PARIS, POSNEWS.CO.ID – Selama berabad-abad, kita percaya pada dogma bahwa “Aku” adalah pusat dari segala keputusan. Slogan Descartes, Cogito Ergo Sum (Aku berpikir, maka aku ada), menempatkan manusia sebagai subjek yang berdaulat atas pikirannya. Namun, pada paruh kedua abad ke-20, Michel Foucault meluncurkan pernyataan yang mengejutkan: “Manusia adalah temuan yang tanggalnya belum lama ini.”
Dalam konteks ini, Foucault mengumumkan “Kematian Sang Subjek”. Langkah filsafat ini bertujuan untuk membongkar ilusi tentang kebebasan individu. Oleh karena itu, memahami pemikiran Foucault berarti menyadari bahwa identitas kita pada tahun 2026 sebenarnya merupakan produk dari pabrik struktur sosial yang luas.
Kritik terhadap Subjek yang Mandiri dan Rasional
Pilar utama Strukturalisme dan Post-Strukturalisme adalah penolakan terhadap otonomi manusia. Jika para filsuf klasik memandang manusia sebagai entitas yang bebas menentukan nasib, Foucault justru melihat manusia sebagai “produk sampingan” dari sistem. Bahkan, ia menegaskan bahwa setiap kali kita berbicara, bahasa yang kita gunakan sebenarnya sudah menentukan batas-batas apa yang bisa kita pikirkan.
Dalam hal ini, kita tidak lagi “menggunakan” bahasa; bahasa lah yang “menggunakan” kita. Subjek yang rasional hanyalah label yang pemerintah dan institusi ciptakan untuk mempermudah pengaturan warga negara. Sebagai hasilnya, perasaan “merdeka” yang kita miliki sering kali hanyalah hasil dari penyesuaian diri terhadap struktur yang sudah ada sebelumnya.
Kekuasaan dan Diskursus: Siapa yang Mendefinisikan Kebenaran?
Foucault memperkenalkan konsep Kekuasaan-Pengetahuan (Power-Knowledge). Ia berargumen bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui penindasan fisik, melainkan melalui penciptaan “kebenaran”. Secara khusus, institusi seperti sekolah, rumah sakit, dan penjara menetapkan standar tentang apa yang dianggap normal dan apa yang dianggap menyimpang.
Lebih lanjut, identitas kita dibentuk oleh diskursus atau wacana yang dominan. Sebagai contoh, definisi tentang “orang gila”, “kriminal”, atau “warga negara yang baik” berubah-ubah mengikuti sejarah. Oleh sebab itu, siapa diri kita hari ini sangat bergantung pada narasi sejarah yang menang dalam pertarungan kekuasaan. Kekuasaan di tahun 2026 bekerja secara halus melalui norma-norma sosial yang kita terima begitu saja tanpa pernah kita pertanyakan asal-usulnya.
Biopolitik: Mengontrol Tubuh dan Populasi
Salah satu kontribusi paling krusial Foucault bagi politik modern adalah konsep Biopolitik. Jika dulu kekuasaan raja adalah hak untuk “mematikan”, maka kekuasaan negara modern adalah kewajiban untuk “mengelola hidup”. Dalam hal ini, negara mengontrol populasi melalui statistik kelahiran, kebijakan kesehatan massal, hingga pengawasan perilaku di ruang publik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terlebih lagi, tubuh kita telah menjadi objek politik. Negara dan korporasi memantau kebiasaan makan, pola tidur, hingga aktivitas seksual kita guna memastikan kita menjadi “tubuh yang patuh” (docile bodies) dan produktif bagi sistem ekonomi. Di era digital tahun 2026, biopolitik bertransformasi menjadi Anatomopolitik Digital, di mana sensor dan algoritma membedah identitas kita menjadi sekumpulan data poin untuk dikendalikan secara presisi.
Menemukan Ruang Perlawanan
Masa depan kebebasan kita bergantung pada kemampuan kita untuk menyadari belenggu struktur ini. Pada akhirnya, mengakui “Kematian Sang Subjek” bukan berarti kita menyerah pada nasib.
Sebaliknya, pemahaman ini memberikan kita alat untuk melakukan dekonstruksi terhadap norma-norma yang menindas. Dengan demikian, dunia memerlukan lebih banyak individu yang berani mempertanyakan kebenaran tunggal yang otoritas tawarkan. Foucault mengajarkan bahwa meskipun kita dibentuk oleh struktur, kita selalu memiliki celah untuk menciptakan “estetika eksistensi”—sebuah upaya untuk membentuk diri kita sendiri di luar kendali kekuasaan yang mengepung kita di tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















