Trump Rombak Kabinet di Tengah Tekanan Perang dan Skandal Epstein

Sabtu, 4 April 2026 - 19:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pecah kongsi di Capitol Hill. Kelompok senator bipartisan mendesak Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk segera menyalurkan bantuan keamanan senilai $600 juta bagi Ukraina dan negara Baltik yang tertahan. Dok: Istimewa.

Pecah kongsi di Capitol Hill. Kelompok senator bipartisan mendesak Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk segera menyalurkan bantuan keamanan senilai $600 juta bagi Ukraina dan negara Baltik yang tertahan. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Gedung Putih kembali diguncang oleh perombakan pejabat tinggi. Presiden Donald Trump mengumumkan melalui media sosial bahwa Jaksa Agung Pam Bondi akan segera meninggalkan jabatannya. Penunjukan Todd Blanche sebagai pelaksana tugas (Plt) menandakan dimulainya fase restrukturisasi besar-besaran di jantung pemerintahan Amerika Serikat.

Dalam konteks ini, keluarnya Bondi menandai pemecatan kedua di tingkat kabinet dalam kurun waktu sebulan. Sebelumnya, Trump telah mendepak Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem menyusul kritik lintas partai terhadap kepemimpinannya.

Skandal Berkas Epstein: Dari Aset Menjadi Beban

Sun Taiyi, profesor ilmu politik dari Christopher Newport University, menilai pencopotan Bondi didorong oleh perhitungan politik yang mendalam. Secara khusus, Bondi menghadapi kecaman karena dianggap gagal memenuhi permintaan pengungkapan dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein secara penuh.

“Kesalahan-kesalahan ini sangat fatal secara politik dalam kasus yang sangat sensitif,” ujar Sun. Awalnya, isu Epstein diharapkan menjadi alat untuk menyerang lawan politik. Namun, inkonsistensi data yang dirilis Bondi justru memicu pengawasan publik kembali ke koneksi masa lalu Trump sendiri. Akibatnya, apa yang seharusnya menjadi aset politik justru berubah menjadi beban yang membahayakan citra presiden di tahun 2026.

Baca Juga :  Perang Ekonomi: AS Sasar Armada Bayangan Iran

Daftar Target Berikutnya: Intelijen dan Militer

Laporan dari The Atlantic dan The Guardian menyebutkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan pembersihan lebih lanjut. Terlebih lagi, posisi Direktur Intelijen Nasional (DNI) Tulsi Gabbard kini berada di ujung tanduk. Trump dilaporkan merasa frustrasi karena Gabbard dianggap melindungi mantan deputinya yang merusak narasi pembenaran perang terhadap Iran.

Daftar pejabat yang terancam meliputi:

  1. Kash Patel: Direktur FBI yang sedang dalam evaluasi kinerja.
  2. Tulsi Gabbard: Direktur Intelijen Nasional terkait isu loyalitas perang Iran.
  3. Howard Lutnick: Menteri Perdagangan yang memicu kekecewaan presiden.
  4. General Randy George: Kepala Staf Angkatan Darat yang didorong pensiun dini oleh Menhan Pete Hegseth di tengah konflik aktif.

Reposisi Politik Menjelang Pemilihan Sela

Perubahan personel ini harus dilihat dalam kerangka politik yang lebih luas. Meskipun Trump lebih menyukai stabilitas tim pada periode kedua ini, tekanan dari berbagai front memaksa adanya kalibrasi ulang. Dalam hal ini, tantangan kebijakan luar negeri di Iran, lonjakan inflasi domestik, serta sengketa hukum di Mahkamah Agung telah menurunkan angka kepuasan publik.

Baca Juga :  Marco Rubio dan Paus Leo XIV Berkomitmen Perbaiki Hubungan

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh karena itu, Trump menggunakan pergantian pejabat sebagai cara untuk menegaskan kembali kendali atas aparat intelijen dan keadilan. “Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Trump sedang melakukan ‘reset’ besar-besaran agar pemerintahannya terlihat lebih berkinerja sebelum pemilih memberikan suara di pemilihan sela November mendatang,” tambah Sun Taiyi.

