Krisis Kemanusiaan Lebanon: 700 Ribu Warga Mengungsi di Tengah Eskalasi Perang Israel-Hezbollah

Selasa, 10 Maret 2026 - 09:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Serangan udara Israel menewaskan empat orang di Lebanon Selatan dan Hezbollah meluncurkan drone balasan. Dok: Istimewa.

Serangan udara Israel menewaskan empat orang di Lebanon Selatan dan Hezbollah meluncurkan drone balasan. Dok: Istimewa.

BEIRUT, POSNEWS.CO.ID – Lebanon kini terseret jauh ke dalam pusaran perang regional yang melumpuhkan stabilitas nasionalnya. Konfrontasi bersenjata antara militer Israel dan Hezbollah memasuki pekan kedua pada Senin (9/3/2026) dengan dampak kemanusiaan yang sangat tragis.

PBB mengonfirmasi bahwa gelombang permusuhan ini telah memicu eksodus massal. “Sekitar 700.000 orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka hanya dalam waktu tujuh hari terakhir,” tulis laporan resmi badan kemanusiaan PBB di Nicosia.

Serangan terhadap Fasilitas Finansial

Di lapangan, militer Israel terus mengintensifkan kampanye udaranya. Kolom asap hitam terlihat membubung tinggi di atas pinggiran selatan Beirut yang merupakan benteng pertahanan utama Hezbollah.

Sektor ekonomi Hezbollah kini menjadi sasaran langsung. Sumber keamanan Lebanon melaporkan bahwa jet tempur Israel menghantam lima cabang lembaga keuangan Al-Qard Al-Hassan. Israel berdalih bahwa pelumpuhan jaringan keuangan ini bertujuan untuk memutus aliran dana operasional militer kelompok tersebut. Sebagai balasan, Hezbollah meluncurkan hujan rudal jauh ke jantung wilayah Israel, memicu sirene serangan udara di Teluk Haifa hingga pusat kota Tel Aviv.

Baca Juga :  Kapolda Metro Puji 6 Siswa SDN Setu 02 Cipayung, Teladan Kejujuran yang Bikin Haru

“Anak-anak Menjadi Korban”: Peringatan UNICEF

Dampak serangan terhadap warga sipil memicu alarm bahaya dari komunitas internasional. Direktur Regional UNICEF, Edouard Beigbeder, memberikan pernyataan yang sangat memilukan mengenai kondisi di lapangan.

“Anak-anak terbunuh dan terluka pada tingkat yang mengerikan,” tegas Beigbeder. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, sedikitnya 83 anak-anak dan 42 wanita telah tewas sejak operasi militer dimulai. Ribuan keluarga kini terpaksa tidur di tempat penampungan yang dingin dan penuh sesak. Kondisi cuaca yang ekstrem di awal Maret ini memperburuk penderitaan para pengungsi yang melarikan diri tanpa persiapan memadai.

Stadion Berubah Menjadi Pusat Pengungsian

Pemerintah Lebanon kini berjuang keras untuk menampung para pengungsi. Stadion Olahraga Camille Chamoun di Beirut—fasilitas olahraga terbesar di negara tersebut—kini telah bertransformasi menjadi pusat pengungsian darurat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Warga terlihat memilah kotak-kotak pakaian donasi untuk mencari jaket guna menahan dinginnya malam. Alhasil, tenda-tenda darurat mulai menjamur di seluruh penjuru kota. “Kami hanya bisa berharap krisis ini tidak berlangsung lama karena kapasitas kami hampir mencapai batasnya,” ujar Naji Hammoud, direktur fasilitas olahraga Lebanon. Sejarah mencatat insiden ini mulai mendekati skala pengungsian besar pada perang tahun 2024 silam yang mencapai satu juta orang.

Baca Juga :  Indeks Celana Dalam: Cara Aneh Wall Street Prediksi Krisis

Posisi Militer dan Upaya Pertahanan

Di pihak Israel, militer mengeklaim bahwa perintah evakuasi massal di Lebanon Selatan dan Lembah Bekaa adalah kewajiban hukum untuk melindungi warga sipil. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut pengosongan wilayah tersebut sebagai kesempatan untuk membuat perbatasan utara menjadi “lebih aman”.

Meskipun sistem pertahanan udara Israel berhasil mencegat banyak proyektil, empat orang dilaporkan terluka akibat hantaman rudal di pangkalan militer selatan Tel Aviv. Selain itu, Israel mencatatkan dua kematian tentara pertamanya dalam operasi darat di perbatasan Lebanon. Dunia kini memantau dengan cermat apakah mobilisasi pasukan tambahan Israel akan memicu invasi darat skala penuh atau membuka celah bagi gencatan senjata yang diprakarsai oleh mediator internasional.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ancol Gelar Jazz Night & Pameran Seni, Andien Meriahkan International Jazz Day 2026
White Rabbit PIK Ditutup, Pemprov DKI Cabut Izin Usai Kasus Narkoba
Mobil HR-V Hantam Depot Air di Grogol, Pejalan Kaki Terseret dan Luka Parah
Dua PRT Lompat dari Lantai 4 di Benhil, Polisi Periksa Agen Penyalur PRT
Erdogan Desak KTT Rusia-Ukraina dan Peringatkan Pelemahan Eropa
Begal Celurit Gunung Sahari, 4 Pelaku Dibekuk Polisi Usai Rampas Motor & HP Korban
Tiongkok Siap Bangun 11.000 Pulau guna Perkuat Klaim Teritorial
Pemerintah dan Oposisi Jepang Mulai Tarik Janji Potong Pajak Konsumsi

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 18:12 WIB

Ancol Gelar Jazz Night & Pameran Seni, Andien Meriahkan International Jazz Day 2026

Jumat, 24 April 2026 - 17:57 WIB

White Rabbit PIK Ditutup, Pemprov DKI Cabut Izin Usai Kasus Narkoba

Jumat, 24 April 2026 - 17:25 WIB

Mobil HR-V Hantam Depot Air di Grogol, Pejalan Kaki Terseret dan Luka Parah

Jumat, 24 April 2026 - 17:12 WIB

Dua PRT Lompat dari Lantai 4 di Benhil, Polisi Periksa Agen Penyalur PRT

Jumat, 24 April 2026 - 17:01 WIB

Erdogan Desak KTT Rusia-Ukraina dan Peringatkan Pelemahan Eropa

Berita Terbaru

Presiden Turkiye Tayyip Erdogan bertemu dengan Sekretaris Jendral NATO Mark Rutte di Ankara, Turkey, April 22, 2026. Murat Kula/Turkish Presidential Press Office/Handout via REUTERS

INTERNASIONAL

Erdogan Desak KTT Rusia-Ukraina dan Peringatkan Pelemahan Eropa

Jumat, 24 Apr 2026 - 17:01 WIB