 15 juta tahun yang lalu di benua Australia. Anda tidak akan menemukan koala lucu yang bisa dipeluk. Sebaliknya, Anda mungkin berhadapan dengan Diprotodon, marsupial raksasa seberat 2.700 kg, atau harus mendongak untuk menatap mata seekor kanguru setinggi tiga meter.
Ini adalah era Megafauna Australia. Setidaknya 55 spesies raksasa pernah merajai daratan ini, mulai dari ular raksasa, buaya purba, hingga wombat seberat 200 kg.
Namun, sekitar 46.000 tahun yang lalu, keheningan melanda. Secara tiba-tiba dalam skala geologis, semua raksasa ini lenyap dari muka bumi.
Apa penyebabnya? Misteri ini telah membelah komunitas ilmiah menjadi dua kubu: mereka yang menyalahkan alam, dan mereka yang menunjuk hidung manusia.
Kedatangan Manusia: Kebetulan atau Penyebab?
Catatan arkeologi menunjukkan manusia mencapai Australia melalui Indonesia pada akhir Pleistosen. Pemukiman mereka meluas sekitar 45.000 tahun yang lalu—waktu yang sangat berdekatan dengan tanggal kepunahan megafauna yang dikonfirmasi oleh teknik penanggalan Optically Stimulated Luminescence (OSL).
Namun, bukti fisik pembantaian sangat minim. Berbeda dengan Selandia Baru, di mana situs pembantaian burung raksasa Moa melimpah ruah, di Australia hampir tidak ada tulang megafauna yang menunjukkan bekas luka potong atau bakar.
“Senjata Aborigin saat itu hanya tombak kayu dan pentungan,” catat para skeptis. Bagaimana mungkin teknologi sederhana itu menumbangkan hewan sekuat gajah?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Alibi Iklim yang Lemah
Teori alternatif populer adalah perubahan iklim. Mungkin ada periode panas dan kering ekstrem?
Riset terbaru justru membantahnya. Pada 40.000-60.000 tahun lalu, iklim Australia tergolong moderat. Danau Eyre di Australia tengah bahkan membesar. Jika terjadi penggurunan, seharusnya fosil hewan ditemukan menumpuk di pesisir saat mereka mencari air. Kenyataannya, sebaran fosil merata di pedalaman dan pantai.
Faktanya, perubahan vegetasi justru terjadi setelah kepunahan. Tanaman yang bergantung pada hewan besar untuk menyebarkan biji mati karena mitra mereka telah tiada, bukan sebaliknya.
Teori Pembunuh Lambat: 30 Ekor per Tahun
Jika bukan perang terbuka dan bukan iklim, lalu apa? Jawabannya mungkin terletak pada matematika yang dingin.
Arkeolog Johnson mengajukan hipotesis yang mengerikan dalam kesederhanaannya. Menggunakan model komputer, ia menunjukkan bahwa manusia tidak perlu melakukan pembantaian massal untuk memusnahkan spesies.
Jika populasi 1.000 hewan raksasa diburu hanya sebanyak 30 ekor per tahun, spesies tersebut akan punah dalam waktu 520 hingga 700 tahun.
Mengingat megafauna (seperti albatros modern) berkembang biak lambat dan jarang, tekanan kecil namun konstan dari populasi manusia yang tumbuh perlahan sudah cukup untuk mendorong mereka ke jurang kepunahan. Fenomena “pengerdilan” (dwarfing) juga terjadi, di mana spesies yang lebih kecil, lebih cepat, dan lebih cepat bereproduksi berhasil bertahan hidup—menjelaskan mengapa kanguru modern jauh lebih kecil dari nenek moyangnya.
Mungkin, Aborigin tidak “berperang” melawan megafauna. Mereka hanya hidup berdampingan, namun koeksistensi itu sendiri, secara perlahan dan pasti, menjadi lonceng kematian bagi para raksasa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















