PHNOM PENH, POSNEWS.CO.ID – Suara ledakan roket dan deru jet tempur memecah kedamaian di perbatasan Thailand dan Kamboja. Pertempuran antara kedua negara tetangga ini meluas ke wilayah-wilayah baru pada Selasa (09/12/2025).
Konflik sengketa wilayah yang telah berlangsung satu abad ini kembali memanas. Akibatnya, korban jiwa terus bertambah. Laporan terbaru mencatat 10 orang tewas dan puluhan ribu warga sipil terpaksa melarikan diri dari rumah mereka.
Ketegangan bermula sejak Senin lalu. Saat itu, Thailand melancarkan serangan udara dan mengerahkan tank untuk menggempur posisi lawan. Seketika, kawasan perbatasan berubah menjadi zona perang yang mematikan.
Saling Balas Roket dan F-16
Militer kedua negara saling menyalahkan atas pecahnya kekerasan ini. Angkatan Darat Wilayah Kedua Thailand melaporkan serangan fajar dari kubu Kamboja.
“Pasukan Kamboja menembakkan roket peluncur ganda BM-21 ke perbatasan Thailand sejak pukul 06.00 pagi,” bunyi pernyataan resmi Thailand. Oleh karena itu, militer Thailand merasa wajib memberikan respons balasan.
Di sisi lain, Kamboja memberikan narasi berbeda. Ketua Senat Kamboja, Samdech Techo Hun Sen, menyatakan pasukannya baru melancarkan serangan balik setelah menahan diri selama 24 jam.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Letjen Maly Socheata, melontarkan tuduhan serius. Ia menyebut tentara Thailand menggunakan jet tempur F-16 dan senjata berat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bahkan, ia mengklaim Thailand menggunakan “gas beracun” untuk menyerang posisi militer dan warga sipil Kamboja. “Tujuh warga sipil Kamboja tewas dan 20 lainnya terluka,” ungkapnya.
Eksodus Massal Warga Sipil
Dampak kemanusiaan dari bentrokan ini sangat masif. Tercatat, tiga tentara Thailand tewas dalam baku tembak tersebut.
Ketakutan akan perang terbuka memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Pemerintah Thailand telah mendirikan hampir 500 tempat penampungan sementara. Lebih dari 125.000 warga sipil Thailand kini memadati lokasi evakuasi tersebut.
Sementara itu, Menteri Informasi Kamboja Neth Pheaktra melaporkan situasi serupa. Sekitar 54.550 warga Kamboja dari provinsi Preah Vihear hingga Pursat telah lari ke zona aman.
Imbasnya, fasilitas publik lumpuh total. Lebih dari 800 sekolah dan banyak rumah sakit di provinsi perbatasan Thailand terpaksa tutup sementara demi keamanan.
Pangkalan Ilegal di Trat?
Juru bicara Angkatan Laut Thailand, Parat Rattanachaiphan, mengungkap pemicu lain ketegangan. Pasukannya mendeteksi keberadaan pasukan dan pemukiman Kamboja di wilayah sengketa provinsi Trat. Selain itu, mereka menemukan beberapa pangkalan senjata di area pesisir tersebut.
Kini, komunitas internasional membunyikan alarm tanda bahaya. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Uni Eropa mendesak kedua belah pihak untuk segera menahan diri. Mereka meminta penghentian permusuhan sebelum konflik regional ini merenggut lebih banyak nyawa tak berdosa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















