JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap temuan 62 kasus super flu atau influenza A (H3N2) di Indonesia hingga akhir Desember 2025.
Namun demikian, pemerintah mengakui angka tersebut belum tentu mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus menyatakan, seluruh kasus tersebut merupakan hasil pemeriksaan laboratorium. Meski begitu, ia menilai potensi kasus sebenarnya bisa lebih banyak.
“Hari ini yang terdeteksi dan diperiksa di laboratorium ada 62 kasus. Tapi kemungkinan jumlahnya lebih dari itu,” ujar dr. Benjamin dikutip Jumat (9/1/2026).
Meski mengakui keterbatasan data, pria yang akrab disapa dr. Benny menegaskan situasi nasional masih terkendali dan belum menunjukkan lonjakan ekstrem.
Namun di sisi lain, pernyataan ini sekaligus memunculkan pertanyaan soal cakupan surveilans dan deteksi dini, mengingat angka kasus hanya bergantung pada pemeriksaan laboratorium terbatas.
Lebih lanjut, dr. Benny menjelaskan bahwa tren kasus flu justru menurun tajam dalam dua bulan terakhir, khususnya dalam dua pekan terakhir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Harus diingat, sekarang kasus flu sudah turun jauh. Dua bulan terakhir, terutama dua minggu terakhir, grafiknya terus menurun. Flu memang biasanya memuncak di awal musim hujan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, pola kenaikan flu bersifat musiman dan terjadi hampir setiap tahun di periode yang sama.
“Biasanya Agustus, September naik, Oktober meningkat. Sekarang Desember menuju Januari justru mulai reda. Terlihat jelas, kasus flu di masyarakat berkurang,” katanya.
Influenza A (H3N2) Dikenal Lama Dunia Medis
Menanggapi istilah “super flu” yang ramai diperbincangkan publik, dr. Benny menegaskan tidak ada virus baru yang sedang menyebar. Menurutnya, influenza A (H3N2) sudah lama dikenal dunia medis.
Ia menjelaskan bahwa virus ini termasuk tipe A, dengan subclade tertentu yang mengalami perubahan genetik setiap tahun, sehingga vaksin influenza juga harus diperbarui secara rutin.
“Super flu itu H3N2. Ini bukan virus baru. Influenza memang selalu berubah karena replikasi, makanya vaksin flu tiap tahun selalu berbeda,” paparnya.
Meski begitu, penjelasan ini memunculkan catatan kritis: perubahan virus yang terus terjadi menuntut penguatan edukasi publik, terutama agar masyarakat tidak menganggap flu sebagai penyakit sepele.
Wamenkes menegaskan pemerintah tetap melakukan pemantauan dan surveilans aktif, meskipun tren kasus menunjukkan penurunan. Ia meminta masyarakat tetap waspada tanpa panik berlebihan.
Menurutnya, sebagian besar kasus H3N2 memiliki tingkat kesembuhan tinggi, dengan gejala umum seperti demam, batuk, pilek, dan nyeri otot.
Super Flu Bukan Virus Baru
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menegaskan bahwa super flu bukan virus baru, berbeda dengan COVID-19 yang sempat memicu krisis global karena belum dikenali sistem imun manusia.
Menkes menilai, karena influenza A (H3N2) telah beredar selama puluhan tahun, sebagian besar masyarakat sudah memiliki kekebalan dasar, sehingga risiko gejala berat relatif kecil selama kondisi tubuh sehat.
Hingga saat ini, Kemenkes mencatat belum ada laporan kematian akibat super flu. Namun demikian, pemerintah memastikan pemantauan ketat terus dilakukan, terutama di tengah perubahan cuaca ekstrem yang berpotensi memicu lonjakan penyakit pernapasan.
Penulis : Hadwan
Editor : Hadwan





















