JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah China menyepakati pembelian produk pertanian Amerika Serikat senilai minimal USD 17 miliar (sekitar Rp272 triliun) setiap tahun hingga 2028. Komitmen besar ini lahir setelah pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Beijing baru-baru ini.
Namun, dokumen resmi Gedung Putih sama sekali tidak menyebutkan nasib Taiwan. Padahal, Presiden Xi sebelumnya memperingatkan risiko konflik bersenjata jika kedua negara salah menangani isu pulau demokratis tersebut. Oleh karena itu, absennya pembahasan Taiwan mengindikasikan bahwa perbedaan pandangan yang mendalam masih membayangi hubungan kedua negara adidaya.
Kesepakatan Komersial Raksasa dan Ketahanan Pangan
Selain itu, maskapai penerbangan China juga menyetujui pembelian awal 200 unit pesawat Boeing buatan Amerika Serikat. Langkah komersial ini tentunya sangat membantu posisi politik Trump menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang. Selanjutnya, kementerian perdagangan kedua negara menyepakati pakta untuk menurunkan tarif secara setara guna mengatasi hambatan non-tarif.
Sebagai bagian dari kompromi, China juga berkomitmen mengimpor setidaknya 25 juta ton kedelai AS per tahun dari 2026 hingga 2028. Beijing juga akan bekerja sama dengan regulator AS untuk memulihkan seluruh suspensi fasilitas daging sapi. Selanjutnya, mereka akan melanjutkan impor unggas dari wilayah-wilayah Amerika Serikat yang bebas dari wabah flu burung.
Pembentukan Lembaga Baru dan Isu Mineral Kritis
Untuk memperkuat ekonomi, kedua negara sepakat membentuk dua lembaga baru, yaitu Board of Trade dan Board of Investment. Lembaga pertama bertugas mengelola perdagangan barang non-sensitif, sedangkan lembaga kedua memfasilitasi forum investasi antarpemerintah.
Di sisi lain, China berkomitmen mengatasi kelangkaan rantai pasok tanah jarang (rare earths). Mereka juga akan melonggarkan pembatasan ekspor teknologi pemrosesan mineral kritis tersebut. Langkah ini sangat krusial bagi industri manufaktur teknologi tinggi di Amerika Serikat.
Diplomasi Regional: Selat Hormuz dan Korea Utara
Mengenai stabilitas regional, Trump dan Xi menyepakati target bersama untuk denuklirisasi Semenanjung Korea. Meskipun demikian, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan posisi Beijing dalam masalah ini tetap konsisten dan stabil.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kedua pemimpin juga menolak pengenaan biaya tol di Selat Hormuz yang saat ini lumpuh akibat perang AS-Israel melawan Iran. Washington berharap Beijing bersedia menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran guna membantu mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Konsolidasi Aliansi di Asia Timur
Setelah KTT selesai, Trump segera melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, pada hari Minggu. Dalam kesempatan itu, Presiden Lee menyampaikan apresiasi mendalam atas diskusi konstruktif mengenai denuklirisasi tersebut. Trump pun berjanji untuk terus memainkan peran penting dalam menjaga perdamaian di Semenanjung Korea.
Singkatnya, pertemuan di Beijing ini membuka jalan bagi hubungan kemitraan strategis yang lebih stabil atas dasar keadilan. Dengan demikian, Trump berencana menyambut kunjungan Xi ke Washington pada musim gugur mendatang. Kedua negara juga akan saling mendukung sebagai tuan rumah KTT G20 dan APEC tahun ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












