Hutan Seukuran Kroasia Hilang: Belajar dari Kehancuran

Selasa, 20 Januari 2026 - 06:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Lebih dari sekadar estetika. Dari katedral Gotik yang megah hingga hunian beton pasca-perang, sejarah arsitektur Inggris mencerminkan perubahan ideologi, status sosial, dan kebutuhan fungsional bangsa. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Lebih dari sekadar estetika. Dari katedral Gotik yang megah hingga hunian beton pasca-perang, sejarah arsitektur Inggris mencerminkan perubahan ideologi, status sosial, dan kebutuhan fungsional bangsa. Dok: Istimewa.

JAKARTA/BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Bayangkan sebuah negara seluas Kroasia lenyap dari peta setiap tahun. Itulah skala kehancuran hutan kita saat ini. Estimasi menunjukkan bahwa dunia kehilangan sekitar 5,2 juta hektare (52.000 km²) hutan setiap tahunnya.

Angka ini adalah angka bersih, artinya hutan yang hilang tersebut tidak tergantikan. Konsekuensinya bukan hanya soal statistik, melainkan soal nyawa. Jutaan orang kini hidup di bawah ancaman banjir dan tanah longsor akibat hilangnya “jaring” alami penahan air dan tanah ini.

Di Inggris dan Wales saja, 5 juta orang tinggal di daerah rawan banjir. Pemanasan global, yang diperparah oleh deforestasi, memicu curah hujan ekstrem. Tanpa pepohonan di sepanjang sungai untuk menahan tanah dan menyerap air, erosi tanah meningkat dan air hujan langsung membanjiri sungai, meningkatkan risiko bencana.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Atmosfer yang Terluka

Para ilmuwan sepakat tanpa keraguan: hutan adalah penjaga keseimbangan atmosfer. Deforestasi menyumbang 15% dari seluruh emisi gas rumah kaca global. Sepertiga dari emisi karbon dioksida akibat aktivitas manusia berasal dari penebangan hutan di seluruh dunia.

Baca Juga :  Akhir Drama Perbatasan: Thailand dan Kamboja Sepakati Gencatan Senjata Segera

Sejarah memberikan peringatan kelam. Penulis Jared Diamond, dalam bukunya Collapse, menyoroti nasib tragis penduduk asli Pulau Paskah. Ketika misionaris Eropa tiba pada 1722, populasi pulau itu hanya tersisa 2.000-3.000 orang. Padahal, dulunya pulau itu menghidupi 15.000 jiwa.

Penggalian arkeologi membuktikan bahwa pulau itu dulunya rimbun. Deforestasi tak terkendali memusnahkan sumber daya alam, bahan bangunan, dan sumber pangan, yang akhirnya meruntuhkan peradaban mereka.

Ironi Jepang dan Nasib Indonesia

Dunia sering memuji Jepang sebagai model manajemen hutan yang patut ditiru. Selama periode Edo (1603-1868), Jepang mengambil tindakan drastis untuk membalikkan masalah deforestasi eksploitatif melalui kerja sama desa dan edukasi ulang.

Hasilnya luar biasa. Menurut Bank Dunia, 68,5% wilayah daratan Jepang kini tertutup hutan, menjadikannya salah satu negara maju dengan performa lingkungan terbaik.

Namun, ada sisi gelap dari kesuksesan ini. Jepang masih memiliki permintaan tinggi akan produk kayu, dan mereka memenuhi kebutuhan itu dengan mengimpor dari negara-negara miskin.

Indonesia menjadi korban utama dari “alih daya” deforestasi ini. Permintaan asing, ditambah dengan manajemen domestik yang buruk dan korupsi lokal, telah membabat hutan hujan tropis nusantara. Tutupan hutan Indonesia merosot drastis dari 65,4% pada 1990 menjadi kurang dari 51% saat ini.

Baca Juga :  Rusia Hantam Ibu Kota Ukraina dengan Rudal Balistik

Tembok Hijau China

Di sisi lain, China menunjukkan upaya pemulihan yang masif. Pemerintah China memulai Three-North Shelter Forest Program pada tahun 1978. Misi utamanya adalah membangun “Tembok Hijau” sepanjang 2.800 mil (sekitar 4.500 km) yang ditargetkan selesai pada 2050.

Langkah ini sebenarnya terpaksa dilakukan karena alam mulai melawan balik. Ekspansi Gurun Gobi mengancam menghancurkan ribuan mil persegi padang rumput setiap tahun melalui proses penggurunan (desertification).

Upaya ini mulai membuahkan hasil. Lahan berhutan di China meningkat dari 17% menjadi 22% antara tahun 1990 hingga 2015. China menjadi salah satu dari sedikit negara berkembang yang berhasil membalikkan tren negatif deforestasi.

Kekuatan di Tangan Konsumen

Manajemen kehutanan berkelanjutan adalah kunci. Namun, konsumen juga memegang kendali. Perubahan sederhana dalam perilaku belanja bisa membuat perbedaan besar. Membeli produk daur ulang dan mencari logo FSC (Forest Stewardship Council) pada produk kayu atau kertas adalah langkah kecil untuk memastikan hutan tidak hilang demi memenuhi kebutuhan kita.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jaksa Agung Mutasi 90 Kajari, Jakarta Barat hingga Bekasi Berganti Pimpinan
Putusan MK Soal MBG: Anggaran Pendidikan Tidak Boleh Dikurangi Meski APBN Terbatas
Pegawai KPK Jadi Tersangka, Diduga Bocorkan Kasus Bupati Pemalang
Survei IDM: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 81,5 Persen, Penegakan Hukum Jadi Faktor Terkuat
Budaya Evaluasi Jadi Kunci Reformasi DPD RI
Kasus Narkoba White Rabbit, Bareskrim Limpahkan 3 Tersangka ke Kejaksaan
Menag Ajak Warga Ikut Doa Kebangsaan di Monas 1 Agustus 2026
KPK Sita Uang Rp2 Miliar dalam OTT Bupati Pemalang, 21 Orang Diamankan

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 09:00 WIB

Jaksa Agung Mutasi 90 Kajari, Jakarta Barat hingga Bekasi Berganti Pimpinan

Jumat, 31 Juli 2026 - 07:38 WIB

Putusan MK Soal MBG: Anggaran Pendidikan Tidak Boleh Dikurangi Meski APBN Terbatas

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:20 WIB

Pegawai KPK Jadi Tersangka, Diduga Bocorkan Kasus Bupati Pemalang

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:46 WIB

Survei IDM: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 81,5 Persen, Penegakan Hukum Jadi Faktor Terkuat

Kamis, 30 Juli 2026 - 09:01 WIB

Budaya Evaluasi Jadi Kunci Reformasi DPD RI

Berita Terbaru

Bencana dahsyat di barat daya Jepang. Gempa bumi bermagnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto, merenggut 14 nyawa warga dan memicu ledakan di pusat perbelanjaan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis

Jumat, 31 Jul 2026 - 09:30 WIB

Bocoran unik gawai Microsoft. Seorang pengguna internet mengaku menemukan dan menguji prototipe Surface Laptop Ultra bertenaga APU NVIDIA RTX Spark N1X. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Netizen Temukan Prototipe Surface Laptop Ultra di Pinggir Jalan

Jumat, 31 Jul 2026 - 09:16 WIB