BANYUWANGI, POSNEWS.CO.ID – Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong pelaku UMKM Banyuwangi, Jawa Timur, berani naik kelas dan membidik pasar global.
Dorongan itu disampaikan saat Mendag berdialog dengan Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA) Kabupaten Banyuwangi, Jumat (28/8/2026).
Dialog berlangsung di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi dan diikuti sekitar 50 pelaku UMKM.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertemuan tersebut membahas strategi memperkuat daya saing produk, memperluas pasar, hingga membuka akses ekspor.
46 Perwakilan RI Siap Buka Jalan Ekspor
Mendag mengajak UMKM Banyuwangi memanfaatkan program UMKM BISA Ekspor. Program ini menghubungkan pelaku usaha dengan jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara.
Saat ini, Kemendag memiliki 46 perwakilan perdagangan di 33 negara. Jaringan tersebut dapat membantu UMKM mencari calon pembeli atau buyer di negara tujuan.
Selain pasar ekspor, Kemendag membuka peluang bagi UMKM masuk ke pasar domestik melalui kemitraan dengan minimarket, ritel modern, dan department store.
Melalui skema ini, UMKM dapat mengikuti business matching dan proses kurasi agar produknya sesuai dengan kebutuhan jaringan ritel.
Program tersebut merupakan bagian dari payung “Dari Lokal untuk Global”. Selain UMKM BISA Ekspor, program ini mencakup Desa BISA Ekspor, Campuspreneur, dan kemitraan UMKM.
Produk UMKM Dikurasi dan Dipromosikan
Kemendag juga menjalankan Product Placement Pilihan Busan. Produk UMKM dikurasi setiap tiga bulan.
Produk yang lolos seleksi kemudian dipromosikan kepada tamu dari dalam maupun luar negeri serta berpeluang tampil di berbagai pameran untuk membuka akses pasar yang lebih luas.
Kesempatan lain hadir melalui Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang dijadwalkan berlangsung 14–18 Oktober 2026.
Pada TEI tahun sebelumnya, tercatat 8.045 buyer asing dengan nilai transaksi mencapai USD22,8 miliar. Khusus UMKM, transaksi mencapai USD474,7 juta.
Kemasan Jadi Kunci Naik Kelas
Kemendag juga menyediakan Klinik Desain secara daring dan gratis. Fasilitas ini membantu pelaku UMKM memperbaiki desain serta kemasan agar produknya lebih siap bersaing di pasar ekspor.
Langkah tersebut penting karena kualitas produk saja belum cukup. Kemasan yang kuat, menarik, dan sesuai standar pasar menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan konsumen global.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan manfaat pendampingan Kemendag ialah Diah Lestari, pemilik Pawon Koe.
Alumni Export Coaching Program (ECP) Kemendag itu telah memperoleh trial order dari Singapura. Ia juga bernegosiasi dengan calon pembeli dari Taiwan dan menjajaki pasar Korea Selatan.
Namun, pasar Korea Selatan menuntut persyaratan sertifikasi, termasuk Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).
Mendag menegaskan pemerintah siap membantu UMKM memahami dan memenuhi berbagai persyaratan sebelum memasuki pasar ekspor.
Furnitur Banyuwangi Andalkan Kayu Legal
Pada hari yang sama, Mendag mengunjungi produsen furnitur PT Warisan Eurindo di Banyuwangi.
Ia mengapresiasi penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) sebagai bagian dari upaya menjaga daya saing furnitur Indonesia.
Perusahaan tersebut menggunakan kayu jati dari Perum Perhutani dan memproduksi furnitur serta home decor untuk pasar Asia, Amerika, dan Eropa.
Berdiri sejak 1989, PT Warisan Eurindo kini memiliki fasilitas produksi di Bali dan Banyuwangi. Pabrik Banyuwangi memiliki kapasitas rata-rata sekitar 3.065 meter kubik per tahun dan didukung sekitar 490 pekerja.
Produk perusahaan banyak menyasar kebutuhan furnitur pesanan berkualitas tinggi, termasuk sektor perhotelan.
Furnitur Lokal Siap Unjuk Gigi di TEI 2026
Mendag juga mengajak eksportir furnitur Indonesia mengikuti TEI ke-41. Tahun ini, pameran tersebut akan menyediakan area khusus furnitur.
Langkah itu menjadi kesempatan untuk menunjukkan kekuatan produk berbahan baku lokal, terutama rotan dan jati.
Dengan inovasi, desain yang kuat, legalitas bahan baku, serta sertifikasi yang tepat, UMKM dan industri furnitur Indonesia memiliki peluang lebih besar menembus pasar global.
Karena itu, pelaku usaha tidak cukup hanya menghasilkan produk berkualitas. Kemasan, sertifikasi, legalitas bahan baku, promosi, dan kesiapan memenuhi standar negara tujuan juga menjadi kunci memenangkan pasar ekspor. **
Editor : Hadwan














