ADDIS ABABA, POSNEWS.CO.ID – Konsistensi adalah mata uang paling berharga dalam diplomasi. Selama 36 tahun berturut-turut, China kembali membuktikan hal itu. Menteri Luar Negeri Wang Yi sekali lagi memilih Afrika sebagai tujuan kunjungan luar negeri pertamanya di awal tahun, sebuah tradisi yang menegaskan betapa dalam dan strategisnya hubungan Beijing dengan Benua Hitam.
Dari tanggal 7 hingga 12 Januari, Wang Yi akan mengunjungi Ethiopia, Somalia, Tanzania, dan Lesotho. Puncaknya, ia akan menghadiri peluncuran “Tahun Pertukaran Antar-Masyarakat China-Afrika” di markas besar Uni Afrika di Addis Ababa.
Momentum ini bukan kebetulan. Tahun 2026 menandai peringatan 70 tahun dimulainya hubungan diplomatik antara China dan negara-negara Afrika. Kunjungan Wang menjadi sinyal kuat bahwa pengembangan hubungan dengan Afrika tetap menjadi prioritas utama diplomasi China.
Hasil Nyata: Dari Rel Kereta hingga Bebas Tarif
Hubungan ini berjangkar pada hasil pragmatis, bukan sekadar retorika. Sejak berdirinya Forum Kerja Sama China-Afrika (FOCAC) pada tahun 2000, perusahaan China telah mengubah wajah infrastruktur Afrika. Mereka membantu membangun atau meningkatkan lebih dari 10.000 km jalur kereta api, hampir 100.000 km jalan raya, serta ratusan pelabuhan dan jembatan.
Secara ekonomi, ikatan kedua pihak kian tak terpisahkan. Data Januari hingga November 2025 menunjukkan volume perdagangan China-Afrika menembus angka $300 miliar untuk pertama kalinya. China mempertahankan posisinya sebagai mitra dagang terbesar Afrika selama 16 tahun berturut-turut.
Struktur perdagangan pun berevolusi. Kini, fokus bergeser dari komoditas tradisional menuju manufaktur, ekonomi digital, dan industri hijau. Sebagai bukti komitmen, mulai 1 Desember 2024, China memberikan perlakuan tarif nol persen untuk 100 persen lini tarif bagi negara-negara kurang berkembang yang memiliki hubungan diplomatik dengannya, termasuk 33 negara Afrika.
Kekuatan Global South di Panggung Dunia
China dan Afrika juga mempererat barisan dalam tata kelola global. Di tengah kebangkitan kolektif Global South, kedua pihak muncul sebagai kekuatan kunci reformasi sistem dunia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal ini terlihat jelas saat Afrika menjadi tuan rumah KTT G20 untuk pertama kalinya pada 2025. Dalam kesempatan itu, China dan Afrika Selatan meluncurkan inisiatif kerja sama modernisasi, mendukung negara-negara Afrika untuk menempuh jalur pembangunan yang sesuai dengan kondisi nasional mereka sendiri.
2026: Tahun Percepatan Koneksi Batin
Menatap tahun 2026, hubungan ini bersiap untuk ekspansi lebih luas. Wang Yi menekankan bahwa kedua belah pihak akan mempercepat implementasi hasil KTT Beijing FOCAC.
Paul Zilungisele Tembe, direktur pusat penelitian SELE Encounters di Afrika Selatan, menilai tahun 2026 lebih dari sekadar tonggak sejarah simbolis.
“Ini bukan hanya tahun peringatan 70 tahun hubungan diplomatik,” ujarnya. “Tetapi juga peluang krusial untuk memperdalam pertukaran antar-masyarakat. Aktivitas ini dapat memupuk resonansi spiritual dan saling pengertian. Hanya ketika orang saling mengenal lebih baik, kerja sama dapat menghasilkan tujuan yang benar-benar sama.”
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency





















