Petisi di Media Sosial: Sekadar Ilusi atau Kekuatan Nyata?

Kamis, 20 November 2025 - 11:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Petisi online dan tagar membanjiri lini masa. Namun, benarkah satu klik bisa mengubah kebijakan atau hanya memuaskan ego semata? Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Petisi online dan tagar membanjiri lini masa. Namun, benarkah satu klik bisa mengubah kebijakan atau hanya memuaskan ego semata? Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Lini masa kita tak pernah sepi dari ajakan moral. “Tanda tangani petisi ini!”, “Bagikan ke story jika Anda peduli!”, atau “Ketik Amin untuk mendukung!”. Kalimat-kalimat ini muncul setiap hari di layar ponsel.

Aktivisme sosial telah mengalami evolusi drastis. Dulu, orang harus turun ke jalan dan berpanas-panasan untuk menyuarakan pendapat. Kini, mereka cukup menggerakkan ibu jari di atas layar kaca. Fenomena ini kita kenal sebagai “aktivisme jari” atau clicktivism.

Perubahan metode ini menawarkan kemudahan luar biasa. Namun, pertanyaan besar pun muncul di benak kita. Apakah partisipasi digital ini benar-benar membawa perubahan? Atau jangan-jangan, hal ini hanya sekadar ilusi kepedulian?

Jebakan Citra dan Kemalasan Terselubung

Kemudahan teknologi sering kali memicu kritik tajam. Pertama, muncul fenomena performative allyship. Banyak orang mendukung isu sosial hanya demi memoles citra diri.

Mereka mengunggah kotak hitam atau tagar populer agar terlihat peduli. Padahal, mereka sama sekali tidak memahami substansi masalah yang sedang terjadi. Dukungan mereka berhenti tepat setelah mereka menekan tombol “post”.

Baca Juga :  Wanita di Penjaringan Dianiaya Mantan Suami di RS Duta Indah, Bibir Lebam dan Gigi Patah

Selanjutnya, kita mengenal istilah slacktivism atau aktivisme malas. Seseorang merasa sudah menjadi pahlawan besar hanya dengan menandatangani satu petisi online. Akibatnya, mereka merasa tidak perlu lagi melakukan kontribusi nyata lainnya.

Ego mereka terpuaskan oleh validasi digital tersebut. Sayangnya, masalah di lapangan tetap utuh dan tak tersentuh. Ilusi kontribusi ini justru berbahaya karena mematikan semangat aksi langsung.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kecepatan Informasi dan Kekuatan Uang

Kendati demikian, kita tidak boleh bersikap sinis sepenuhnya. Aktivisme jari memiliki sisi terang yang tak terbantahkan. Kecepatan penyebaran informasi menjadi senjata utamanya.

Kabar tentang ketidakadilan bisa menyebar ke seluruh penjuru dunia dalam hitungan detik. Bahkan, media sosial terbukti sangat efektif untuk crowdfunding atau penggalangan dana.

Kita sering melihat biaya pengobatan warga kurang mampu terpenuhi dalam semalam. Kekuatan viral mampu menggerakkan ribuan dompet orang baik. Tanpa perantara digital, bantuan semacam ini mungkin akan datang terlambat.

Antara Kasus Viral dan Isu yang Menguap

Bukti keberhasilan aktivisme digital pun cukup nyata, terutama dalam ranah hukum. Polisi sering kali membuka kembali penyelidikan kasus yang mandek setelah netizen “mengamuk” di Twitter/X.

Baca Juga :  Menlu China Wang Yi Mulai Tur Afrika, 70 Tahun Persahabatan

Tekanan publik secara masif memaksa aparat untuk bekerja lebih profesional dan transparan. Tagar “No Viral No Justice” seolah menjadi mantra baru dalam penegakan hukum kita.

Sebaliknya, nasib berbeda dialami oleh isu-isu yang kurang “seksi” secara visual. Banyak tragedi kemanusiaan menguap begitu saja. Isu-isu ini tenggelam segera setelah tren topik baru muncul. Akhirnya, para korban tetap menderita dalam sunyi setelah keramaian digital mereda.

Mengubah Viralitas Menjadi Aksi

Pada akhirnya, teknologi hanyalah sebuah alat bantu. Sebuah petisi online dengan satu juta tanda tangan tidak akan mengubah undang-undang secara otomatis.

Oleh karena itu, tantangan terbesar generasi ini adalah konversi. Kita harus mampu mengubah viralitas digital menjadi aksi nyata di lapangan. Jangan biarkan perjuangan berhenti di ujung jari saja.

Jadilah aktivis yang cerdas. Gunakan media sosial untuk membangun kesadaran. Lalu, lanjutkan langkah itu dengan donasi, edukasi, atau advokasi di dunia nyata.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional
Pemerintah Terima 100 Ton Kurma Premium dari Arab Saudi untuk Ramadan 2026
Warga Sunter Agung Temukan Mayat Pria di Gorong-gorong, Polisi Evakuasi Korban
Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?
Penyerangan KKB di PT Freeport Mimika, 1 TNI Gugur dan 1 Warga Sipil Luka
Truk Tabrak 6 Mobil di Underpass Ciawi, Tol Jagorawi Sempat Ditutup
TransJabodetabek B51 Cawang–Cikarang: Solusi Kemacetan Jakarta Timur dan Cikarang
Richard Lee Dicekal Polda Metro Jaya, Penyidikan Kasus Produk Kecantikan Berlanjut

Berita Terkait

Rabu, 11 Februari 2026 - 21:02 WIB

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:55 WIB

Pemerintah Terima 100 Ton Kurma Premium dari Arab Saudi untuk Ramadan 2026

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:36 WIB

Warga Sunter Agung Temukan Mayat Pria di Gorong-gorong, Polisi Evakuasi Korban

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:34 WIB

Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?

Rabu, 11 Februari 2026 - 20:14 WIB

Penyerangan KKB di PT Freeport Mimika, 1 TNI Gugur dan 1 Warga Sipil Luka

Berita Terbaru

Semua orang menyukai nasi goreng. (Posnews/Ist)

KESEHATAN

Superfood Lokal: Nutrisi Mewah dalam Pangan Tradisional

Rabu, 11 Feb 2026 - 21:02 WIB

Ilustrasi, Meretas batasan biologis. Di tahun 2026, biohacking bukan lagi milik ilmuwan laboratorium, melainkan gaya hidup berbasis data yang diadopsi masyarakat urban untuk mengejar performa puncak dan umur panjang. Dok: Istimewa.

KESEHATAN

Rahasia Umur Panjang: Mengapa Biohacking Menjadi Tren?

Rabu, 11 Feb 2026 - 20:34 WIB