WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Larangan penggunaan ponsel di dalam pesawat masih menjadi aturan kaku bagi penumpang udara. Sebaliknya, maskapai mengizinkan penumpang untuk menggunakan laptop sesuka hati mereka. Kontradiksi ini memicu pertanyaan besar: apakah ponsel benar-benar lebih berbahaya daripada laptop di ketinggian 30.000 kaki?
Masalah ini menjadi sorotan dalam sidang subkomite Kongres Amerika Serikat baru-baru ini. Para regulator dan perwakilan maskapai memberikan kesaksian mengenai risiko penggunaan ponsel. Meskipun demikian, bukti-bukti yang muncul menunjukkan bahwa risiko tersebut sebenarnya sangat kecil.
Tragedi Hukum Neil Whitehouse
Ketegasan aturan ini terlihat nyata pada kasus Neil Whitehouse, seorang pekerja minyak asal Manchester. Tahun lalu, pengadilan Inggris menjatuhkan hukuman penjara selama satu tahun kepada Whitehouse. Ia menolak mematikan ponselnya saat terbang pulang dari Madrid.
Padahal, Whitehouse hanya sedang mengetik pesan teks dan tidak melakukan panggilan suara. Namun, pengadilan memutuskan bahwa tindakannya tetap membahayakan keselamatan penerbangan. Kasus ini mempertegas bahwa industri penerbangan lebih memilih kebijakan antisipasi yang ekstrem.
Potensi Gangguan pada Sistem Navigasi
Perangkat elektronik canggih memenuhi pesawat modern untuk kebutuhan navigasi dan komunikasi. Setiap perangkat harus memenuhi standar keamanan radiasi yang sangat ketat. Sebaliknya, perangkat elektronik pribadi penumpang tidak selalu memenuhi standar tersebut.
Para ahli mengkhawatirkan emisi dari dalam kabin dapat mengganggu antena sensitif pada bagian luar pesawat. Selain itu, perangkat elektronik di kabin dapat berperilaku tidak terduga di tengah “sup” emisi elektronik dari radar darat dan sistem pesawat itu sendiri. Hal ini dapat menciptakan harmonisa yang mengganggu fungsi sistem vital.
Bukti Teknis: Airbus vs Otoritas Inggris (CAA)
Menariknya, produsen pesawat besar belum menemukan bukti kerusakan sistem yang konkrit. “Kami telah melakukan studi sendiri dan menemukan bahwa ponsel sebenarnya tidak berdampak pada sistem navigasi,” ujar Maryanne Greczyn, juru bicara Airbus Amerika Utara. Pilot pun biasanya hanya mendengar bunyi “bip” halus pada headset dalam studi tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, studi terbaru dari Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (CAA) memberikan perspektif berbeda. Peneliti melakukan simulasi transmisi ponsel di dalam dua pesawat Boeing. Mereka menyimpulkan bahwa sinyal tersebut dapat melampaui ambang batas keamanan tahun 1984. Kondisi ini berpotensi mengganggu peralatan lama seperti detektor asap dan indikator bahan bakar, meskipun tidak merusak navigasi utama.
Mengapa Laptop Diizinkan?
Marshall Cross, ketua Mega Wave Corporation, menilai industri saat ini menerapkan kebijakan “lebih baik aman daripada menyesal” secara tidak konsisten. Ia mempertanyakan mengapa otoritas melarang penggunaan ponsel sementara mengizinkan penggunaan laptop. Padahal, laptop dan sistem permainan elektronik justru menghasilkan sinyal yang jauh lebih kuat.
Penggunaan tetikus (mouse) kabel pada laptop dapat berfungsi sebagai antena yang memancarkan radiasi kuat. Sinyal ini lebih mungkin mengganggu elektronik pesawat jika pelindung bawaannya mengalami kerusakan. Oleh karena itu, banyak ahli menganggap pelarangan ponsel murni terjadi karena sifat selulernya, bukan karena alasan teknis semata.
Fenomena “Bigfooting” dan Kendala Jaringan
Hambatan terbesar ternyata bukan berasal dari sistem pesawat, melainkan dari infrastruktur darat. Perusahaan telekomunikasi sangat khawatir terhadap efek bernama “bigfooting”. Sinyal ponsel dari ketinggian cenderung membanjiri banyak stasiun pangkalan (base station) sekaligus dengan sinyal yang sama.
Hal ini berbeda dengan panggilan di darat yang biasanya hanya tertangkap oleh satu atau dua menara. Akibatnya, penggunaan ponsel secara massal di udara dapat melumpuhkan jaringan seluler di bawahnya. Inilah alasan mengapa Komisi Komunikasi Federal (FCC) di AS tetap melarang penggunaan ponsel meski otoritas penerbangan (FAA) mulai melonggarkan pandangannya.
Logika yang Belum Menang
Hingga saat ini, para pengembang belum menciptakan solusi teknis serius yang memungkinkan penumpang menggunakan ponsel. Singkatnya, tidak ada pihak yang memetik keuntungan finansial secara nyata jika otoritas mengizinkan penggunaan ponsel di udara.
Dengan demikian, kebijakan larangan ponsel kemungkinan besar akan terus berlanjut. Selama maskapai tetap mengizinkan laptop, mereka sulit mengeklaim bahwa logika telah menang dalam standar keamanan tersebut. Masyarakat internasional kini tetap harus menerima penundaan panggilan telepon sebagai harga kecil demi mengurangi risiko kecelakaan pesawat seminimal mungkin.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












