WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID β Muncul jurang komunikasi yang mencolok di jantung pemerintahan Amerika Serikat saat ini. Hal ini terlihat dari perbedaan bahasa antara para petinggi militer dengan retorika politik pemerintahan Presiden Donald Trump.
Pimpinan militer cenderung menggunakan bahasa yang menahan diri. Sebaliknya, pemerintahan Trump menunjukkan sikap yang jauh lebih agresif dan provokatif. Perbedaan ini memicu kekhawatiran mengenai arah kebijakan keamanan nasional AS di tengah konflik yang kian memanas.
“Punching Them While They’re Down”: Gaya Agresif Hegseth
Menteri Pertahanan Pete Hegseth muncul sebagai suara paling vokal dalam kampanye melawan Iran. Mantan pembawa acara televisi ini sering menggunakan nada yang mengejek dan membanggakan diri. Ia menegaskan bahwa pertempuran ini tidak akan pernah menjadi pertarungan yang adil.
“Kami memukul mereka saat mereka jatuh, dan memang seharusnya begitu,” ujar Hegseth pekan lalu. Ia bahkan menyebut tenggelamnya kapal Iran sebagai “kematian yang tenang”. Pernyataan ini dianggap oleh banyak pihak sebagai penyimpangan dari norma diplomasi militer tradisional.
Trivialisasi Pertempuran: Perang Sebagai Produk Hiburan
Kritik tajam datang dari pakar hukum perang, Profesor Rachel VanLandingham. Ia menyebut nada bicara pemerintah saat ini sebagai “trivialisasi kasar” terhadap operasi tempur. Administrasi Trump dinilai menunjukkan sikap yang sangat sembrono terhadap kematian dan kehancuran.
Fenomena ini diperparah dengan penyebaran video serangan AS di media sosial. Video-video tersebut menggabungkan rekaman pertempuran nyata dengan estetika film Hollywood dan permainan video. Kardinal Blase Cupich mengutuk tindakan ini. Ia menyatakan bahwa memperlakukan penderitaan nyata seperti video game adalah hal yang memuakkan.
Kontras dengan Tradisi: Suara Jernih dari Pentagon
Di tengah gemuruh retorika politik, para pemimpin militer tetap berpegang pada tradisi. Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, menarik perhatian publik melalui pernyataannya yang terukur. Saat ditanya mengenai kemampuan militer Iran, ia justru menunjukkan rasa hormat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya pikir mereka sedang bertempur, dan saya menghormati itu,” tegas Caine. Pernyataan ini menunjukkan penghormatan profesional terhadap lawan, sebuah standar yang telah lama dipegang oleh kepemimpinan militer Amerika. Namun, sikap ini kini tampak kontras dengan narasi yang keluar dari Gedung Putih.
Kesimpulan: Dampak Strategis dari Ketidakkonsistenan Pesan
Ketidakkonsistenan pesan ini memicu kebingungan mengenai tujuan akhir perang. Tokoh-tokoh Demokrat di Kongres kini menuntut transparansi lebih lanjut. Mereka meminta Trump, Hegseth, dan Marco Rubio memberikan kesaksian mengenai objektifitas konflik ini.
Dalam perspektif strategis, retorika yang berlebihan dapat memicu miskalkulasi dari pihak lawan. Kegagalan untuk menjaga martabat militer dalam komunikasi publik berisiko merusak aliansi internasional. Pada akhirnya, cara sebuah negara berbicara tentang perang sering kali sama pentingnya dengan cara mereka bertempur di lapangan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















