GAZA CITY, POSNEWS.CO.ID – Di tengah puing-puing Gaza, sebuah ironi menyakitkan sedang terjadi. Barang-barang penyelamat nyawa yang sangat dibutuhkan warga justru menjadi komoditas bisnis yang menguntungkan segelintir pihak.
Israel dituduh menjalankan sistem kontrol paralel yang diskriminatif. Faktanya, otoritas Israel mengizinkan pedagang komersial membawa masuk barang-barang yang justru dilarang bagi organisasi kemanusiaan.
Daftar barang tersebut mencakup generator listrik dan tiang tenda logam. Israel memasukkannya ke dalam daftar hitam barang “guna ganda” (dual-use items).
Alasannya, barang-barang ini bisa dimanfaatkan oleh Hamas untuk tujuan militer. Namun, realitas di pasar Gaza berkata lain. Generator dan palet logam kini dijual bebas di pasar terbuka dengan harga selangit.
“Sangat mengejutkan bahwa barang-barang ini bisa masuk melalui saluran komersial,” ungkap seorang sumber diplomatik.
Bisnis di Atas Penderitaan
Ketimpangan ini membatasi kerja organisasi kemanusiaan. Padahal, kebutuhan warga sangat mendesak, terutama saat musim dingin dan hujan mulai mengguyur.
Sam Rose, pejabat UNRWA, membenarkan situasi tersebut. “Satu-satunya cara mendapatkan generator saat ini adalah lewat sektor swasta. Ada mark-up harga di sana,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Analis menduga ada kepentingan bisnis besar di balik kebijakan ini. Ahmed Alkhatib dari Atlantic Council menyebut Gaza akan selalu menjadi pasar besar bagi ekonomi Israel.
“Anda tidak hanya membayar pajak ke Hamas, tetapi juga membayar biaya ke pedagang di sisi Israel,” jelas Alkhatib.
COGAT Membantah, AS Bingung
Unit Kementerian Pertahanan Israel, COGAT, membantah tuduhan tersebut. Mereka mengklaim kebijakan diterapkan secara seragam.
“Israel menawarkan alternatif bagi organisasi internasional,” dalih juru bicara COGAT.
Namun, pasukan Amerika Serikat (AS) yang baru dikerahkan ke Pusat Koordinasi Sipil-Militer (CMCC) justru kebingungan. Mereka datang dengan persiapan logistik, tetapi malah menghadapi hambatan politik.
Perwira AS bahkan sempat bersitegang dengan rekan Israel mereka terkait larangan tiang tenda. AS mendesak penghapusan larangan tersebut, namun Israel bergeming.
Senjata Politik: Lapar dan Dingin
Tania Hary dari kelompok hak asasi manusia Gisha menilai ini sebagai strategi politik yang konsisten. “Ini adalah kebijakan untuk memperkuat pihak tertentu dan melemahkan pihak lain,” analisisnya.
Daftar barang terlarang sering kali tidak masuk akal. Panel surya, kursi roda, hingga pensil sekolah pun pernah ditolak masuk.
Akibatnya, penderitaan warga sipil semakin parah. PBB melaporkan setidaknya tiga orang tewas akibat hipotermia bulan ini karena kurangnya tempat berlindung yang layak.
Sementara itu, aliran bantuan pangan masih jauh di bawah target gencatan senjata. Jika standar ganda ini terus berlanjut, risiko kelaparan dan kematian yang dapat dicegah akan kembali menghantui jutaan nyawa di Gaza.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















