Trump Rombak Kabinet di Tengah Tekanan Perang dan Skandal Epstein

Sabtu, 4 April 2026 - 19:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

AS kembali menyerang Iran, menewaskan empat orang dalam serangan yang mengenai pesta pernikahan, sementara Trump ancam balasan lebih besar dan harga minyak dunia melonjak. Dok: Istimewa.

AS kembali menyerang Iran, menewaskan empat orang dalam serangan yang mengenai pesta pernikahan, sementara Trump ancam balasan lebih besar dan harga minyak dunia melonjak. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Gedung Putih kembali diguncang oleh perombakan pejabat tinggi. Presiden Donald Trump mengumumkan melalui media sosial bahwa Jaksa Agung Pam Bondi akan segera meninggalkan jabatannya. Penunjukan Todd Blanche sebagai pelaksana tugas (Plt) menandakan dimulainya fase restrukturisasi besar-besaran di jantung pemerintahan Amerika Serikat.

Dalam konteks ini, keluarnya Bondi menandai pemecatan kedua di tingkat kabinet dalam kurun waktu sebulan. Sebelumnya, Trump telah mendepak Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem menyusul kritik lintas partai terhadap kepemimpinannya.

Skandal Berkas Epstein: Dari Aset Menjadi Beban

Sun Taiyi, profesor ilmu politik dari Christopher Newport University, menilai pencopotan Bondi didorong oleh perhitungan politik yang mendalam. Secara khusus, Bondi menghadapi kecaman karena dianggap gagal memenuhi permintaan pengungkapan dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein secara penuh.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kesalahan-kesalahan ini sangat fatal secara politik dalam kasus yang sangat sensitif,” ujar Sun. Awalnya, isu Epstein diharapkan menjadi alat untuk menyerang lawan politik. Namun, inkonsistensi data yang dirilis Bondi justru memicu pengawasan publik kembali ke koneksi masa lalu Trump sendiri. Akibatnya, apa yang seharusnya menjadi aset politik justru berubah menjadi beban yang membahayakan citra presiden di tahun 2026.

Baca Juga :  Kasus Daycare Little Aresha: 53 Bayi Diduga Dianiaya, DP3AP2 DIY Beri Trauma Healing

Daftar Target Berikutnya: Intelijen dan Militer

Laporan dari The Atlantic dan The Guardian menyebutkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan pembersihan lebih lanjut. Terlebih lagi, posisi Direktur Intelijen Nasional (DNI) Tulsi Gabbard kini berada di ujung tanduk. Trump dilaporkan merasa frustrasi karena Gabbard dianggap melindungi mantan deputinya yang merusak narasi pembenaran perang terhadap Iran.

Daftar pejabat yang terancam meliputi:

  1. Kash Patel: Direktur FBI yang sedang dalam evaluasi kinerja.
  2. Tulsi Gabbard: Direktur Intelijen Nasional terkait isu loyalitas perang Iran.
  3. Howard Lutnick: Menteri Perdagangan yang memicu kekecewaan presiden.
  4. General Randy George: Kepala Staf Angkatan Darat yang didorong pensiun dini oleh Menhan Pete Hegseth di tengah konflik aktif.

Reposisi Politik Menjelang Pemilihan Sela

Perubahan personel ini harus dilihat dalam kerangka politik yang lebih luas. Meskipun Trump lebih menyukai stabilitas tim pada periode kedua ini, tekanan dari berbagai front memaksa adanya kalibrasi ulang. Dalam hal ini, tantangan kebijakan luar negeri di Iran, lonjakan inflasi domestik, serta sengketa hukum di Mahkamah Agung telah menurunkan angka kepuasan publik.

Baca Juga :  Gelombang Populisme: Ketika Emosi Mengalahkan Logika di Kotak Suara

Oleh karena itu, Trump menggunakan pergantian pejabat sebagai cara untuk menegaskan kembali kendali atas aparat intelijen dan keadilan. “Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Trump sedang melakukan ‘reset’ besar-besaran agar pemerintahannya terlihat lebih berkinerja sebelum pemilih memberikan suara di pemilihan sela November mendatang,” tambah Sun Taiyi.

Kesimpulan: Menanti Wajah Baru Washington

Masa depan arah kebijakan Amerika Serikat di sisa tahun 2026 kini bergantung pada siapa yang akan Trump pilih untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut. Pada akhirnya, pergantian dari Bondi ke Blanche hanyalah awal dari upaya Gedung Putih untuk menyaring kembali orang-orang yang paling loyal terhadap visi strategis presiden.

Dengan demikian, dunia internasional memantau dengan cemas apakah perombakan internal ini akan membuat kebijakan luar negeri AS semakin agresif atau justru lebih terukur. Di tengah dentuman rudal di Timur Tengah dan ketidakpastian ekonomi global, kesolidan internal Washington menjadi variabel penentu bagi stabilitas tatanan dunia saat ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Norwegia Sita Kapal Rusia di Svalbard atas Permintaan Naftogaz
Putin Sebut Ada Peluang Capai Kesepakatan Akhiri Perang
Pemerintahan Trump Kembali Ajukan Banding ke MA
Gloria Steinem, Ikon Gerakan Feminisme AS, Meninggal Dunia
Iran Gelar Pemakaman Korban Serangan AS, Balas Serang
Yen Menguat Usai Spekulasi Intervensi Jepang, Harga Minyak Naik
Koin Dolar Bergambar Wajah Trump Resmi Dijual Rabu Ini
Trump Sebut Lega Pangeran Harry dan Meghan Markle

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 09:13 WIB

Norwegia Sita Kapal Rusia di Svalbard atas Permintaan Naftogaz

Sabtu, 5 September 2026 - 08:08 WIB

Putin Sebut Ada Peluang Capai Kesepakatan Akhiri Perang

Sabtu, 5 September 2026 - 06:04 WIB

Pemerintahan Trump Kembali Ajukan Banding ke MA

Jumat, 4 September 2026 - 18:00 WIB

Gloria Steinem, Ikon Gerakan Feminisme AS, Meninggal Dunia

Jumat, 4 September 2026 - 15:55 WIB

Iran Gelar Pemakaman Korban Serangan AS, Balas Serang

Berita Terbaru

Norwegia sita kapal Rusia di Svalbard atas permintaan Naftogaz untuk menegakkan putusan arbitrase $4,22 miliar terkait Crimea. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Norwegia Sita Kapal Rusia di Svalbard atas Permintaan Naftogaz

Sabtu, 5 Sep 2026 - 09:13 WIB

Putin sebut ada peluang capai kesepakatan damai Ukraina, sementara Zelenskyy umumkan kunjungan negosiator AS ke Moskow dan Kyiv. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Putin Sebut Ada Peluang Capai Kesepakatan Akhiri Perang

Sabtu, 5 Sep 2026 - 08:08 WIB