Program MBG Dievaluasi, 1.512 SPPG Dihentikan Belum Punya Sertifikat Higiene

Rabu, 11 Maret 2026 - 10:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BGN Temukan Ribuan SPPG Belum Punya Sertifikat Higiene, Operasional Dihentikan. (Posnews/Ist)

BGN Temukan Ribuan SPPG Belum Punya Sertifikat Higiene, Operasional Dihentikan. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan.

Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional 1.512 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah II setelah ditemukan berbagai pelanggaran standar operasional dan fasilitas pendukung.

Langkah drastis ini dilakukan sebagai bagian dari evaluasi besar-besaran terhadap kualitas layanan gizi nasional.

BGN menegaskan seluruh fasilitas program MBG wajib memenuhi standar kesehatan, sanitasi, serta tata kelola operasional yang ketat demi melindungi masyarakat penerima manfaat.

Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN Albertus Dony Dewantoro mengatakan keputusan penghentian sementara ini diambil setelah tim melakukan audit terhadap sejumlah unit layanan di berbagai daerah.

“Ada 1.512 SPPG yang kami hentikan sementara operasionalnya. Langkah ini merupakan tindak lanjut evaluasi terhadap pemenuhan standar operasional serta kelengkapan sarana dan prasarana di sejumlah unit,” ujar Dony di Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Ribuan SPPG Tersebar di 6 Provinsi

Berdasarkan hasil evaluasi, ribuan SPPG yang dihentikan sementara tersebut tersebar di beberapa provinsi di wilayah II.

Baca Juga :  Persib Bandung Sambut Kembalinya Robi Darwis dan Kakang Rudianto Usai Perkuat Timnas U-23

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rinciannya sebagai berikut:

  • DKI Jakarta: 50 unit
  • Banten: 62 unit
  • Jawa Barat: 350 unit
  • Jawa Tengah: 54 unit
  • Jawa Timur: 788 unit
  • DI Yogyakarta: 208 unit

Temuan ini menunjukkan masih banyak unit layanan program MBG yang belum memenuhi standar operasional dasar yang telah ditetapkan pemerintah.

Ribuan Unit Belum Daftarkan Sertifikat Higiene

Salah satu pelanggaran paling mencolok adalah belum terdaftarnya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) di banyak unit SPPG.

Hasil audit BGN mencatat 1.043 unit SPPG belum mendaftarkan sertifikat tersebut, padahal dokumen ini menjadi syarat utama untuk memastikan keamanan dan kebersihan proses pengolahan makanan.

Selain itu, tim evaluasi juga menemukan 443 unit SPPG belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sesuai standar lingkungan dan kesehatan.

Fasilitas Pendukung Juga Bermasalah

Masalah lain yang tak kalah penting adalah belum tersedianya fasilitas tempat tinggal (mess) bagi tenaga profesional yang bertugas di unit layanan.

Baca Juga :  Dirut Terra Drone Jadi Tersangka Kebakaran Maut Kemayoran, Terancam Penjara Seumur Hidup

Sebanyak 175 SPPG tercatat belum menyediakan mess bagi kepala SPPG, ahli gizi, maupun akuntan yang bertanggung jawab mengelola layanan gizi.

Distribusi masalah fasilitas ini tercatat sebagai berikut:

  • Banten: 36 unit
  • DI Yogyakarta: 86 unit
  • Jawa Barat: 24 unit
  • Jawa Tengah: 10 unit
  • Jawa Timur: 19 unit

Operasional Akan Dibuka Setelah Standar Dipenuhi

BGN menegaskan penghentian operasional ini bersifat sementara. Pemerintah akan melakukan pendampingan, pembinaan, serta verifikasi ulang terhadap unit-unit layanan yang terdampak.

Tujuannya agar seluruh SPPG segera melengkapi persyaratan administrasi, sanitasi, dan fasilitas operasional sebelum kembali melayani masyarakat.

“Operasional SPPG yang dihentikan sementara akan dibuka kembali secara bertahap setelah semua persyaratan operasional dan standar terpenuhi,” tegas Dony.

Langkah evaluasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis benar-benar berjalan aman, higienis, dan berkualitas bagi masyarakat di seluruh Indonesia. (red)

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dilema Keamanan Nuklir: Saat Upaya Bertahan Hidup Justru Memicu Perlombaan Senjata
Aliansi Baru di Pasifik sebagai Bentuk Penyeimbang Kekuatan Tiongkok
Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?
Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?
Pramono Anung Peringatkan Ormas Jangan Paksa Pengusaha Minta THR Jelang Lebaran 2026
Hakim Tolak Gugatan Yaqut, Status Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji Tetap Berlaku
Jasad Pria dengan Luka Tembak di Kepala Ditemukan di Jaksel, Polisi Selidiki Senjata Api
Kasus Suap Terbongkar, KPK Tetapkan 5 Tersangka Termasuk Bupati Rejang Lebong

Berita Terkait

Rabu, 11 Maret 2026 - 16:31 WIB

Dilema Keamanan Nuklir: Saat Upaya Bertahan Hidup Justru Memicu Perlombaan Senjata

Rabu, 11 Maret 2026 - 15:26 WIB

Aliansi Baru di Pasifik sebagai Bentuk Penyeimbang Kekuatan Tiongkok

Rabu, 11 Maret 2026 - 14:20 WIB

Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?

Rabu, 11 Maret 2026 - 13:19 WIB

Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?

Rabu, 11 Maret 2026 - 12:34 WIB

Pramono Anung Peringatkan Ormas Jangan Paksa Pengusaha Minta THR Jelang Lebaran 2026

Berita Terbaru

Struktur adalah takdir. Melalui lensa Neo-Realisme Kenneth Waltz, kita memahami bahwa konflik dunia bukan disebabkan oleh sifat jahat manusia, melainkan oleh sistem internasional yang memaksa setiap negara untuk terus waspada demi bertahan hidup. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Negara Tak Pernah Benar-Benar Saling Percaya?

Rabu, 11 Mar 2026 - 14:20 WIB

Politik adalah cermin manusia. Melalui kacamata Realisme Klasik Hans Morgenthau, kita memahami bahwa konflik global bukan sekadar masalah teknis diplomatik, melainkan manifestasi dari dorongan biologis manusia untuk mendominasi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Ambisi Pemimpin Dunia Tetap Menjadi Motor Konflik?

Rabu, 11 Mar 2026 - 13:19 WIB