Bagaimana Clarence Saunders Mengubah Cara Dunia Berbelanja

Sabtu, 16 Mei 2026 - 06:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

MEMPHIS, POSNEWS.CO.ID – Bayangkan jika untuk membeli sekilo gula dan sebotol acar, Anda harus mengantre di depan meja kayu dan menunggu seorang petugas mengambilkannya satu per satu dari rak tinggi. Itulah realitas belanja di Amerika Serikat pada awal tahun 1900-an.

Banyak pihak memandang sistem pelayanan penuh ini sangat tidak efisien. Pelanggan harus menyebutkan daftar belanjaan secara lisan atau menyerahkan catatan kepada petugas. Jika ingin menghemat waktu, pelanggan harus mengirim kurir atau datang sendiri untuk menyerahkan catatan tersebut dan kembali lagi nanti untuk membayar. Namun, visi seorang pria bernama Clarence Saunders mengubah semua kebiasaan lama itu.

Visi Sang Inovator: Dari Pramuniaga ke Pionir Ritel

Clarence Saunders memulai kariernya sebagai pekerja paruh waktu di toko kelontong pada usia 14 tahun. Pengalamannya bertahun-tahun sebagai pramuniaga dan wiraniaga grosir menumbuhkan kesadaran mengenai besarnya pemborosan waktu dan biaya dalam model bisnis tradisional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh karena itu, pada tahun 1902, Saunders pindah ke Memphis dan mulai merancang konsep “toko kafetaria”. Ia membagi toko menjadi tiga area utama yang revolusioner:

  1. Lobi Depan: Area pintu masuk, pintu keluar, dan kasir.
  2. Departemen Penjualan: Ruang terbuka tempat pelanggan bebas berkeliaran di lorong untuk memilih barang mereka sendiri.
  3. Gudang Stok: Ruang tertutup bagi staf untuk menyimpan produk segar di dalam lemari pendingin.
Baca Juga :  Putri Kim Jong Un Pamer Kemampuan Menembak

Kelahiran Piggly Wiggly dan Ledakan Swalayan

Pada 6 September 1916, Saunders meluncurkan revolusi swalayan dengan membuka toko Piggly Wiggly pertama di Memphis. Toko ini tampil sangat berbeda dari para pesaingnya. Pelanggan tidak lagi bergantung pada bantuan pramuniaga; mereka bebas menyentuh, melihat, dan mengambil barang langsung dengan tangan mereka sendiri.

Selain itu, toko menandai harga pada setiap barang dengan jelas. Petugas tidak lagi memberikan tekanan kepada pelanggan untuk membeli produk tertentu. Inovasi tersebut menghasilkan dampak ekonomi yang sangat besar. “Konsep ini menguntungkan konsumen dan pengecer karena memangkas biaya tenaga kerja yang merupakan pengeluaran besar,” jelas George T. Haley, pakar industri dari University of New Haven.

Ekspansi Kilat dan Kejatuhan Dramatis

Konsep swalayan segera meledak di pasaran. Dalam setahun, Saunders sukses membuka sembilan toko. Pada tahun 1923, jaringan Piggly Wiggly telah berkembang hingga mencakup hampir 1.300 toko dengan nilai penjualan mencapai $100 juta—setara dengan $1,3 miliar di masa sekarang. Saunders bahkan mematenkan konsepnya dan menciptakan desain ikonik seperti pintu putar di pintu masuk.

Baca Juga :  Usai Dibungkam Zambia, Timnas U-17 Siap Tempur Lawan Brasil — Nova: Jangan Minder

Namun, drama keuangan segera membayangi kesuksesan besar ini. Pada tahun 1923, perselisihan sengit dengan Bursa Efek New York memaksa Saunders menghadapi kebangkrutan. Meskipun ia mencoba bangkit dengan jaringan toko baru, nasib serupa kembali menimpanya. Hingga akhir hayatnya pada bulan Oktober 1953, ia masih berupaya mengembangkan sistem toko otomatis yang ia sebut “Foodelectric”.

Warisan yang Menjadi Standar Dunia

Meskipun toko otomatis impiannya tidak pernah beroperasi, nama Clarence Saunders dan Piggly Wiggly tetap abadi dalam sejarah perdagangan. Inovasi yang ia perkenalkan melahirkan fenomena belanja impulsif yang sebelumnya tidak pernah dikenal dunia.

Singkatnya, setiap kali kita berjalan menyusuri lorong supermarket dan mengambil barang dari rak hari ini, kita sedang mempraktikkan warisan Saunders. Di tahun 2026 ini, saat teknologi ritel beralih ke kecerdasan buatan dan toko tanpa kasir, prinsip dasar kebebasan pelanggan yang Saunders canangkan di Memphis lebih dari seabad lalu tetap menjadi pilar utama industri ritel global.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Berita Terbaru

Presiden Xi Jinping menyerukan blok BRICS menjadi juru damai konflik Timur Tengah pada KTT New Delhi serta mempererat hubungan diplomatik dengan India. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:57 WIB

2.713 penari dari 12 negara membawakan Tari Semarak Jali-Jali Betawi di Ancol. (Posnews/Ancol)

JABODETABEK

Budaya Betawi Mendunia, 2.713 Penari Pecahkan Rekor MURI di Ancol

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:41 WIB

Hakim federal AS membatalkan rencana pemangkasan 50% staf FEMA era pemerintahan Trump. Keputusan ini dinilai menegakkan undang-undang perlindungan FEMA. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:56 WIB