WELLINGTON, POSNEWS.CO.ID – Di tengah kepanikan global akan pemanasan bumi, Selandia Baru tampaknya memegang kartu keberuntungan geografis. Sementara wilayah kutub utara diprediksi memanas lebih dari 6°C dan benua-benua besar hingga 4°C pada abad mendatang, negeri Kiwi ini diperkirakan “hanya” akan menghangat sekitar 3°C.
Penyelamatnya adalah Samudra Selatan. Lautan luas yang mengelilingi negara kepulauan ini bertindak layaknya “pendingin ruangan” (air conditioner) raksasa, meredam lonjakan suhu ekstrem yang melanda belahan bumi lain.
Namun, kenyamanan ini hanyalah satu sisi cerita. Di balik angka suhu yang moderat, tersimpan ancaman perubahan pola cuaca yang radikal.
Angin Barat yang Mengamuk
Dampak paling nyata datang dari selatan. Seiring memanasnya dunia, sabuk angin barat yang mengelilingi Antartika menjadi semakin kuat. Akibatnya, Selandia Baru akan menerima curah hujan yang jauh lebih intens—bahkan katastrofik—di pantai barat.
Sebaliknya, wilayah timur yang sudah rawan kekeringan akan semakin kering kerontang. Apa yang kita anggap sebagai kekeringan tingkat menengah saat ini, bisa jadi akan menjadi rutinitas tahunan di akhir abad nanti. Defisit kelembapan tanah akan terjadi lebih awal dan bertahan lebih lama, memaksa petani untuk memutar otak lebih keras demi menyelamatkan panen.
Gletser Menyusut, Salju Naik
Wajah pegunungan Alpen Selatan pun berubah. Selama 100 tahun terakhir, gletser telah menyusut sebesar 35 persen. Meskipun peningkatan curah salju sempat menahan laju pencairan sejak 1978, studi terbaru NIWA (National Institute for Water and Atmospheric Research) memprediksi pemanasan di pegunungan akan jauh lebih signifikan di masa depan.
Garis salju abadi akan merangkak naik. Uniknya, jumlah salju yang turun mungkin justru meningkat karena intensitas presipitasi, tetapi durasi tutupannya akan lebih singkat. Resor ski mungkin harus memindahkan stasiun mereka lebih tinggi ke gunung untuk tetap beroperasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ancaman Tersembunyi: Tuatara Jantan
Bagi ekosistem alami, kecepatan perubahan adalah penentu hidup dan mati. Spesies yang hanya bisa hidup di ceruk sempit akan kesulitan beradaptasi. Contoh paling tragis menimpa Tuatara, reptil purba endemik Selandia Baru.
Jenis kelamin Tuatara ditentukan oleh suhu inkubasi telur. Kondisi hangat (di atas 22°C) akan menghasilkan bayi jantan. Faktanya, pemanasan yang terjadi saat ini telah menyebabkan rasio jantan melebihi betina hingga dua banding satu di beberapa pulau perlindungan. Jika tren ini berlanjut tanpa intervensi, spesies ini menghadapi kepunahan fungsional karena ketiadaan betina.
Ekonomi yang Rentan
Pada akhirnya, meskipun emisi Selandia Baru hanya 0,5% dari total global, negara ini tidak kebal. Ancaman terbesar mungkin bukan datang dari perubahan iklim lokal, melainkan dari pasar global.
Jika pasar ekspor utama Selandia Baru hancur akibat perubahan iklim di negara mereka, dampaknya akan menghantam ekonomi Wellington dengan keras. Menjadi “beruntung” secara geografis tidak menjamin keselamatan di dunia yang saling terhubung.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia




















