Mesin Cetak Gutenberg: Internet Abad ke-15 yang Meruntuhkan Monopoli Informasi

Kamis, 4 Desember 2025 - 05:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Jauh sebelum internet, mesin cetak Gutenberg adalah

Ilustrasi, Jauh sebelum internet, mesin cetak Gutenberg adalah "disruptor" terbesar. Penemuan ini meruntuhkan monopoli gereja dan menyebarkan ilmu ke rakyat jelata. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Bayangkan sebuah dunia di mana ilmu pengetahuan terkunci rapat di balik tembok tebal. Sebelum abad ke-15, buku adalah barang mewah yang sangat langka. Para biksu harus menyalin naskah dengan tangan di atas kulit hewan (vellum) selama bertahun-tahun.

Akibatnya, harga satu buku bisa setara dengan sebuah kebun atau rumah mewah. Hanya kaum elite bangsawan dan institusi gereja yang sanggup memilikinya.

Rakyat jelata hidup dalam kegelapan literasi. Mereka tidak memiliki akses terhadap informasi apa pun. Namun, seorang pandai emas dari Jerman bernama Johannes Gutenberg mengubah takdir peradaban tersebut selamanya pada tahun 1440.

Inovasi “Movable Type”

Gutenberg tidak sekadar menciptakan alat cetak. Justru, ia menyempurnakan teknologi revolusioner bernama movable type atau aksara gerak.

Ia membuat huruf-huruf individual dari logam timah yang tahan lama. Hebatnya, huruf-huruf ini bisa disusun ulang dengan cepat untuk membentuk halaman berbeda.

Baca Juga :  Xi Jinping Telepon Lula: China dan Brasil Siap Jadi Kekuatan Konstruktif

Inovasi ini memungkinkan produksi massal buku dengan kecepatan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Seketika, proses penyalinan yang memakan waktu berbulan-bulan kini bisa rampung dalam hitungan hari.

Ledakan Informasi Ala Internet

Dampak penemuan ini setara dengan ledakan internet di zaman modern. Biaya produksi buku anjlok drastis. Lantas, buku mulai membanjiri pasar dengan harga yang terjangkau bagi kelas menengah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masyarakat awam yang dulunya buta huruf, kini mulai memiliki alasan untuk belajar membaca. Gelombang literasi menyapu Eropa tanpa terbendung. Gagasan, ilmu kedokteran, dan filsafat menyebar melintasi perbatasan negara dengan kecepatan kilat.

Informasi tidak lagi menjadi hak istimewa segelintir orang. Sebaliknya, pengetahuan menjadi milik publik. Gutenberg telah meletakkan batu pertama bagi masyarakat informasi.

Runtuhnya Monopoli Tafsir

Dampak politik dan agama dari mesin cetak ini sungguh dahsyat. Pasalnya, mesin ini menjadi senjata utama Martin Luther dalam memicu Reformasi Protestan.

Baca Juga :  Dari Panen Es di Danau hingga Mesin Kulkas Penyelamat

Sebelumnya, Gereja Katolik memonopoli tafsir ayat suci karena Alkitab hanya tersedia dalam bahasa Latin dan tersimpan di altar. Akan tetapi, mesin cetak memperbanyak Alkitab terjemahan bahasa Jerman dan bahasa lokal lainnya.

Rakyat kini bisa membaca dan menafsirkan firman Tuhan sendiri di rumah. Akhirnya, 95 Tesis kritik Luther menyebar ke seluruh Jerman dalam dua minggu. Struktur kekuasaan lama yang absolut mulai goyah karena rakyat memiliki akses terhadap kebenaran alternatif.

Teknologi Pendobrak Kekuasaan

Pada akhirnya, kisah Gutenberg mengajarkan kita tentang kekuatan teknologi. Mesin cetak bukan sekadar alat mekanik. Ia adalah instrumen pembebasan.

Teknologi ini berhasil meruntuhkan tembok hierarki yang kaku. Tanpa Gutenberg, kita mungkin tidak akan pernah mengenal Renaisans, Revolusi Ilmiah, atau demokrasi modern. Ia membuktikan bahwa mendemokratisasi pengetahuan adalah langkah awal untuk mengubah dunia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketua Mahendra Siregar dan Pejabat Tinggi Mundur Massal di Tengah Gejolak Pasar
Tabung Pink Berisi Gas N2O di Kamar Lula Lahfah, Polisi Ungkap Bahaya Euforia Mematikan
Polresta Malang Bongkar 31 Kasus Narkoba Januari 2026, 36 Tersangka Ditangkap
Basarnas Temukan 60 Bodypack Korban Longsor Cisarua, 20 Orang Masih Dicari
Rotasi Kapolda dan Pejabat Mabes Polri, Kapolri Tegaskan Profesionalisme
Rumah Siti Nurbaya Digeledah Kejagung, Fokus Kasus Korupsi Perkebunan Sawit
Bau Sampah Mengganggu, RDF Rorotan Dihentikan Sementara oleh Pemprov DKI
Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:23 WIB

Ketua Mahendra Siregar dan Pejabat Tinggi Mundur Massal di Tengah Gejolak Pasar

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:05 WIB

Tabung Pink Berisi Gas N2O di Kamar Lula Lahfah, Polisi Ungkap Bahaya Euforia Mematikan

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:50 WIB

Polresta Malang Bongkar 31 Kasus Narkoba Januari 2026, 36 Tersangka Ditangkap

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:06 WIB

Basarnas Temukan 60 Bodypack Korban Longsor Cisarua, 20 Orang Masih Dicari

Jumat, 30 Januari 2026 - 19:49 WIB

Rotasi Kapolda dan Pejabat Mabes Polri, Kapolri Tegaskan Profesionalisme

Berita Terbaru