PYONGYANG, POSNEWS.CO.ID – Korea Utara melontarkan tuduhan serius terhadap Jepang terkait percepatan pengembangan rudal jarak jauh. Melalui media resmi KCNA, Pyongyang menyebut pembangunan kekuatan militer Tokyo sebagai persiapan nyata untuk serangan di masa depan. Tuduhan ini muncul di tengah upaya Jepang memperkuat kapasitas serangannya dalam beberapa bulan terakhir.
KCNA dalam komentarnya pada hari Jumat menegaskan bahwa Jepang telah memulai pengerahan rudal permukaan-ke-kapal Tipe 12 versi terbaru di Kumamoto. Selain itu, Tokyo berencana menempatkan sistem jarak jauh lainnya di berbagai prefektur. Langkah ini menempatkan negara-negara tetangga dalam jangkauan serangan langsung militer Jepang.
Rudal Ofensif dan Ambisi Invasi Ulang
Korea Utara menyoroti pengalokasian sumber daya Jepang yang sangat besar untuk memperluas jangkauan rudal. Tokyo saat ini mengadaptasi sistem senjata agar dapat meluncur melalui darat, laut, dan udara. KCNA menyebut sistem-sistem tersebut secara eksplisit sebagai “senjata ofensif jarak jauh” yang berbahaya bagi stabilitas kawasan.
Pyongyang membantah keras klaim Jepang bahwa pembangunan militer tersebut bertujuan untuk pertahanan diri. Sebaliknya, Korea Utara melihat langkah ini mencerminkan ambisi lama Jepang untuk mengamankan kemampuan menyerang. Mereka bahkan menggunakan istilah “persiapan perang untuk invasi ulang” dalam mendeskripsikan kebijakan militer Tokyo saat ini.
Konsekuensi Serius atas Peningkatan Militer
Korea Utara juga menyoroti peningkatan pembelian senjata serang jarak jauh oleh Jepang dari pihak luar. Selain itu, partisipasi aktif Jepang dalam latihan militer gabungan menunjukkan bahwa negara tersebut semakin dekat untuk menggunakan kemampuan tempurnya. Pyongyang menilai hal ini sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan negara-negara di Asia Timur.
Pernyataan KCNA tersebut diakhiri dengan peringatan keras kepada pemerintah Jepang. Pyongyang menegaskan bahwa Tokyo akan menghadapi konsekuensi serius jika tetap bertahan pada jalur militeristik saat ini. Peningkatan ketegangan ini diprediksi akan mempersulit upaya diplomasi regional di tengah krisis keamanan global yang sedang berlangsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















