ROCHESTER, POSNEWS.CO.ID – Menyalin adalah mesin peradaban. Budaya adalah perilaku yang terduplikasi. Sejak bangsa Sumeria memindahkan kata-kata lisan ke lempengan tanah liat 5.000 tahun lalu, manusia terus mencari cara untuk mengabadikan ide. Namun, hingga pertengahan abad ke-20, menyalin dokumen adalah pekerjaan yang menyiksa.
Sebelum revolusi terjadi, kantor-kantor bergantung pada teknologi yang rumit. James Watt, penemu mesin uap, menciptakan alat pres penyalin pada 1780, tetapi harganya selangit. Kemudian, pada 1950-an, mesin seperti Thermo-Fax muncul.
Sayangnya, mesin-mesin awal ini memiliki kelemahan fatal: mereka membutuhkan kertas kimia khusus yang mahal, berbau busuk, sulit dibaca, dan cenderung melengkung. Dunia perkantoran putus asa menunggu solusi yang lebih baik.
“Ketidaktahuan yang Antusias” dari Para Raksasa
Solusi itu datang dari sosok yang tak terduga: Chester Carlson. Lahir di Seattle pada 1906, Carlson tumbuh dalam kemiskinan yang nyaris tak terkatakan. Sebagai pengacara paten yang pemalu, ia menemukan metode xerography (berasal dari bahasa Yunani yang berarti “tulisan kering”) dalam kesendirian pada tahun 1937.
Carlson menawarkan penemuannya ke lebih dari 20 perusahaan besar, termasuk IBM, General Electric, Eastman Kodak, dan RCA. Hasilnya tragis. Semua menolaknya. Mereka menunjukkan apa yang Carlson sebut sebagai “ketidaktahuan yang antusias” (enthusiastic lack of interest).
Para fisikawan yang mengunjungi gudang berangin tempat mesin pertama dibuat bahkan meragukan bahwa ide Carlson layak secara teoretis. Bagi mereka, menyalin dokumen ke kertas biasa tanpa bahan kimia basah terdengar mustahil.
Keberanian Haloid dan Lahirnya Xerox 914
Nasib berubah ketika sebuah perusahaan perlengkapan fotografi kecil bernama Haloid Company (kini Xerox Corporation) mengambil risiko tersebut. Pada 1959, mereka meluncurkan Haloid Xerox 914.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mesin ini berbeda dari segalanya. Ia menghasilkan salinan tajam dan permanen di atas kertas biasa. Seketika itu juga, penemuan ini meledak di pasaran. Orang-orang mulai membuat salinan dengan kecepatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Majalah Fortune kemudian menobatkan mesin ini sebagai “produk paling sukses yang pernah dipasarkan di Amerika.” Faktanya, teknologi ini menjadi dasar bagi printer laser modern. Tahun ini saja, dunia akan memproduksi lebih dari tiga triliun salinan xerografik dan halaman cetak laser.
Miliarder yang Hidup Seperti Buruh Pabrik
Xerografi akhirnya membuat Carlson menjadi orang yang sangat kaya. Royaltinya mengalir deras dari setiap lembar kertas yang mesin Xerox muntahkan di seluruh dunia. Meskipun demikian, gaya hidupnya tetap sederhana.
Ia tidak pernah memiliki rumah kedua atau mobil mewah. Istrinya bahkan harus mendesaknya agar tidak membeli tiket kereta kelas tiga saat bepergian di Eropa. Uniknya, kenalan barunya sering mengira ia adalah buruh pabrik dan bertanya apakah ia anggota serikat pekerja.
“Barang-barangnya tampaknya terdiri dari sejumlah hal yang bisa dengan mudah ia tinggalkan,” kenang istri keduanya. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Carlson diam-diam menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk amal. Saat ia meninggal pada 1968, Sekretaris Jenderal PBB turut memberikan penghormatan terakhir bagi pria yang mengubah cara dunia bekerja.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















