Radioterapi Modern Jadi Harapan Baru Pasien Kanker Serviks, Deteksi Dini Kunci Kesembuhan

Sabtu, 3 Januari 2026 - 20:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dokter onkologi radiasi menjelaskan teknologi radioterapi modern untuk penanganan kanker serviks di rumah sakit. (Posnews/Ist)

Dokter onkologi radiasi menjelaskan teknologi radioterapi modern untuk penanganan kanker serviks di rumah sakit. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di tengah masih tingginya angka kanker serviks di Indonesia, harapan baru kini hadir lewat kemajuan teknologi radioterapi.

Penyakit ini menempati peringkat kedua kanker terbanyak pada perempuan, dengan sekitar 36 ribu kasus baru setiap tahun. Namun demikian, radioterapi modern terbukti semakin efektif, presisi, dan aman bagi pasien.

Radioterapi kini menjadi salah satu andalan utama dalam penanganan kanker, selain pembedahan dan terapi sistemik. Bahkan, sekitar 50–60 persen pasien kanker membutuhkan radioterapi sebagai bagian dari pengobatan.

“Seiring meningkatnya kesadaran skrining kanker serviks, semakin banyak pasien terdeteksi pada stadium yang masih bisa ditangani optimal dengan radioterapi, terutama stadium II dan III,” ujar dr. Fauzan Herdian, Sp.Onk.Rad, Dokter Spesialis Onkologi Radiasi di Primaya Hospital Bekasi Barat.

Radioterapi Kian Presisi dan Nyaman

Dalam praktiknya, radioterapi dilakukan melalui dua metode utama, yakni radioterapi eksternal dan brakiterapi. Radioterapi eksternal menggunakan sinar berenergi tinggi yang diarahkan langsung ke tumor secara presisi.

Setiap sesi berlangsung sekitar 10–30 menit dan tidak menimbulkan rasa sakit.

Baca Juga :  MKD DPR Bisa Panggil Anggota DPR Lain Terkait Joget di Sidang Tahunan MPR

Sementara itu, brakiterapi dilakukan dengan menempatkan alat khusus langsung ke area tumor. Metode ini menjadi bagian penting, bahkan wajib bila tidak ada kontraindikasi, dalam terapi kanker serviks guna mencapai dosis radiasi optimal.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Efek samping radioterapi umumnya bersifat lokal dan sementara, seperti iritasi kulit, gangguan pencernaan ringan, atau keluhan berkemih.

Teknologi Radioterapi Kian Presisi, Peluang Sembuh Kanker Serviks Meningkat
Teknologi Radioterapi Kian Presisi, Peluang Sembuh Kanker Serviks Meningkat

Teknologi Modern Tingkatkan Keberhasilan Terapi

Kemajuan teknologi menghadirkan teknik radioterapi presisi tinggi, seperti 3D Conformal Radiotherapy (3DCRT) dan Intensity-Modulated Radiation Therapy (IMRT), termasuk pengembangan lanjutan VMAT dan IGRT.

Teknologi ini memungkinkan pengaturan dosis radiasi lebih akurat, sehingga tumor terpapar maksimal tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.

“Dengan teknik modern seperti IMRT dan VMAT, radioterapi kini semakin aman dan nyaman. Tingkat keberhasilan meningkat, sementara efek samping bisa lebih terkontrol, termasuk pada kanker serviks pascaoperasi atau yang sudah menyebar ke kelenjar getah bening,” jelas dr. Fauzan.

Baca Juga :  The Guardian Sebut IKN Jadi Kota Hantu, DPR Ngamuk “Buktikan Dengan Progres Nyata”

Radioterapi juga berperan penting di berbagai stadium kanker serviks, mulai dari terapi tambahan pascaoperasi, terapi utama pada stadium lokal lanjut, hingga pengendalian gejala pada stadium lanjut.

Layanan radioterapi komprehensif ini telah tersedia di Primaya Hospital Tangerang dan Primaya Hospital Bekasi Barat.

Deteksi Dini Jadi Penentu Kesembuhan

Meski teknologi terus berkembang, deteksi dini tetap menjadi kunci utama melawan kanker serviks. Bila terdeteksi pada tahap pra-kanker atau stadium awal, peluang sembuh bisa mendekati 100 persen.

Selain itu, durasi terapi lebih singkat, efek samping lebih ringan, dan biaya pengobatan jauh lebih rendah.

Skrining kanker serviks dianjurkan melalui Pap smear setiap 3–5 tahun setelah menikah, atau tes IVA sebagai langkah awal, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.

“Radioterapi bukan lagi terapi yang menakutkan. Dengan teknologi modern dan deteksi dini, radioterapi justru menjadi solusi yang memberi harapan besar bagi pasien kanker untuk sembuh dan kembali produktif,” tutup dr. Fauzan.

Penulis : Hadwan

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga
Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?
Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini
Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api
Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?
Perlombaan Baru Miliarder Menuju Nol Gravitasi dan Koloni Mars
Kasus Kuota Haji Memanas, KPK Panggil Eks Menag Yaqut Hari Ini
Pembicaraan Teknis Greenland dengan AS Dimulai, Tensi Mereda

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:04 WIB

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:17 WIB

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:58 WIB

Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:34 WIB

Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:11 WIB

Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?

Berita Terbaru

Ilustrasi, Australia pernah menjadi

INTERNASIONAL

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Jan 2026 - 13:17 WIB

Ilustrasi, Riset membuktikan: loyalitas pada merek masa kecil bertahan hingga 50 tahun. Migran di AS dan India lebih memilih produk mahal dari daerah asal daripada alternatif lokal yang murah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?

Jumat, 30 Jan 2026 - 12:11 WIB