JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Polda Metro Jaya mengerahkan 2.939 personel untuk menjalankan Operasi Zebra Jaya 2025 yang berlangsung selama 14 hari hingga 30 November.
Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Komarudin menegaskan operasi ini tidak hanya menjadi bagian dari cipta kondisi jelang Operasi Lilin dan libur Nataru, tetapi juga menjadi respons keras terhadap lonjakan pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas di Jakarta.
Komarudin mengungkapkan fakta mengejutkan. Hingga Oktober 2025, lebih dari 500 ribu pelanggaran lalu lintas tercatat di wilayah Polda Metro Jaya. Lonjakan itu memicu lebih dari 11 ribu kecelakaan, dengan 600 orang lebih meninggal dunia.
Jasa Raharja bahkan telah menggelontorkan lebih dari Rp 100 miliar untuk santunan korban kecelakaan sepanjang Januari–Oktober 2025.
“Ini kondisi yang sangat memprihatinkan,” tegas Komarudin.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk menekan angka pelanggaran, Polda Metro Jaya, POM TNI, Dishub, dan sejumlah instansi lain menerjunkan 2.939 personel.
Tahun ini, Operasi Zebra Jaya meninggalkan pola razia stasioner dan beralih penuh ke metode hunting system. Petugas gabungan akan melakukan penyisiran aktif di titik-titik rawan pelanggaran.
Komarudin menilai metode ini lebih efektif karena langsung menyasar pelanggar di lapangan.
Selain itu, penindakan akan mengandalkan ETLE statis dan ETLE mobile. Kamera ETLE mobile mampu menangkap pelanggaran dari dua sisi, depan dan belakang, sehingga menyulitkan motor tanpa TNKB atau yang sengaja mencopot plat nomor untuk menghindari tilang elektronik.
11 Target Operasi Zebra Jaya 2025
Operasi ini memburu sedikitnya 11 jenis pelanggaran, antara lain:
- Tidak memakai helm
- Pengendara di bawah umur
- Melawan arus
- Kecepatan berlebih
- Pengaruh alkohol
- Balap liar
- TNKB palsu
- Plat diplomatik atau TNI-Polri yang disalahgunakan
- Motor tanpa TNKB
- Pelanggaran marka dan lampu lalu lintas
- Overload–overdimension
Skema 40-40-20: Edukasi, Pencegahan, dan Penindakan
Dalam pola operasi, 40% kegiatan diarahkan pada tindakan preemtif berupa sosialisasi dan imbauan. 40% lainnya fokus pada preventif dengan penebalan personel di lapangan. Sementara itu, 20% sisanya berupa penegakan hukum.
“Harapan kita, kepatuhan masyarakat meningkat. Pelanggaran turun, kecelakaan ikut menurun,” ujar Komarudin.
Operasi Zebra Jaya 2025 pun diharapkan mampu menghentikan tren pelanggaran brutal yang selama ini menelan banyak korban di Jakarta. (red)





















