JAKARTA,POSNEWS.CO.ID – Pandemi telah usai dan panggung musik dunia kembali hidup. Ribuan orang memadati stadion untuk melihat idola mereka bernyanyi. Namun, di balik euforia itu, terdengar jeritan massal dari para penggemar.
Keluhan viral membanjiri media sosial setiap kali penjualan tiket dibuka. Pasalnya, harga tiket konser kini melonjak gila-gilaan. Niat hati ingin melepas rindu, penggemar justru harus merogoh kocek seharga satu unit sepeda motor bekas hanya untuk menonton pertunjukan dua jam.
Fenomena ini bukan kebetulan semata. Kita sedang menyaksikan pergeseran brutal dalam “Ekonomi Konser” (Gig Economy). Musik yang dulunya hiburan rakyat, kini perlahan berubah menjadi kemewahan eksklusif.
Jebakan Dynamic Pricing
Mengapa harga bisa naik setinggi langit? Penyebab utamanya adalah adopsi sistem Dynamic Pricing. Promotor musik meniru model bisnis maskapai penerbangan dan taksi online.
Saat permintaan tiket tinggi, algoritma secara otomatis menaikkan harga jual. Akibatnya, harga tiket yang tertera di awal bisa berubah drastis dalam hitungan detik saat antrean online membludak.
Selain itu, biaya produksi tur dunia juga membengkak. Harga kargo, peralatan panggung canggih, dan asuransi artis naik tajam pasca-inflasi global. Dominasi promotor raksasa yang memonopoli pasar turut memperparah keadaan karena minimnya kompetisi harga.
Perang Melawan Bot dan Calo
Masalah kian pelik karena kehadiran tamu tak diundang: para calo (scalpers). Mereka tidak lagi bekerja secara manual. Sebaliknya, mereka menggunakan pasukan bot canggih.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bot ini mampu memborong ribuan tiket hanya dalam hitungan milidetik setelah penjualan dibuka. Penggemar manusia yang menekan tombol refresh secara manual jelas kalah cepat.
Lantas, tiket di situs resmi habis seketika. Anehnya, tiket tersebut langsung muncul kembali di situs pihak ketiga dengan harga lima hingga sepuluh kali lipat. Lemahnya regulasi perlindungan konsumen membuat praktik “perampokan” digital ini tumbuh subur tanpa hambatan.
FOMO: Konser sebagai Status Sosial
Di sisi lain, kita tidak bisa mengabaikan faktor budaya. Konser telah mengalami pergeseran makna. Dulu, orang datang murni untuk menikmati musik.
Kini, konser menjadi ajang validasi status sosial. Budaya FOMO (Fear of Missing Out) memegang kendali. Orang merasa harus hadir di acara yang sedang hype agar bisa mengunggahnya di Instagram Story atau TikTok.
Oleh karena itu, banyak orang rela memaksakan diri secara finansial. Mereka membeli tiket mahal bukan karena cinta pada lagunya, melainkan demi pengakuan sosial di dunia maya.
Risiko Elitisme Musik
Pada akhirnya, tren ini membawa risiko besar. Kita sedang menuju era elitisme musik. Konser berpotensi menjadi hiburan yang hanya bisa dinikmati oleh orang kaya.
Penggemar sejati dari kalangan menengah ke bawah perlahan tersingkir dari arena. Padahal, musik seharusnya menjadi bahasa universal yang menyatukan, bukan tembok tebal yang memisahkan si kaya dan si miskin.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















