CARACAS, POSNEWS.CO.ID – Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, kembali melontarkan kritik tajam kepada Washington. Dalam demonstrasi peringatan 166 tahun Pertempuran Santa Ines di Caracas, Rabu (10/12/2025), Maduro menuntut Amerika Serikat (AS) menghentikan kebijakan intervensinya.
Suara lantang Maduro menggema di hadapan ribuan pendukungnya. Ia menyerukan diakhirinya “intervensi ilegal dan brutal” yang menurutnya telah merusak stabilitas kawasan.
“Kami mengutuk kebijakan pergantian rezim, kudeta, dan invasi di seluruh dunia,” tegas Maduro.
Menariknya, Maduro juga menyampaikan apresiasi kepada warga Amerika Serikat. Ia berterima kasih atas aksi protes warga AS yang menolak potensi perang dengan Venezuela. Menurutnya, hal itu menunjukkan tumbuhnya opini publik yang menentang permusuhan militer Washington.
Sanksi Baru Bidik Keluarga Presiden
Ketegangan memanas sehari setelah pidato tersebut. Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru pada Kamis (11/12/2025). Kali ini, sanksi menyasar lingkaran terdekat Maduro.
Tiga keponakan istri Maduro dan seorang pengusaha yang berafiliasi dengan presiden masuk dalam daftar hitam. Selain itu, enam perusahaan pengiriman minyak juga terkena sanksi.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memberikan alasan keras. “Nicolas Maduro dan rekan-rekan kriminalnya membanjiri Amerika Serikat dengan narkoba yang meracuni rakyat Amerika,” tuduhnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penyitaan Tanker dan Dalih Narkoba
Eskalasi ini terjadi menyusul aksi militer AS di perairan Karibia. Pentagon baru saja menyita sebuah tanker minyak di dekat pantai Venezuela. Faktanya, AS telah mempertahankan kehadiran militer signifikan di kawasan tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Washington berdalih operasi tersebut bertujuan memerangi perdagangan narkoba. Sebaliknya, Caracas mengecamnya sebagai upaya terselubung untuk memaksakan pergantian rezim.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan niat AS untuk menyimpan minyak sitaan tersebut. Bahkan, ia memperingatkan bahwa pemerintahan Trump mungkin akan melakukan aksi serupa dalam beberapa minggu mendatang.
Leavitt menyebut kapal yang disita sebagai “kapal bayangan sanksi” (sanctioned shadow vessel). Kapal itu diduga membawa minyak pasar gelap untuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang juga terkena sanksi.
PBB Bunyikan Alarm Bahaya
Situasi yang kian genting membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) prihatin. Sekretaris Jenderal Antonio Guterres melalui wakil juru bicaranya, Farhan Haq, menyerukan de-eskalasi.
“PBB meminta semua aktor menahan diri dari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan bilateral,” ujar Haq.
Ia mendesak semua pihak untuk menghormati kewajiban di bawah Piagam PBB dan hukum internasional. Pasalnya, stabilitas Venezuela dan kawasan Amerika Latin kini berada di ujung tanduk akibat friksi geopolitik yang tak kunjung reda.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















