Kebuntuan di Timur Tengah: Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata AS

Kamis, 26 Maret 2026 - 11:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diplomasi dalam sengketa. Iran secara resmi menolak rencana perdamaian Amerika Serikat dan meluncurkan serangan baru ke Kuwait, sementara Washington mengerahkan Divisi Airborne ke-82 ke zona tempur. Dok: Istimewa.

Diplomasi dalam sengketa. Iran secara resmi menolak rencana perdamaian Amerika Serikat dan meluncurkan serangan baru ke Kuwait, sementara Washington mengerahkan Divisi Airborne ke-82 ke zona tempur. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Iran menolak mentah-mentah rencana Amerika Serikat untuk menghentikan sementara peperangan di Timur Tengah pada hari Rabu. Penolakan ini dibarengi dengan peluncuran gelombang serangan baru yang menghantam infrastruktur energi di negara-negara Teluk.

Dalam konteks ini, serangan drone Iran memicu kebakaran hebat di tangki bahan bakar Bandara Internasional Kuwait. Aksi ini menunjukkan peningkatan tekanan militer Teheran terhadap sekutu-sekutu Washington di kawasan tersebut.

Duel Narasi: Antara Negosiasi dan Penolakan

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan pernyataan tegas melalui televisi negara. Ia mengeklaim pemerintahnya tidak terlibat dalam pembicaraan apa pun untuk mengakhiri perang. “Kami tidak merencanakan negosiasi apa pun,” ujar Araghchi guna mematahkan klaim optimis dari Gedung Putih.

Sebaliknya, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa pembicaraan terus berlanjut secara produktif. Presiden Donald Trump mengeklaim sedang berurusan dengan pihak-pihak yang “ingin mencapai kesepakatan”. Perbedaan informasi ini menciptakan kebingungan besar mengenai arah kebijakan luar negeri kedua negara di tengah berkecamuknya konflik fisik.

Baca Juga :  Pasutri di Palembang Jual Bayi 3 Hari Rp52 Juta Lewat Medsos, Ayah Ditangkap

Syarat Gencatan Senjata: 15 Poin vs 5 Poin

Dua pejabat Pakistan mengungkapkan bahwa proposal AS mencakup 15 poin utama. Ketentuan tersebut menuntut pengurangan program nuklir Iran, batasan rudal, serta pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Sebagai imbalannya, Washington menjanjikan keringanan sanksi ekonomi bagi Teheran.

Namun, Iran mengajukan proposal tandingan sebanyak 5 poin melalui media Press TV. Tuntutan Teheran mencakup penghentian pembunuhan pejabat mereka, pembayaran kompensasi perang (reparasi), dan pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz. Poin kedaulatan maritim dan reparasi diprediksi akan menjadi hambatan yang tidak mungkin diterima oleh pemerintahan Trump.

Eskalasi Militer: Pengerahan Divisi Airborne ke-82

Di saat meja diplomasi masih panas, Pentagon memperkuat kehadiran fisik mereka di Timur Tengah. Amerika Serikat mulai mengirimkan 1.000 personel dari Divisi Airborne ke-82. Pasukan ini memiliki spesialisasi dalam mengamankan teritori musuh dan lapangan udara secara cepat melalui terjun payung.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, Departemen Pertahanan juga mengerahkan 5.000 Marinir tambahan serta ribuan pelaut. Langkah ini merupakan respon atas serangan balik Iran-Hezbollah yang terus menghujani Israel utara dengan roket. Militer Israel sendiri mengonfirmasi telah menyelesaikan beberapa gelombang serangan udara baru di Teheran dan Isfahan pada Rabu sore.

Baca Juga :  DPD Nilai Komdigi Gagal Bangun Ketahanan Digital, Judi Online dan Konten Negatif Kian Marak

Dampak Kemanusiaan dan Respon Pasar

Biaya manusia dari perang ini terus membengkak secara mengerikan. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan jumlah kematian telah melampaui 1.500 jiwa. Sementara itu, Lebanon mencatat hampir 1.100 orang tewas akibat gempuran terhadap basis-basis Hezbollah. Di pihak sekutu, sedikitnya 13 anggota militer AS terkonfirmasi gugur dalam tugas.

Secara ekonomi, berita mengenai potensi negosiasi sempat menekan harga minyak Brent ke angka $100 per barel. Meskipun demikian, harga tersebut masih 35 persen lebih tinggi dibandingkan saat perang bermula pada 28 Februari lalu. Jajak pendapat terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika mulai khawatir terhadap lonjakan harga bensin dan menganggap aksi militer pemerintah telah melampaui batas.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Donald Trump Dijadwalkan Temui Xi Jinping di Beijing
Andrie Yunus Korban Air Keras Jalani Operasi Berat, Mata Terancam Rusak
Ramai Hoax Beredar, Menteri Hak Asasi Manusia Pertimbangkan Lapor Polisi
PM Sanae Takaichi Desak IEA Tambah Pelepasan Cadangan Minyak
Menakar Tren Friend-shoring dan Near-shoring di Tahun 2026
Dilema Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Target Net-Zero
Krisis Pangan Global: Ketika Pasar Komoditas Bertabrakan
Misteri Kematian Staf Bawaslu OKU Selatan, Luka di Leher Picu Dugaan Pembunuhan

Berita Terkait

Kamis, 26 Maret 2026 - 12:43 WIB

Donald Trump Dijadwalkan Temui Xi Jinping di Beijing

Kamis, 26 Maret 2026 - 12:12 WIB

Andrie Yunus Korban Air Keras Jalani Operasi Berat, Mata Terancam Rusak

Kamis, 26 Maret 2026 - 12:05 WIB

Ramai Hoax Beredar, Menteri Hak Asasi Manusia Pertimbangkan Lapor Polisi

Kamis, 26 Maret 2026 - 11:40 WIB

Kebuntuan di Timur Tengah: Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata AS

Kamis, 26 Maret 2026 - 10:05 WIB

PM Sanae Takaichi Desak IEA Tambah Pelepasan Cadangan Minyak

Berita Terbaru

Mencari titik temu. Presiden Donald Trump akan melakukan kunjungan pertamanya ke Tiongkok dalam delapan tahun guna mengelola persaingan ekonomi dan menggalang dukungan terkait krisis energi di Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Donald Trump Dijadwalkan Temui Xi Jinping di Beijing

Kamis, 26 Mar 2026 - 12:43 WIB

Diplomasi dalam sengketa. Iran secara resmi menolak rencana perdamaian Amerika Serikat dan meluncurkan serangan baru ke Kuwait, sementara Washington mengerahkan Divisi Airborne ke-82 ke zona tempur. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kebuntuan di Timur Tengah: Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata AS

Kamis, 26 Mar 2026 - 11:40 WIB

Melindungi urat nadi energi. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi meminta IEA melakukan pelepasan cadangan minyak koordinasi tambahan guna mengantisipasi gangguan pasokan akibat perang Iran yang tak kunjung usai. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Sanae Takaichi Desak IEA Tambah Pelepasan Cadangan Minyak

Kamis, 26 Mar 2026 - 10:05 WIB