Kesimpulan: Menanti Wajah Baru Washington

Masa depan arah kebijakan Amerika Serikat di sisa tahun 2026 kini bergantung pada siapa yang akan Trump pilih untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut. Pada akhirnya, pergantian dari Bondi ke Blanche hanyalah awal dari upaya Gedung Putih untuk menyaring kembali orang-orang yang paling loyal terhadap visi strategis presiden.

Dengan demikian, dunia internasional memantau dengan cemas apakah perombakan internal ini akan membuat kebijakan luar negeri AS semakin agresif atau justru lebih terukur. Di tengah dentuman rudal di Timur Tengah dan ketidakpastian ekonomi global, kesolidan internal Washington menjadi variabel penentu bagi stabilitas tatanan dunia saat ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Drone di Starobilsk Tewaskan Enam Orang
Lebanon Selatan: Serangan Israel Tewaskan Tenaga Medis
Tulsi Gabbard Mundur dari Jabatan Direktur Intelijen Nasional
AS dan Iran Masih Berselisih Soal Nuklir dan Selat Hormuz
TNI Kirim 744 Pasukan Perdamaian ke Lebanon, Lanjutkan Misi PBB
VinFast Jual Pabrik di Vietnam dan Lepas Beban Utang
Bareskrim Polri Limpahkan Dua Kasus Narkoba dan Vape Etomidate ke Kejaksaan
Cuaca Jabodetabek Hari Ini, Jakarta Hujan Ringan – Bogor Berpotensi Diguyur Petir

Berita Terkait

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:29 WIB

Serangan Drone di Starobilsk Tewaskan Enam Orang

Sabtu, 23 Mei 2026 - 10:11 WIB

Lebanon Selatan: Serangan Israel Tewaskan Tenaga Medis

Sabtu, 23 Mei 2026 - 09:03 WIB

Tulsi Gabbard Mundur dari Jabatan Direktur Intelijen Nasional

Sabtu, 23 Mei 2026 - 08:52 WIB

AS dan Iran Masih Berselisih Soal Nuklir dan Selat Hormuz

Sabtu, 23 Mei 2026 - 07:53 WIB

TNI Kirim 744 Pasukan Perdamaian ke Lebanon, Lanjutkan Misi PBB

Berita Terbaru

Eskalasi di zona pendudukan. Presiden Vladimir Putin memerintahkan militer Rusia menyusun rencana balasan setelah serangan drone Ukraina menghancurkan asrama mahasiswa di Starobilsk, Luhansk, yang menewaskan enam orang. Dok: REUTERS/Pavel Klimov

INTERNASIONAL

Serangan Drone di Starobilsk Tewaskan Enam Orang

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:29 WIB

Serangan udara Israel menewaskan sepuluh warga sipil termasuk tenaga medis di Lebanon Selatan, sementara Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru terhadap pejabat tinggi keamanan Lebanon. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Lebanon Selatan: Serangan Israel Tewaskan Tenaga Medis

Sabtu, 23 Mei 2026 - 10:11 WIB

Reshuffle kabinet berlanjut. Tulsi Gabbard resmi mundur dari jabatannya sebagai Direktur Intelijen Nasional (DNI) di tengah spekulasi tekanan Gedung Putih dan isu kesehatan keluarga. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Tulsi Gabbard Mundur dari Jabatan Direktur Intelijen Nasional

Sabtu, 23 Mei 2026 - 09:03 WIB

Amerika Serikat dan Iran tetap mempertahankan posisi berseberangan terkait isu nuklir dan akses Selat Hormuz. Sementara itu, diplomasi internasional melalui Pakistan dan Qatar terus berupaya mencari jalan keluar dari krisis energi global. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS dan Iran Masih Berselisih Soal Nuklir dan Selat Hormuz

Sabtu, 23 Mei 2026 - 08:52 WIB