MOSKOW, POSNEWS.CO.ID β Rusia menyatakan kesiapannya untuk membuka dialog keamanan, namun tetap akan melawan setiap ancaman baru secara tegas. Pernyataan ini muncul setelah berakhirnya perjanjian kontrol senjata nuklir terakhir dengan Amerika Serikat pada pekan ini.
Masa berlaku Perjanjian New START resmi berakhir pada tengah malam, Kamis (5/2). Peristiwa ini menandai berakhirnya pembatasan hulu ledak dan rudal strategis kedua belah pihak setelah lebih dari setengah abad. Moskow menyayangkan sikap Amerika Serikat yang tidak menanggapi usulan Presiden Vladimir Putin untuk mempertahankan batas tersebut selama 12 bulan tambahan guna memberikan ruang bagi negosiasi lebih lanjut.
Kekecewaan Rusia dan Kesiapan Militer
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan kekecewaannya melalui pernyataan resmi yang menyebut bahwa Amerika Serikat sengaja mengabaikan usulan mereka. “Pihak kami menyayangkan pendekatan (AS) ini yang tampak keliru,” tulis kementerian tersebut.
Meskipun melontarkan kritik keras, Rusia tetap menunjukkan sikap yang seimbang antara ketegasan dan menahan diri. Moskow tetap siap mengambil langkah militer-teknis yang menentukan jika muncul ancaman tambahan terhadap keamanan nasional. Namun, di sisi lain, Rusia menyatakan tetap terbuka untuk menjajaki jalur politik dan diplomatik guna menstabilkan situasi strategis, asalkan dialog tersebut berlandaskan kesetaraan dan saling menguntungkan.
Peringatan dari Vatikan dan PBB
Menjelang berakhirnya perjanjian, tokoh-tokoh dunia menyerukan agar kedua negara tidak meninggalkan kendali nuklir. Paus Leo XIV, paus pertama kelahiran AS, meluncurkan imbauan mendesak agar kedua negara tidak membiarkan instrumen ini kedaluwarsa. “Sangat mendesak bagi kita untuk mengganti logika ketakutan dan ketidakpercayaan dengan etika bersama yang mampu mengarahkan pilihan demi kebaikan bersama,” ujar Paus dalam audiensi mingguannya di Vatikan.
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal PBB AntΓ³nio Guterres menyebut berakhirnya New START sebagai momen yang sangat buruk bagi perdamaian dan keamanan internasional. Ia mendesak Rusia dan Amerika Serikat untuk segera merundingkan kerangka kerja kontrol senjata nuklir yang baru. Guterres menekankan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, dunia menghadapi situasi tanpa batas yang mengikat bagi dua negara yang menguasai mayoritas besar cadangan nuklir global.
Risiko Penggandaan Arsenal Nuklir
Para ahli nuklir memperingatkan dampak teknis yang sangat besar dari berakhirnya pakta ini. Matt Korda, direktur dari Federation of American Scientists, menjelaskan bahwa tanpa perjanjian, Rusia maupun AS kini bebas menambah jumlah hulu ledak tanpa hambatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam skenario maksimal, masing-masing pihak dapat memasang ratusan hulu ledak tambahan pada rudal dan pesawat pengebom berat mereka. Hal ini berisiko menggandakan ukuran arsenal yang mereka kerahkan saat ini. Sementara itu, Presiden Donald Trump menyatakan dirinya tidak khawatir dengan berakhirnya perjanjian tersebut. Gedung Putih menyatakan bahwa Trump akan memutuskan langkah selanjutnya terkait kontrol senjata nuklir sesuai dengan lini masa dan pertimbangannya sendiri.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















