SUDAN, POSNEWS.CO.ID — Perang saudara yang brutal di Sudan kini telah memasuki tahun ketiga. Akibatnya, perang ini memicu krisis kemanusiaan dan pengungsian terbesar di dunia. Situasi memburuk secara drastis setelah pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) merebut el-Fasher, ibu kota Darfur Utara. Tindakan ini memicu laporan pembunuhan massal, pembersihan etnis, dan pemerkosaan sistematis.
Untuk itu, Perdana Menteri Sudan, Kamil Idris, kini secara terbuka menyerukan kepada komunitas internasional untuk menetapkan RSF sebagai “organisasi teroris”.
Krisis Pengungsian Terbesar di Dunia
Data terbaru dari PBB melukiskan gambaran bencana. Sudan kini memiliki lebih dari 9,5 juta pengungsi internal (IDP). Selain itu, 4,34 juta lainnya telah melarikan diri ke negara-negara tetangga seperti Mesir, Chad, dan Sudan Selatan.
Total, 14 juta orang, atau lebih dari seperempat populasi Sudan, telah terusir dari rumah mereka. Bahkan, PBB mencatat lebih dari separuh (51%) dari pengungsi internal tersebut adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun.
Jatuhnya el-Fasher pada 26 Oktober, setelah pengepungannya selama 18 bulan, telah memperparah krisis. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan 81.817 orang telah mengungsi dari area tersebut hanya dalam beberapa hari. Mirisnya, kebanyakan dari mereka melarikan diri dengan berjalan kaki.
Mereka Tahu Suku Saya dari Warna Kulit
Laporan dari para penyintas yang berhasil lolos dari el-Fasher mengungkap kengerian yang sistematis. PBB dan lembaga bantuan internasional telah mengonfirmasi banyak laporan mengenai eksekusi massal, penyiksaan, dan pemerkosaan yang dilakukan oleh pejuang RSF.
Perang ini telah mengambil dimensi etnis yang mengerikan, terutama di Darfur. “Saya tidak bisa kembali,” kata seorang pengungsi kepada petugas bantuan. “Mereka akan tahu dari warna kulit saya dari suku mana saya berasal, dan mereka akan membunuh saya.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Wanita dan anak-anak adalah korban utama. PBB melaporkan bahwa para pelaku menggunakan kekerasan seksual secara sistematis “untuk menghukum, meneror, dan menghancurkan.”
“Kami melarikan diri dari el-Fasher dan itu sangat tragis,” kata Najwa, seorang pengungsi. “Mereka mengambil suami saya dan menyiksanya… Mereka membawanya dalam keadaan berlumuran darah, tidak sadarkan diri. Saya tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati.”
Tidak hanya itu, para pelaku juga menarik paksa anak-anak laki-laki ke dalam konflik. Laporan menyebutkan bahwa mereka mengirim truk-truk berisi anak-anak ke garis depan untuk mempersenjatai mereka.
Seruan Teroris dan Krisis Pendanaan
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, PM Kamil Idris mengecam RSF sebagai “milisi pemberontak dan tentara bayaran”. Ia menyebut kejahatan mereka “belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia.”
“Mengutuk saja tidak cukup,” tegas Idris. “Oleh karena itu, apa yang dibutuhkan sekarang adalah menetapkan kelompok ini sebagai milisi teroris karena bahayanya tidak hanya mengancam Sudan, tetapi juga stabilitas Afrika dan seluruh dunia.”
Meskipun RSF telah membantah beberapa tuduhan terburuk, video-video kekejaman beredar luas (termasuk pembebasan komandan Abu Lulu, yang mendapat tuduhan melakukan kekejaman). Hal ini memperkuat seruan PM Idris.
Namun, di tengah krisis ini, respons kemanusiaan global masih sangat kurang. Laporan PBB menyebutkan bahwa dari total dana yang dibutuhkan, baru sekitar seperempatnya yang pihak PBB terima.
“Pendanaan untuk perlindungan dan dukungan psikososial bagi perempuan dan anak-anak bukanlah pilihan. Ini adalah penyelamat nyawa,” tulis seorang pejabat bantuan. “Lagipula, setiap hari dunia memalingkan muka, lebih banyak nyawa hilang… Diam bukanlah netralitas. Diam memberikan cek kosong bagi horor untuk terus berlanjut.”
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















