Video Game Kekerasan: Pemicu Agresi atau Kambing Hitam?

Minggu, 28 Desember 2025 - 06:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Main game tembak-tembakan bikin orang jadi jahat? Sains punya jawabannya. Simak perdebatan ilmiah tentang dampak video game kekerasan, mitos desensitisasi, dan sejarah yang berulang dari era komik. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Main game tembak-tembakan bikin orang jadi jahat? Sains punya jawabannya. Simak perdebatan ilmiah tentang dampak video game kekerasan, mitos desensitisasi, dan sejarah yang berulang dari era komik. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID Selama beberapa dekade, video game kekerasan selalu menjadi terdakwa di ruang publik. Setiap kali terjadi tindak kekerasan oleh anak muda, jari telunjuk masyarakat langsung mengarah ke layar konsol game.

Debat ini bahkan telah merambah ke ruang pengadilan. Kedua belah pihak mengklaim memegang kebenaran ilmiah. Namun, apakah sains benar-benar sudah sepakat?

Ternyata, dua teori besar saling bertarung. Teori pertama menuding game mengajarkan dan memperkuat tendensi kekerasan. Sebaliknya, teori kedua justru melihat game sebagai katup pelepas agresi yang bermanfaat bagi kesehatan mental.

Studi 45 Menit dan Kelompok Berisiko

Beberapa tinjauan literatur memang menemukan korelasi. Orang yang bermain game kekerasan realistis selama 45 menit menunjukkan peningkatan perasaan agresif dibandingkan mereka yang bermain game non-kekerasan.

Akan tetapi, generalisasi ini berbahaya. Studi lebih mendalam menunjukkan bahwa risiko tersebut tidak merata.

Kelompok yang paling rentan biasanya adalah laki-laki dengan riwayat gangguan kepribadian, trauma masa kecil, atau insecurity yang mendalam. Anak dengan Attention Deficit Disorder (ADD) juga berisiko lebih tinggi mengalami kecanduan.

Baca Juga :  Era Soloism: Merayakan Kemerdekaan di Ruang Publik

Artinya, video game mungkin hanya menjadi variabel pemicu bagi mereka yang sudah memiliki bakat agresif, bukan penyebab tunggal bagi mayoritas pemain yang sehat secara mental.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dejavu Komik 1950-an

Menariknya, kepanikan moral ini bukanlah hal baru. Sejarah mencatat pola yang “menyeramkan” miripnya dengan debat komik di tahun 1950-an.

Kala itu, Senat AS menggelar sidang untuk menyelidiki dampak komik horor dan kriminal terhadap moral remaja. Para ahli medis saat itu juga memperingatkan tentang penurunan moral dan peningkatan kekerasan.

Faktanya, masyarakat sering kali mencari kambing hitam baru untuk setiap masalah sosial. Perilaku kekerasan selalu dianggap “lebih parah sekarang daripada dulu”, padahal itu hanyalah bias persepsi.

Otak Gamer Tidak “Tumpul”

Sebuah studi neurologis terbaru memberikan bukti kuat yang membela para gamer. Peneliti memindai otak pemain veteran game kekerasan untuk melihat apakah mereka kehilangan kemampuan membedakan fiksi dan realitas.

Baca Juga :  Polda Metro Jaya Lengkapi Berkas Kasus Richard Lee, Segera Dilimpahkan ke Kejaksaan

Hasilnya melegakan. Kemampuan otak mereka untuk membedakan kekerasan nyata dan virtual secara otomatis tidak berkurang sedikit pun. Bahkan, respons saraf mereka terhadap kekerasan nyata tidak mengalami desensitisasi.

Temuan ini membantah mitos bahwa game membuat orang mati rasa atau kehilangan pegangan pada realitas.

Manfaat Kognitif dan Katup Emosi

Di sisi lain, penelitian justru menemukan sisi positif. Bermain game dalam porsi sedang (moderat) terbukti meningkatkan koordinasi visual-spasial, perhatian periferal, dan kemampuan pengambilan keputusan.

Selain itu, bermain game juga bisa menjadi sarana penyaluran emosi yang sehat, mirip dengan olahraga. Individu bisa melampiaskan agresi mereka di dunia maya sehingga memiliki fungsi mental yang lebih baik di dunia nyata.

Pada akhirnya, korelasi tidak membuktikan kausalitas (correlation does not prove causation). Faktor seperti lingkungan keluarga yang abusive atau pergaulan delinquent ternyata menjadi prediktor kekerasan yang jauh lebih kuat daripada sekadar paparan video game.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

6 Pelajar Jadi Tersangka Kericuhan May Day Bandung, Polisi Sita Bom Molotov
Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir
Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan
LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar
Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi
Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:43 WIB

6 Pelajar Jadi Tersangka Kericuhan May Day Bandung, Polisi Sita Bom Molotov

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:31 WIB

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:33 WIB

Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:18 WIB

LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:13 WIB

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi

Berita Terbaru