TEHERAN, POSNEWS.CO.ID β Pemerintah Iran mengeluarkan serangkaian pernyataan kontradiktif mengenai status navigasi di Selat Hormuz. Meskipun militer secara aktif menyerang kapal komersial, Teheran bersikeras bahwa jalur perairan paling strategis di dunia tersebut tetap berfungsi secara normal.
Melalui pernyataan resmi pada Sabtu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi telah menghantam kapal tanker minyak bernama Prima menggunakan drone penyerang. Militer berdalih bahwa kapal tersebut mengabaikan peringatan berulang kali mengenai “pelarangan lalu lintas” serta kondisi “ketidakamanan” di jalur lintasan tersebut.
Bantahan Penutupan dan Aturan Navigasi
Serangan fisik ini terjadi hanya satu hari setelah pejabat tinggi Iran menyatakan bahwa negara tersebut tidak memiliki rencana untuk menutup Selat Hormuz. Seorang perwira senior IRGC menegaskan melalui televisi negara bahwa klaim penutupan selat adalah informasi yang “tidak akurat”.
Menurutnya, Iran tetap menangani pengiriman kapal sesuai dengan aturan navigasi internasional. Oleh karena itu, Teheran menolak tuduhan pihak Barat yang menyebut Iran sedang menyandera ekonomi global. Televisi negara juga mengutip sumber militer yang menyatakan bahwa selat tetap terbuka, namun dengan catatan keras bahwa kapal milik Amerika Serikat atau Israel akan langsung petugas anggap sebagai target militer yang sah.
Diplomasi di New Delhi dan Syarat Penutupan
Di panggung internasional, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, mencoba meredam kekhawatiran pasar energi. Berbicara dalam konferensi internasional di New Delhi, India, ia menegaskan bahwa Iran belum menutup arteri vital tersebut.
“Jika Iran memutuskan untuk menutup selat, kami akan memberikan pengumuman resmi,” ujar Khatibzadeh. Ia menambahkan bahwa pergerakan kapal saat ini tetap mendapatkan perlakuan sesuai dengan perjanjian internasional. Namun demikian, militer Iran memberikan klarifikasi bahwa mereka tetap melakukan intersep terhadap kapal perang yang menyamar sebagai kapal dagang guna menjaga keamanan nasional.
Hak Kontrol Navigasi di Masa Perang
Meskipun diplomasi sedang berjalan, IRGC kembali mempertegas posisi kedaulatan mereka. Dalam situasi perang, Iran mengeklaim memiliki hak penuh untuk mengendalikan navigasi melalui Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara eksplisit, militer melarang kapal-kapal yang berafiliasi dengan Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Eropa untuk melintas. Larangan ini petugas nilai sebagai upaya Iran untuk memberikan tekanan ekonomi balik terhadap sanksi yang Washington jatuhkan. Dunia kini memantau dengan cermat apakah serangan terhadap tanker Prima merupakan awal dari blokade de facto yang akan melumpuhkan pasokan minyak global di sisa tahun 2026.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















