JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — “Alexa, matikan lampu.” “Google, putar lagu.” Perintah-perintah ini telah menjadi bagian dari rutinitas harian di banyak rumah modern. Popularitas smart speakers (pelantang pintar) seperti Alexa dan Google Home, ditambah dengan CCTV pintar serta lampu yang terhubung ke internet, telah meroket.
Kita merangkul era smart home (rumah pintar) yang menjanjikan kenyamanan instan di ujung suara kita. Namun, di balik kenyamanan itu, ada “tukar guling” yang sering tidak kita sadari dan berpotensi membahayakan.
Privasi untuk Kenyamanan
Inti dari “tukar guling” ini sederhana: kita menukar privasi dengan kenyamanan. Agar smart speaker bisa merespons perintah “Hei Google”, mikrofonnya harus selalu aktif (always-on). Perangkat itu secara konstan mendengarkan semua percakapan di ruangan, menunggu kata kuncinya.
Akibatnya, kita secara sukarela memasang alat pendengar di ruang tamu dan kamar tidur kita. Kita menerima risiko ini semua demi kemudahan mematikan lampu tanpa harus beranjak dari sofa.
Siapa yang Sebenarnya Mendengar?
Masalahnya, data itu tidak berhenti di perangkat Anda. Saat Anda berbicara, perusahaan mengirim rekaman suara Anda ke server (seperti milik Amazon atau Google) untuk diproses. Perusahaan mengklaim ini untuk “meningkatkan layanan”.
Akan tetapi, ini juga berarti percakapan pribadi kita—pertengkaran, rahasia, atau obrolan sensitif—tersimpan di cloud. Risiko peretasan pun menjadi nyata; peretas bisa saja menyadap mikrofon Anda dari jarak jauh. Lebih jauh lagi, data suara ini melengkapi profil data kita, memberi raksasa teknologi pemahaman yang lebih dalam tentang kebiasaan, keinginan, dan bahkan kesehatan kita.
Siapa yang Mengendalikan Rumah Kita?
Teknologi rumah pintar memang menawarkan kemudahan yang luar biasa. Namun, di saat yang sama, teknologi ini membawa kita pada pertanyaan fundamental. Seberapa “pintar” rumah yang kita inginkan? Apakah kenyamanan memutar musik sepadan dengan risiko percakapan kita dianalisis oleh algoritma?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat dinding mulai bisa mendengar, kita harus bertanya: siapa yang sebenarnya mengendalikan rumah kita? Kita, atau perusahaan yang teknologinya kita pasang di dalamnya?
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















