JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Bayangkan sebuah dunia di mana ilmu pengetahuan terkunci rapat di balik tembok tebal. Sebelum abad ke-15, buku adalah barang mewah yang sangat langka. Para biksu harus menyalin naskah dengan tangan di atas kulit hewan (vellum) selama bertahun-tahun.
Akibatnya, harga satu buku bisa setara dengan sebuah kebun atau rumah mewah. Hanya kaum elite bangsawan dan institusi gereja yang sanggup memilikinya.
Rakyat jelata hidup dalam kegelapan literasi. Mereka tidak memiliki akses terhadap informasi apa pun. Namun, seorang pandai emas dari Jerman bernama Johannes Gutenberg mengubah takdir peradaban tersebut selamanya pada tahun 1440.
Inovasi “Movable Type”
Gutenberg tidak sekadar menciptakan alat cetak. Justru, ia menyempurnakan teknologi revolusioner bernama movable type atau aksara gerak.
Ia membuat huruf-huruf individual dari logam timah yang tahan lama. Hebatnya, huruf-huruf ini bisa disusun ulang dengan cepat untuk membentuk halaman berbeda.
Inovasi ini memungkinkan produksi massal buku dengan kecepatan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Seketika, proses penyalinan yang memakan waktu berbulan-bulan kini bisa rampung dalam hitungan hari.
Ledakan Informasi Ala Internet
Dampak penemuan ini setara dengan ledakan internet di zaman modern. Biaya produksi buku anjlok drastis. Lantas, buku mulai membanjiri pasar dengan harga yang terjangkau bagi kelas menengah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Masyarakat awam yang dulunya buta huruf, kini mulai memiliki alasan untuk belajar membaca. Gelombang literasi menyapu Eropa tanpa terbendung. Gagasan, ilmu kedokteran, dan filsafat menyebar melintasi perbatasan negara dengan kecepatan kilat.
Informasi tidak lagi menjadi hak istimewa segelintir orang. Sebaliknya, pengetahuan menjadi milik publik. Gutenberg telah meletakkan batu pertama bagi masyarakat informasi.
Runtuhnya Monopoli Tafsir
Dampak politik dan agama dari mesin cetak ini sungguh dahsyat. Pasalnya, mesin ini menjadi senjata utama Martin Luther dalam memicu Reformasi Protestan.
Sebelumnya, Gereja Katolik memonopoli tafsir ayat suci karena Alkitab hanya tersedia dalam bahasa Latin dan tersimpan di altar. Akan tetapi, mesin cetak memperbanyak Alkitab terjemahan bahasa Jerman dan bahasa lokal lainnya.
Rakyat kini bisa membaca dan menafsirkan firman Tuhan sendiri di rumah. Akhirnya, 95 Tesis kritik Luther menyebar ke seluruh Jerman dalam dua minggu. Struktur kekuasaan lama yang absolut mulai goyah karena rakyat memiliki akses terhadap kebenaran alternatif.
Teknologi Pendobrak Kekuasaan
Pada akhirnya, kisah Gutenberg mengajarkan kita tentang kekuatan teknologi. Mesin cetak bukan sekadar alat mekanik. Ia adalah instrumen pembebasan.
Teknologi ini berhasil meruntuhkan tembok hierarki yang kaku. Tanpa Gutenberg, kita mungkin tidak akan pernah mengenal Renaisans, Revolusi Ilmiah, atau demokrasi modern. Ia membuktikan bahwa mendemokratisasi pengetahuan adalah langkah awal untuk mengubah dunia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















