Dedolarisasi dan Kebangkitan Emas: Mencari Aset Aman di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

Rabu, 26 November 2025 - 05:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mata uang sebagai alat pemaksa. Teori Stabilitas Hegemonik menjelaskan cara Amerika Serikat menggunakan dominasi dolar untuk mengatur ketertiban dunia, sementara blok BRICS mulai membangun benteng finansial tandingan di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Mata uang sebagai alat pemaksa. Teori Stabilitas Hegemonik menjelaskan cara Amerika Serikat menggunakan dominasi dolar untuk mengatur ketertiban dunia, sementara blok BRICS mulai membangun benteng finansial tandingan di tahun 2026. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kilau emas belakangan ini semakin menyilaukan mata dunia. Grafik harga logam mulia ini terus merangkak naik tanpa henti. Bahkan, emas berkali-kali menembus rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH).

Investor global sedang panik mencari tempat berlindung. Namun, kenaikan harga ini bukan sekadar tren pasar biasa. Fenomena ini menandakan pergeseran besar dalam tatanan ekonomi dunia.

Emas kembali naik takhta sebagai aset paling aman (safe haven). Sebaliknya, dominasi Dolar Amerika Serikat (AS) mulai goyah. Kita sedang menyaksikan babak baru sejarah keuangan global yang penuh gejolak.

Aksi Borong Bank Sentral

Siapa pembeli terbesar di balik lonjakan harga ini? Jawabannya bukan investor ritel, melainkan bank sentral negara-negara adidaya. Terutama, China dan Rusia memimpin aksi borong ini.

Mereka menumpuk cadangan emas secara agresif dalam beberapa tahun terakhir. Tujuannya jelas, mereka ingin mengurangi ketergantungan pada Dolar AS. Langkah strategis ini populer dengan sebutan “dedolarisasi”.

Bank sentral menyadari risiko memegang terlalu banyak aset dalam bentuk Dolar. Pasalnya, AS sering menggunakan mata uangnya sebagai senjata politik melalui sanksi ekonomi. Oleh karena itu, emas menjadi alternatif netral yang tidak bisa dibekukan oleh siapa pun.

Baca Juga :  ABK Mengaku Tak Tahu Muatan Narkoba, Pigai: Hukuman Mati Tak Sejalan HAM

Geopolitik Memanas, BRICS Melawan

Ketegangan geopolitik turut mempercepat tren ini. Perang yang berkecamuk di berbagai belahan dunia membuat negara-negara cemas. Lantas, mereka mencari sistem pembayaran alternatif di luar kendali Barat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kelompok negara BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) gencar mempromosikan sistem baru seperti BRICS Pay. Nantinya, sistem ini memungkinkan perdagangan antarnegara tanpa perlu menyentuh Dolar AS sedikit pun.

Akibatnya, permintaan terhadap Dolar berpotensi menurun dalam jangka panjang. Negara-negara berkembang mulai berani mendiversifikasi cadangan devisa mereka ke dalam bentuk emas batangan fisik.

Hilangnya Kepercayaan pada Uang Kertas

Di sisi lain, faktor psikologis investor juga memegang peran kunci. Kepercayaan publik terhadap uang fiat atau uang kertas mulai luntur.

Baca Juga :  KPK OTT Depok, Ketua dan Wakil Ketua PN Depok Ditangkap, Uang Ratusan Juta Disita

Inflasi global menggerus nilai uang tunai di dompet kita setiap harinya. Selain itu, utang negara Amerika Serikat yang membengkak hingga puluhan triliun dolar memicu kekhawatiran serius. Investor takut AS akan mencetak uang gila-gilaan untuk membayar utang tersebut.

Jika itu terjadi, nilai Dolar akan anjlok. Maka, investor pintar memilih untuk mengamankan kekayaan mereka pada aset riil. Emas memiliki nilai intrinsik yang telah teruji selama ribuan tahun.

Kembalinya Sang Raja Aset

Pada akhirnya, emas membuktikan dirinya sebagai raja aset di masa krisis. Logam kuning ini tidak memiliki risiko gagal bayar (counterparty risk) seperti obligasi atau saham.

Ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja. Oleh sebab itu, memegang emas bukan lagi sekadar investasi, melainkan asuransi kekayaan.

Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi besok di panggung geopolitik. Akan tetapi, sejarah mengajarkan satu hal. Saat uang kertas terbakar oleh inflasi dan perang, emas akan tetap bersinar terang.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam
Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon
Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri
Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap
Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS
Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Naik Penyidikan, Polisi Periksa Green SM Besok
Essa Suleiman Didakwa Percobaan Pembunuhan, Inggris Siaga Tinggi
Tabrak Lari di Kalimalang, Pedagang Buah Terluka Parah – Polisi Buru Sopir Pajero Hitam

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:35 WIB

Imam Masjid di Palopo Bonyok Dikeroyok OTK Usai Tegur Bocah Main Mikrofon

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:21 WIB

Pembunuhan Bocah Aborigin Picu Kerusuhan Massa dan Aksi Main Hakim Sendiri

Minggu, 3 Mei 2026 - 15:20 WIB

Warung Sembako di Kalideres Ternyata Jual Obat Keras Ilegal, 2 Pengedar Ditangkap

Minggu, 3 Mei 2026 - 14:17 WIB

Raul Castro Pimpin Longmarch Hari Buruh di Tengah Blokade Minyak AS

Berita Terbaru

Menjaga stabilitas kawasan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengumumkan evolusi strategi Indo-Pasifik di Hanoi. Ia menjanjikan dukungan finansial besar untuk ketahanan energi dan keamanan maritim guna menghadapi agresivitas China. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Sanae Takaichi Perkuat Aliansi Energi dan Keamanan di Vietnam

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:24 WIB