POSNEWS.CO.ID, NEW YORK – Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan pidato perdana pada Majelis Umum PBB di New York.
Dukungan Hukum Internasional dan Respons Pertahanan Jepang
Takaichi menegaskan komitmen kuat Jepang terhadap penegakan hukum internasional dan Mahkamah Pidana Internasional.
Ia menolak kritik keras China mengenai program peningkatan anggaran pertahanan militer Jepang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Takaichi menegaskan status Jepang sebagai negara pencinta damai yang mengutamakan pertahanan diri.
Ia juga menghindari kritik langsung terhadap sanksi AS atas Presiden ICC Tomoko Akane.
Sikap Geopolitik dan Tuntutan Reformasi Dewan Keamanan PBB
Takaichi menilai era stabilitas Pasca-Perang Dingin telah berakhir sepenuhnya pada saat ini.
Ia mengecam keras agresi militer Rusia terhadap Ukraina sebagai tindakan destruktif.
Takaichi menuntut denuklirisasi Korea Utara demi menjaga perdamaian kawasan Asia Timur.
Ia juga mendesak PBB segera mereformasi struktur keanggotaan Dewan Keamanan secara menyeluruh.
Takaichi meminta perluasan anggota tetap dan tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
Ketahanan Energi, Inovasi AI, dan Diplomasi Bilateral
Jepang menyiapkan rencana kerja sama energi untuk memperkuat ketahanan negara-negara Teluk.
Takaichi merespons gangguan jalur pelayaran Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah.
Ia mengumumkan rencana penyelenggaraan KTT Kecerdasan Buatan di Jepang dalam waktu dekat.
Takaichi meyakini penanganan perubahan iklim dapat berjalan berdampingan dengan pertumbuhan ekonomi.
Selama kunjungan Takaichi menggelar pertemuan bilateral bersama Donald Trump dan Volodymyr Zelenskyy.
Ia juga bertemu dengan PM Inggris Andy Burnham serta PM Australia Anthony Albanese.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













