Pariwisata Jepang Melambat: Ketegangan Geopolitik

Selasa, 3 Februari 2026 - 19:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Melemah di tengah tantangan. Meski mencatat rekor kunjungan pada 2025, industri pariwisata Jepang kini menghadapi penurunan drastis wisatawan mancanegara akibat gesekan diplomatik dan masalah keamanan. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Melemah di tengah tantangan. Meski mencatat rekor kunjungan pada 2025, industri pariwisata Jepang kini menghadapi penurunan drastis wisatawan mancanegara akibat gesekan diplomatik dan masalah keamanan. Dok: Istimewa.

TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Industri pariwisata Jepang sedang menavigasi periode penyesuaian yang kompleks. Data terbaru mengungkapkan tren pendinginan dalam pengeluaran dan kedatangan wisatawan internasional.

Meskipun Jepang menyambut rekor 42,7 juta pengunjung pada tahun 2025, angka-angka terbaru menunjukkan pola perjalanan yang bergeser. Tantangan ekonomi yang muncul kini menguji ketahanan strategi pariwisata pemerintah di tengah ketidakpastian global.

Penurunan Kedatangan dan Pergeseran Tren

Momentum pemulihan kunjungan ke Jepang mengalami kendala signifikan. Menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO), kedatangan turis dari China daratan anjlok 45,3 persen pada Desember 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan ini membuat Japan Travel Bureau Foundation memprediksi penurunan 3 persen total kunjungan internasional untuk tahun 2026. Selama periode Tahun Baru Imlek, daya tarik Jepang sebagai destinasi utama tampak mendingin. Para pelancong kini lebih memilih pasar tetangga seperti Thailand dan Vietnam yang mengalami lonjakan popularitas.

Geopolitik dan Masalah Keamanan

Sektor pariwisata saat ini bergelut dengan gesekan geopolitik dan meningkatnya kekhawatiran keselamatan. Ketegangan diplomatik semakin memanas akibat pernyataan kontroversial Perdana Menteri Takaichi baru-baru ini.

Baca Juga :  Di Ambang Perang? Trump Tak Tutup Kemungkinan Serang Venezuela, Armada AS Siaga Penuh

Sentimen negatif pengunjung juga diperburuk oleh peringatan perjalanan dari kementerian luar negeri serta insiden kriminal di Tokyo. Kasus perampokan dengan kekerasan yang menargetkan warga asing di distrik Ueno pada akhir Januari lalu secara signifikan meredam antusiasme pengunjung untuk datang ke ibu kota.

Dampak pada Sektor Ritel dan Bisnis Lokal

Dampak pergeseran demografi ini paling nyata terlihat pada ritel mewah dan bisnis regional. Bloomberg melaporkan bahwa penjualan bebas bea di departemen store besar turun hingga 19 persen pada Januari. Akibatnya, enam operator departemen store terbesar di Jepang memangkas prakiraan laba rata-rata mereka sebesar 24 persen.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di kota bersejarah Matsumoto, Prefektur Nagano, bisnis lokal mulai merasakan dampaknya. “Absennya pengunjung dengan pengeluaran tinggi merupakan pukulan besar bagi industri barang antik,” ujar seorang pedagang lokal. Di sektor perhotelan, reservasi dilaporkan turun drastis karena wisatawan China, yang mencakup 30 persen pengunjung musim dingin, hampir menghilang dari jalanan dalam tiga bulan terakhir.

Baca Juga :  KPK Bongkar Jual-Beli Kuota Haji, Pelayanan Jamaah Terancam Terganggu

Tantangan Yen yang Lemah dan Target 2030

Para ahli menyebutkan bahwa kemerosotan saat ini menyoroti kerentanan Jepang terhadap fluktuasi diplomatik regional. Li Qingru, peneliti di Chinese Academy of Social Sciences, mencatat bahwa situasi ini menghadirkan “tantangan kelangsungan hidup yang luar biasa” bagi usaha kecil dan menengah (UKM).

Meski pelemahan mata uang Yen tetap menjadi daya tarik bagi pelancong global, analis UBS Securities memperingatkan potensi penurunan 4 persen total kedatangan internasional pada 2026. Terlepas dari hambatan ini, pemerintah Jepang tetap mempertahankan target 60 juta pengunjung pada tahun 2030. Fokus kini beralih pada peningkatan pengeluaran per kapita dan diversifikasi sumber wisatawan guna mengurangi ketergantungan pada pasar tunggal.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026
Polisi Gugur Saat Operasi Ketupat 2026, Diduga Kelelahan Ekstrem
Lonjakan Arus Balik 2026, Kedatangan Penumpang KAI Tembus 51 Ribu per Hari
Melindungi Plasma Nutfah dari Biopiracy Internasional di Tahun 2026
Arus Balik Lebaran 2026: Ribuan Motor Padati Pelabuhan Bakauheni, Antrean Mengular
Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam
Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?
Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 17:14 WIB

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026

Senin, 23 Maret 2026 - 16:57 WIB

Polisi Gugur Saat Operasi Ketupat 2026, Diduga Kelelahan Ekstrem

Senin, 23 Maret 2026 - 16:30 WIB

Lonjakan Arus Balik 2026, Kedatangan Penumpang KAI Tembus 51 Ribu per Hari

Senin, 23 Maret 2026 - 16:21 WIB

Melindungi Plasma Nutfah dari Biopiracy Internasional di Tahun 2026

Senin, 23 Maret 2026 - 16:14 WIB

Arus Balik Lebaran 2026: Ribuan Motor Padati Pelabuhan Bakauheni, Antrean Mengular

Berita Terbaru

Ilustrasi, Perebutan garis depan terakhir. Mencairnya es di Kutub Utara membuka jalur perdagangan baru dan akses energi yang memicu persaingan militer antara Rusia, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026

Senin, 23 Mar 2026 - 17:14 WIB