Menunggak Iuran dan Tarik Diri, AS Terancam Jadi Penonton Bisu

Jumat, 9 Januari 2026 - 16:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ketegangan baru di Selat Hormuz. Amerika Serikat meluncurkan serangan balasan ke Iran setelah penembakan jatuh helikopter Apache di tengah ancaman pecahnya aliansi AS-Israel. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Ketegangan baru di Selat Hormuz. Amerika Serikat meluncurkan serangan balasan ke Iran setelah penembakan jatuh helikopter Apache di tengah ancaman pecahnya aliansi AS-Israel. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Kursi Amerika Serikat di Majelis Umum PBB mungkin akan segera kehilangan suaranya. Pada hari Kamis, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB menyampaikan peringatan serius bahwa Washington berisiko kehilangan hak voting jika terus gagal memenuhi kewajiban finansialnya.

Peringatan ini bukan gertak sambal. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat belum membayar kontribusinya untuk tahun 2025. Terkait konsekuensinya, ia merujuk langsung pada aturan main organisasi tersebut.

“Piagam PBB dengan jelas menguraikan hukuman bagi negara yang tidak membayar iuran dalam waktu lama,” tegas Dujarric.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ancaman Pasal 19

Pasal 19 Piagam PBB adalah mimpi buruk bagi diplomasi negara mana pun. Aturan ini menetapkan bahwa negara anggota yang menunggak kontribusi keuangan akan kehilangan hak suaranya di Majelis Umum. Syaratnya, jumlah tunggakan sama dengan atau melebihi jumlah kontribusi dua tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Tiongkok Jatuhkan Larangan Perjalanan Bagi Anggota Parlemen

Meskipun Majelis Umum memiliki wewenang memberikan pengecualian jika kegagalan bayar terjadi di luar kendali negara anggota, situasi AS saat ini tampaknya merupakan pilihan politik yang sadar, bukan ketidakmampuan ekonomi.

Mundur Massal dari 66 Organisasi

Krisis finansial ini beriringan dengan manuver politik agresif dari Gedung Putih. Hanya sehari sebelumnya, Presiden Donald Trump menandatangani memorandum presiden yang mengejutkan. Ia memerintahkan penarikan AS dari 66 organisasi internasional sekaligus.

Daftar hitam tersebut mencakup 35 organisasi non-PBB dan 31 badan PBB yang Trump anggap “tidak lagi sejalan dengan kepentingan AS”. Sejak kembali menjabat tahun lalu, Trump telah menarik AS dari UNESCO, WHO, Dewan HAM PBB, serta menghentikan dana untuk badan pengungsi Palestina (UNRWA).

Media menggambarkan strategi pendanaan Washington kini semakin “selektif”. AS hanya mengucurkan dana untuk program yang mendukung agenda kebijakan administrasinya, mengabaikan kewajiban multilateral lainnya.

PBB: Iuran Itu Mengikat Secara Hukum

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres tidak tinggal diam. Ia menyatakan penyesalan mendalam atas keputusan AS menarik diri dari berbagai badan PBB.

Baca Juga :  Izin SMK IDN Bogor Dicabut Gubernur Dedi Mulyadi, Orang Tua Siswa Datangi KCD Pendidikan

Guterres menekankan aspek legalitas. Menurutnya, kontribusi yang ditetapkan untuk anggaran rutin PBB dan anggaran pemeliharaan perdamaian bersifat “mengikat secara hukum” (legally binding) bagi semua negara anggota, termasuk negara adidaya sekalipun.

“PBB tetap berkomitmen untuk memberikan layanan kepada mereka yang bergantung pada pekerjaannya,” ujar Guterres, menegaskan bahwa lembaganya akan terus menjalankan mandat meski tanpa dukungan Washington.

Eropa Kecam Sikap “Sembrono”

Langkah AS ini memicu gelombang kritik dari seberang Atlantik, khususnya terkait penarikan diri dari badan iklim seperti UNFCCC dan IPCC. Pemimpin Eropa menyebut perjanjian iklim global sebagai platform esensial yang tidak tergantikan.

Komisioner Iklim Uni Eropa, Wopke Hoekstra, menyebut keputusan AS sebagai hal yang “disayangkan”. Sementara itu, anggota parlemen Partai Hijau Belanda, Kathalijne Buitenweg, menggunakan bahasa yang lebih keras.

“Ini sembrono dan sangat berbahaya,” kecam Buitenweg. Ia memperingatkan bahwa berpaling dari sains saat gelombang panas dan banjir mengganas adalah pilihan politik yang memakan biaya nyawa dan ekonomi nyata.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk
Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant
Serangan Gunting di Covent Garden London Lukai 4 Orang
Prancis Melarang Panggilan Telemarketing Tanpa Izin Konsumen
Senat AS Konfirmasi Dr Erica Schwartz Sebagai Direktur CDC

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:01 WIB

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:51 WIB

Google Resmi Hentikan Layanan Google Assistant

Berita Terbaru

Respawn Entertainment resmi menghentikan operasional Apex Legends di Nintendo Switch generasi pertama mulai Season 30 demi memaksimalkan potensi Nintendo Switch 2. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Respawn Hentikan Dukungan Apex Legends di Nintendo

Sabtu, 8 Agu 2026 - 17:20 WIB