AS Peringatkan Warganya di Venezuela Jadi Target Buruan Milisi

Minggu, 11 Januari 2026 - 16:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah klaim

Di tengah klaim "situasi aman" Trump, Departemen Luar Negeri justru deteksi ancaman penculikan oleh kelompok Colectivos yang mencari orang Amerika. Dok: Istimewa.

CARACAS/WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Suasana di Caracas berubah menjadi perburuan manusia. Oleh karena itu, Amerika Serikat mendesak warganya untuk segera meninggalkan Venezuela pada hari Sabtu. Peringatan ini muncul di tengah laporan intelijen yang mengkhawatirkan. Laporan tersebut menyebutkan bahwa paramiliter bersenjata sedang mencoba melacak keberadaan warga AS sebagai aksi balas dendam atas penangkapan Presiden Nicolás Maduro.

Departemen Luar Negeri AS mengirimkan peringatan keamanan (security alert) yang merinci ancaman tersebut. Menurut laporan, anggota milisi pro-rezim yang dikenal sebagai colectivos mendirikan blokade jalan dan menggeledah kendaraan.

“Warga AS di Venezuela harus tetap waspada dan berhati-hati saat bepergian melalui jalan darat,” bunyi peringatan tersebut. Selanjutnya, Washington mendesak warganya agar memanfaatkan penerbangan internasional yang baru saja beroperasi kembali untuk segera keluar.

Kontradiksi Klaim Trump vs Realitas Lapangan

Situasi ini menyingkap kontradiksi tajam antara retorika Gedung Putih dan realitas di lapangan. Sebelumnya, Presiden Donald Trump dengan percaya diri mengklaim kepada wartawan bahwa AS sedang “menjalankan” Venezuela. Ia juga menyatakan situasi akan segera aman, bahkan berencana berkunjung di masa depan.

Namun, peringatan Departemen Luar Negeri justru mengekspos betapa labilnya situasi keamanan. Hal ini terjadi pasca-serangan pasukan khusus yang menewaskan banyak orang akhir pekan lalu.

Di Caracas, wartawan dan aktivis menyaksikan sendiri anggota colectivos yang membawa senapan berkeliaran dengan sepeda motor. Mereka mendirikan pos pemeriksaan di sekitar kota. Sementara itu, puluhan pos militer dan polisi menjaga ketat jalan-jalan yang menghubungkan ibu kota ke perbatasan barat.

Bantahan Caracas: “Semua Aman Terkendali”

Pemerintah Venezuela merespons dengan penyangkalan keras. Kementerian Luar Negeri Venezuela menyebut peringatan AS tersebut berdasar pada “akun palsu”. Menurut mereka, tujuannya adalah menciptakan persepsi risiko yang sebenarnya tidak ada.

Baca Juga :  Xi Jinping Kunjungi Korea Utara demi Perkuat Aliansi

“Venezuela berada dalam ketenangan, kedamaian, dan stabilitas mutlak,” klaim kementerian tersebut. Mereka juga menegaskan bahwa Pemerintah Bolivarian mengendalikan semua senjata sebagai satu-satunya penjamin keamanan.

Meskipun demikian, dinamika politik terus bergerak. Pejabat Departemen Luar Negeri AS telah mengunjungi Caracas pada hari Jumat. Kunjungan ini diyakini sebagai persiapan pembukaan kembali kedutaan besar AS. Di sisi lain, Presiden Interim Delcy Rodríguez menyerukan perbaikan hubungan dengan Washington, walaupun pasukan AS baru saja menculik sekutunya.

Kabar dari Penjara AS

Sementara itu, kabar terbaru datang dari Nicolás Maduro sendiri. Putranya, Nicolas Maduro Guerra, merilis video yang mengutip pesan ayahnya dari penjara AS.

“Kami baik-baik saja. Kami adalah petarung,” ujar Maduro melalui putranya. Pesan ini bertujuan membakar semangat pendukungnya yang kini turun ke jalan untuk mengecam tindakan AS sebagai agresi imperialis.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Crimea Terisolasi Drone: Ukraina Gempur Jembatan
PM Keir Starmer Janji Permudah Transisi Kekuasaan
Rusia Tuding Amerika Serikat Ingkar Janji
Prabowo Mengaku Tahu Aktor Demo Berbayar, Singgung Peserta Dibayar Rp200 Ribu
Marco Rubio Berjuang Redakan Kecemasan Sekutu
Kasus Firli Bahuri Mandek, IPW Desak Polda Metro Segera Beri Kepastian Hukum
Program SPPG Gegerkan Cilacap, Titik Diduga Fiktif di Tengah Hutan dan Kuburan
Donald Trump Sebut Iran Setujui Pengawasan Nuklir

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 17:31 WIB

Crimea Terisolasi Drone: Ukraina Gempur Jembatan

Rabu, 24 Juni 2026 - 15:24 WIB

PM Keir Starmer Janji Permudah Transisi Kekuasaan

Rabu, 24 Juni 2026 - 14:17 WIB

Rusia Tuding Amerika Serikat Ingkar Janji

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:28 WIB

Prabowo Mengaku Tahu Aktor Demo Berbayar, Singgung Peserta Dibayar Rp200 Ribu

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:13 WIB

Marco Rubio Berjuang Redakan Kecemasan Sekutu

Berita Terbaru

Lumpuhnya pertahanan di Laut Hitam. Ukraina meluncurkan serangan drone masif untuk mengisolasi jalur logistik militer Rusia di Crimea. Dok: (AP Photo/Efrem Lukatsky)

INTERNASIONAL

Crimea Terisolasi Drone: Ukraina Gempur Jembatan

Rabu, 24 Jun 2026 - 17:31 WIB

Ancaman nyata kepemimpinan Downing Street. Kemenangan Andy Burnham di daerah pemilihan Makerfield membuka jalan lebar untuk meluncurkan mosi penantangan terhadap PM Keir Starmer. Dok: (AP Photo/Kin Cheung)

INTERNASIONAL

PM Keir Starmer Janji Permudah Transisi Kekuasaan

Rabu, 24 Jun 2026 - 15:24 WIB

Retaknya kompromi Anchorage. Rusia menuduh Donald Trump melanggar kesepakatan puncak Alaska karena menghentikan mediasi damai demi fokus pada perang Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Rusia Tuding Amerika Serikat Ingkar Janji

Rabu, 24 Jun 2026 - 14:17 WIB

Misi penyeimbang di Teluk Arab. Menlu AS Marco Rubio menemui para pemimpin monarki Teluk untuk meredam kekhawatiran atas konsesi ekonomi Amerika Serikat kepada Iran. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Marco Rubio Berjuang Redakan Kecemasan Sekutu

Rabu, 24 Jun 2026 - 13:13 WIB