NAIROBI, POSNEWS.CO.ID – Setiap musim hujan, gorila gunung di Afrika tengah melakukan ritual migrasi penting. Mereka turun ke lereng Pegunungan Virunga untuk berpesta pucuk bambu. Bagi 650 ekor gorila yang tersisa di alam liar, tanaman ini bukan sekadar camilan, melainkan sumber makanan vital.
Ian Redmond, ketua Ape Alliance, memperingatkan bahwa tanpa bambu, peluang bertahan hidup primata besar ini akan anjlok signifikan. Namun, gorila bukan satu-satunya yang bergantung pada tanaman ini. Penduduk lokal, dan bahkan ekonomi global, sangat membutuhkan “emas hijau” ini.
Sayangnya, dalam 100 tahun terakhir, tekanan populasi dan pembukaan lahan perkebunan komersial telah membabat habis hutan bambu. Tren ini terjadi di seluruh dunia, membahayakan manusia dan hewan yang bergantung padanya.
Ketidaktahuan Global yang Mengkhawatirkan
Meskipun bambu sangat penting, pengetahuan kita tentangnya ternyata sangat minim. Laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Jaringan Internasional untuk Bambu dan Rotan (INBAR) menyingkap fakta mengejutkan: dunia masih “buta” mengenai konservasi sumber daya bambu global.
Ada sekitar 1.200 varietas bambu berkayu yang kita kenal. Akan tetapi, hanya 38 spesies “prioritas” yang bernilai komersial yang pernah diteliti secara ilmiah. Dr. Valerie Kapos, salah satu penulis laporan, menyebut sains penilaian status konservasi tanaman ini masih “bayi” dibandingkan riset hewan.
Superplant: Tumbuh Semeter Sehari
Bambu adalah juara lari di dunia tanaman. Beberapa spesies bisa tumbuh lebih dari satu meter hanya dalam satu hari. Lebih dari itu, peran ekologisnya sangat krusial. Sistem akarnya (rizoma) menjalar di lapisan tanah atas, bertindak sebagai jaring alami pencegah erosi tanah.
Bahkan, bambu mengatur dinamika hutan dengan cara unik. Pola kematian massal bambu meninggalkan biomassa kering yang memicu kebakaran hutan alami. Ternyata, kebakaran ini menciptakan celah terbuka (gaps) di kanopi hutan yang justru penting bagi regenerasi spesies tanaman tertentu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tulang Punggung Ekonomi Rakyat
Nilai ekonomi bambu tak kalah fantastis. Secara global, perdagangan produk bambu lokal bernilai sekitar US$4,5 miliar per tahun. Di India, 25 persen kertas yang diproduksi berasal dari serat bambu.
Chris Stapleton dari Royal Botanic Gardens Inggris menyoroti peran sosialnya. “Bambu sering kali menjadi satu-satunya bahan baku yang tersedia bagi masyarakat di negara berkembang,” ujarnya. Tanpa perlu mesin mahal, warga bisa mengolahnya menjadi rumah atau kerajinan, menjadikannya alat ampuh pengentasan kemiskinan.
Paradoks: Invasif tapi Terancam?
Para pekebun di Barat mungkin bingung. Di taman mereka, bambu sering dianggap gulma invasif yang sulit mati. Lantas, bagaimana mungkin tanaman “bandel” ini terancam punah?
Ray Townsend, manajer arboretum di Royal Botanic Gardens, menjelaskan kesalahpahaman ini. Masalahnya bukan pada kekuatan tanaman itu sendiri—bambu sangat tangguh. Masalah utamanya adalah hilangnya habitat.
“Ketika hutan hilang dan dikonversi menjadi sesuatu yang lain, maka tidak ada lagi tempat bagi tanaman hutan seperti bambu untuk tumbuh,” jelas Townsend.
Laporan UNEP-INBAR ini diharapkan menjadi titik balik. Selama ini, dunia konservasi memandang bambu sebagai “warga kelas dua” di bawah pohon kayu keras. Kini, saatnya kita melindungi bambu liar demi gorila, lingkungan, dan masa depan ekonomi kita sendiri.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















