WINA – Air mata bahagia sempat membasahi wajah Abdulhkeem Alshater di pusat kota Wina tahun lalu. Ribuan warga Suriah merayakan keajaiban yang mereka tunggu selama lima dekade: jatuhnya rezim brutal Bashar al-Assad.
Namun, euforia itu tidak bertahan lama. Realitas politik Eropa segera menampar mereka dengan keras. Jatuhnya rezim justru menjadi lampu hijau bagi negara-negara Barat untuk mengubah status mereka dari “pengungsi yang dilindungi” menjadi “pendatang yang harus pulang”.
Alshater, yang telah menghabiskan satu dekade membangun kembali hidupnya di Austria, kini hidup dalam kecemasan. Ia belajar bahasa Jerman, meningkatkan sertifikasi profesional, dan membesarkan keluarga dengan damai. Kini, semua itu terancam sirna.
Austria dan Jerman Memimpin Arus Balik
Pemerintah Austria mengambil langkah agresif. Mereka memerintahkan peninjauan ulang status suaka warga Suriah. Bahkan, Wina sedang mempersiapkan program “repatriasi dan deportasi teratur”.
“Ini mengkhawatirkan dan mengecewakan. Ini adalah pelanggaran kepercayaan, terutama bagi mereka yang sudah membangun kehidupan di sini,” ungkap Alshater, ketua Komunitas Suriah Bebas di Austria.
Di Jerman, rumah bagi diaspora Suriah terbesar di Eropa, situasinya tak kalah pelik. Kanselir Friedrich Merz menyatakan harapannya agar sebagian besar dari 1 juta warga Suriah di sana segera kembali ke tanah airnya.
“Sekarang tidak ada lagi alasan untuk suaka di Jerman. Oleh karena itu, kita bisa memulai repatriasi,” tegas Merz bulan lalu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun banyak pengusaha Jerman menolak rencana ini karena peran vital pekerja Suriah dalam mengatasi kekurangan tenaga kerja, retorika politik deportasi terus bergulir kencang.
Pulang ke Puing-Puing?
Anas Alakkad, pengungsi yang menjalankan startup di Jerman, menyebut ancaman deportasi kini mendominasi setiap percakapan komunitas. Akibatnya, banyak warga Suriah merasa frustrasi dan takut untuk melanjutkan integrasi sosial.
“Mereka takut akan dideportasi. Lantas, mereka bertanya-tanya apakah masih layak belajar bahasa atau memulai bisnis,” ujar Alakkad.
Dilema terbesar terletak pada kondisi Suriah itu sendiri. Ahed Festuk, aktivis Suriah di AS, menyebut perasaan ini sangat pahit (bittersweet). “Benar kami mendapatkan rumah kami kembali, tapi kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa rumah kami telah hancur total,” katanya.
Laporan Bank Dunia memperkirakan biaya rekonstruksi Suriah mencapai lebih dari US$200 miliar. Infrastruktur dasar seperti listrik dan air bersih masih sangat minim. Parahnya lagi, kekerasan sporadis masih kerap terjadi.
Memaksa Pulang Terlalu Dini
Data PBB menunjukkan bahwa 80 persen pengungsi memang berharap untuk pulang suatu hari nanti. Sekitar 500.000 orang bahkan telah kembali dari Turki tahun lalu secara sukarela.
Akan tetapi, para ahli memperingatkan bahaya pemulangan paksa yang prematur. Ryyan Alshebl, Wali Kota Ostelsheim di Jerman yang juga mantan pengungsi Suriah, menawarkan solusi jalan tengah.
Ia mendesak pemerintah untuk membiarkan mereka yang sudah terintegrasi dan bekerja untuk tetap tinggal. Sebaliknya, deportasi bisa menyasar minoritas yang terus bergantung pada bantuan negara.
“Jerman membutuhkan orang-orang ini. Ini bukan tindakan kemurahan hati, tapi kebutuhan ekonomi,” tegas Alshebl.
Pada akhirnya, nasib jutaan nyawa kini bergantung pada kebijakan politik negara tuan rumah. Apakah Eropa akan menghargai kontribusi mereka, atau mengusir mereka kembali ke negeri yang masih tertatih-tatih bangkit dari abu perang?
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: The Guardian





















