JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda membaca jadwal acara televisi dan menemukan judul yang membuat dahi berkerut? “Jenazah Masuk Molen Pengaduk Semen” atau “Juragan Tahu Bulat Mati Tergoreng Dadakan”.
Judul-judul tersebut terdengar seperti lelucon. Namun, itu adalah tayangan nyata yang menghiasi layar kaca kita setiap hari. Sinetron religi bertema azab telah menjadi genre tersendiri yang mendominasi rating televisi Indonesia.
Banyak orang mencemoohnya sebagai tontonan yang tidak masuk akal. Akan tetapi, jutaan orang lainnya tetap setia menontonnya. Lantas, apa sebenarnya yang membuat tontonan absurd ini begitu memikat?
Formula Baku: Zoom In-Out dan Naga Terbang
Ciri khas sinetron ini sangat mudah kita kenali. Kamera bergerak dramatis dengan teknik zoom in dan zoom out yang cepat pada wajah karakter yang sedang terkejut.
Dialognya pun selalu hiperbolis. Karakter jahat akan berbicara dengan nada tinggi dan mata melotot. Sementara itu, karakter baik selalu menangis dan berdoa dengan lirih.
Selain itu, penggunaan efek visual (CGI) sederhana sering menjadi sorotan. Kita sering melihat petir menyambar, jenazah terpental, atau bahkan naga terbang dengan kualitas grafis seadanya. Justru, ketidaksempurnaan visual inilah yang membuatnya viral menjadi bahan meme di media sosial.
Candu “Karma Instan”
Di balik tawa dan cemoohan, sinetron azab sebenarnya memuaskan kebutuhan psikologis dasar manusia. Penonton mendapatkan kepuasan melihat “karma instan”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dunia nyata sering kali tidak adil. Koruptor bisa hidup mewah dan orang jahat sering lolos dari hukum. Sebaliknya, di dunia sinetron azab, keadilan tegak seketika.
Tuhan (melalui penulis naskah) menghukum pelaku kejahatan dengan cara yang brutal dan kontan. Seketika, penonton merasakan pelepasan emosi (catharsis). Mereka merasa puas melihat si jahat menderita, sebuah perasaan yang psikologi sebut sebagai Schadenfreude.
Moralitas Hitam-Putih Tanpa Abu-Abu
Sinetron ini juga menawarkan kesederhanaan moral. Karakter terbagi tegas menjadi dua kubu: Jahat Sempurna dan Baik Tertindas.
Si Jahat tidak punya sisi baik sedikit pun. Sedangkan Si Baik adalah malaikat tanpa dosa yang selalu sabar dizalimi. Oleh karena itu, penonton tidak perlu berpikir keras untuk menentukan siapa yang harus mereka dukung.
Struktur cerita yang sederhana ini memberikan kenyamanan kognitif. Otak kita tidak perlu memproses dilema moral yang rumit setelah lelah bekerja seharian.
Industri Kejar Tayang
Mengapa kualitas ceritanya sering kali absurd? Jawabannya terletak pada dapur produksi. Industri sinetron Indonesia bekerja dengan sistem kejar tayang atau stripping.
Kru produksi dan penulis naskah harus memproduksi satu episode penuh setiap hari. Akibatnya, mereka tidak punya waktu untuk riset mendalam atau mematangkan logika cerita.
Biaya produksi yang rendah juga membatasi kualitas eksekusi. Maka, kreativitas instan menjadi jalan keluar. Penulis harus mencari ide azab yang belum pernah ada sebelumnya, seaneh apa pun itu, demi menarik perhatian penonton di tengah persaingan ketat.
Keadilan Sederhana di Layar Kaca
Pada akhirnya, sinetron azab adalah cermin unik masyarakat kita. Ia mungkin absurd dan berlebihan. Namun, ia menawarkan sesuatu yang masyarakat rindukan: kepastian hukum Tuhan.
Sinetron ini menjadi guilty pleasure atau kesenangan terlarang. Kita menontonnya untuk menertawakan keanehannya, sekaligus diam-diam menikmati fantasi bahwa di suatu tempat, kejahatan pasti akan mendapat balasan yang setimpal.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















