KADUGLI, POSNEWS.CO.ID — Misi perdamaian PBB kembali berduka. Sebuah serangan pesawat nirawak (drone) menghantam markas logistik pasukan penjaga perdamaian PBB di kota Kadugli, wilayah Kordofan tengah, Sudan, pada Sabtu (13/12/2025).
Insiden ini merenggut nyawa enam penjaga perdamaian. Selain itu, delapan personel lainnya mengalami luka-luka. Seluruh korban adalah warga negara Bangladesh yang bertugas dalam Pasukan Keamanan Sementara PBB untuk Abyei (Unisfa).
Sekretaris Jenderal PBB, AntĂłnio Guterres, merespons dengan kemarahan. Ia menyebut serangan tersebut tidak dapat dibenarkan dan harus diusut tuntas.
“Serangan yang menargetkan penjaga perdamaian PBB dapat dianggap sebagai kejahatan perang di bawah hukum internasional,” tegas Guterres.
Saling Tuding: Militer vs RSF
Siapa dalang di balik serangan pengecut ini? Militer Sudan langsung menuding Rapid Support Forces (RSF). RSF adalah kelompok paramiliter terkenal yang telah berperang melawan tentara nasional selama lebih dari dua tahun.
Militer merilis pernyataan keras. Menurut mereka, serangan itu mengungkap pendekatan subversif dari milisi pemberontak. Mereka juga mengunggah video yang memperlihatkan gumpalan asap hitam pekat membumbung di atas fasilitas PBB yang hancur.
Namun, hingga berita ini turun, belum ada komentar resmi dari pihak RSF. Kelompok ini sebelumnya telah merebut El Fasher, benteng terakhir militer di wilayah Darfur barat, dan kini memusatkan pertempuran di Kordofan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Misi di Wilayah Sengketa Minyak
Pasukan Unisfa beroperasi di wilayah yang sangat sensitif. Abyei adalah daerah kaya minyak yang menjadi sengketa antara Sudan dan Sudan Selatan.
Misi PBB telah berada di sana sejak 2011. Tujuannya, menjaga stabilitas pasca-kemerdekaan Sudan Selatan. Sayangnya, konflik internal Sudan kini menyeret pasukan baret biru ke dalam pusaran kekerasan.
Guterres kembali menyerukan gencatan senjata segera. Ia mendesak proses politik yang komprehensif dan inklusif untuk menyelesaikan konflik di negara Afrika timur laut tersebut.
Krisis Kemanusiaan Terburuk
Perang saudara di Sudan telah menciptakan neraka dunia. Sejak pecah pada April 2023, konflik ini telah menewaskan lebih dari 40.000 orang. Bahkan, kelompok hak asasi manusia meyakini angka sebenarnya jauh lebih tinggi.
Perang ini diwarnai dengan kekejaman luar biasa. Laporan PBB mencatat adanya pemerkosaan massal dan pembunuhan bermotif etnis yang mengarah pada kejahatan terhadap kemanusiaan.
Akibatnya, Sudan kini menghadapi krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan kelaparan massal (famine) mulai melanda sebagian wilayah negara tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















