Produk Teknologi Salatiga Mendunia, Suku Cadangnya Jadi Tren di Filipina

Jumat, 19 Juni 2026 - 13:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dtech Engineering Pasok Komponen PT INKA dan Dorong Inovasi Manufaktur Nasional. (Posnews/Ist)

Dtech Engineering Pasok Komponen PT INKA dan Dorong Inovasi Manufaktur Nasional. (Posnews/Ist)

SALATIGA, POSNEWS.CO.ID – Inovasi teknologi tidak selalu lahir dari kampus ternama atau laboratorium besar.

Di Salatiga, Jawa Tengah, perusahaan manufaktur teknologi Dtech Engineering membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari keterbatasan.

Perusahaan yang berdiri sejak 2009 itu kini dikenal sebagai produsen mesin Computer Numerical Control (CNC), teknologi utama yang menopang industri manufaktur modern.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Direktur Utama PT Dtech Inovasi Indonesia, Fajar Budi Laksono, mengatakan mesin CNC berperan penting dalam produksi berbagai komponen presisi, mulai dari suku cadang kendaraan hingga peralatan industri.

“Sebagian besar produk manufaktur menggunakan mesin CNC dalam proses produksinya. Karena itu, kami menyebut CNC sebagai mother of machine,” kata Fajar.

Berawal dari Laptop Bekas dan Internet Gratis

Pendiri Dtech Engineering, Arfian Fuadi, memulai usaha bersama adiknya dari jasa desain keteknikan untuk klien luar negeri.

Karena keterbatasan modal, Arfian mencari pelanggan menggunakan laptop hasil reparasi dan memanfaatkan jaringan internet gratis di sekitar Kantor Pos Salatiga saat masih bekerja sebagai penjaga malam.

Baca Juga :  Kemendag Ajak UMKM Jatim Tembus Pasar Global Lewat Trade Expo Indonesia 2026

Berkat kemampuan desain teknik, Dtech Engineering kemudian mengerjakan berbagai proyek internasional, termasuk desain pesawat ultraringan untuk pertanian di Amerika Serikat serta pesawat listrik untuk ekspedisi Kutub Utara.

Tak hanya itu, perusahaan tersebut juga memenangkan sejumlah kompetisi desain komponen pesawat tingkat internasional.

“Kami hanya ingin membuktikan kemampuan insinyur Indonesia. Hasilnya, kami meraih juara pertama dengan desain yang 84 persen lebih ringan dibanding desain konvensional,” ujarnya.

Kembangkan Mesin CNC untuk UMKM

Titik balik perusahaan terjadi pada 2018 setelah tim Dtech mempelajari rendahnya indeks inovasi Indonesia dibanding beberapa negara tetangga.

Mereka menemukan bahwa negara dengan tingkat inovasi tinggi umumnya memiliki kapasitas manufaktur kuat dan jumlah mesin CNC yang besar.

Berangkat dari temuan itu, Dtech Engineering mengembangkan mesin CNC berbiaya lebih terjangkau untuk UMKM, sekolah vokasi, dan perguruan tinggi.

Berbeda dengan mesin impor yang bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah, mesin buatan Salatiga dirancang lebih ekonomis, menggunakan listrik rumah tangga, mudah dirawat, dan dilengkapi sistem berbahasa Indonesia.

Baca Juga :  Cuaca Jakarta Hari Ini, Selasa 3 Februari - Hujan Berpotensi Lebat di Jabodetabek

“Kami ingin teknologi benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia,” kata Fajar.

Produk Lokal Jadi Tren di Filipina

Selanjutnya, Dtech membangun ekosistem pendidikan teknologi melalui Akademi Inovasi Indonesia yang memberikan pelatihan gratis kepada generasi muda.

Program tersebut melahirkan berbagai produk komersial, termasuk suku cadang sepeda motor melalui merek Arumi Motoparts.

Menariknya, produk-produk tersebut ikut mendorong tren modifikasi motor di Filipina.

“Bahkan muncul tagar Indo Concept. Banyak pengguna motor di Filipina memakai produk asal Indonesia, termasuk produk kami,” ungkap Fajar.

Selain memproduksi jutaan suku cadang motor setiap tahun, Dtech juga memasok komponen kursi kereta api untuk PT INKA yang digunakan pada rangkaian kereta premium nasional.

Dorong Teknologi Buatan Indonesia Mendunia

Di tengah pertumbuhan bisnisnya, Dtech Engineering terus memperkuat perlindungan hak kekayaan intelektual melalui pengajuan paten, merek, dan desain industri.

Perusahaan juga memanfaatkan berbagai program pemerintah, seperti sertifikasi TKDN, SNI, hingga pameran industri internasional di Jerman.

“Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan teknologi dan produk manufaktur berdaya saing global,” tegas Fajar. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Produk Kosmetik Indonesia Laris di Filipina, Potensi Transaksi Tembus Rp26,35 Miliar
Harga Patokan Ekspor Emas Turun Jadi USD131.839 per Kilogram
Kopi hingga Kakao Indonesia Jadi Primadona di Korea Import Expo 2026
Putusan WTO DS622 Jadi Modal Indonesia Perjuangkan Akses Ekspor ke Uni Eropa
Kemendag Perkuat Ekspor Industri Padat Karya Lewat Perjanjian Dagang
Peluang Emas! Kemendag Ajak Pelaku Fesyen Tembus Pasar Arab Saudi
Wamendag Roro Ajak Indonesia Perkuat Ekspor dan Kemitraan Global
Kemendag Percepat Kerja Sama Indonesia-Maroko, Perdagangan Tumbuh 42 Persen

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:28 WIB

Produk Kosmetik Indonesia Laris di Filipina, Potensi Transaksi Tembus Rp26,35 Miliar

Rabu, 15 Juli 2026 - 23:06 WIB

Harga Patokan Ekspor Emas Turun Jadi USD131.839 per Kilogram

Rabu, 15 Juli 2026 - 15:32 WIB

Kopi hingga Kakao Indonesia Jadi Primadona di Korea Import Expo 2026

Rabu, 15 Juli 2026 - 10:51 WIB

Putusan WTO DS622 Jadi Modal Indonesia Perjuangkan Akses Ekspor ke Uni Eropa

Selasa, 14 Juli 2026 - 22:48 WIB

Kemendag Perkuat Ekspor Industri Padat Karya Lewat Perjanjian Dagang

Berita Terbaru