TOKYO, POSNEWS.CO.ID β – Perairan Asia Timur sedang memanas. China melakukan manuver militer besar-besaran yang membuat tetangganya waspada penuh. Tercatat, Beijing mengerahkan armada raksasa yang terdiri dari kapal angkatan laut dan penjaga pantai di seluruh kawasan tersebut minggu ini.
Laporan eksklusif Reuters pada Kamis lalu mengungkap skala operasi ini. Pada satu titik, jumlah kapal yang beroperasi mencapai lebih dari 100 unit. Seketika, Taiwan dan Jepang membunyikan alarm tanda bahaya.
Aktivitas ini bukan latihan biasa. Sumber intelijen menyebut operasi ini melampaui penyebaran angkatan laut massal pada Desember tahun lalu. Kala itu, manuver serupa telah memaksa Taiwan menaikkan tingkat kewaspadaannya.
Taiwan: Ancaman Bagi Indo-Pasifik
Istana Kepresidenan Taiwan bereaksi cepat. Juru bicara Karen Kuo menegaskan bahwa aktivitas China tidak terbatas di Selat Taiwan saja. Sebaliknya, armada tersebut menyebar luas mulai dari Laut Kuning, Laut China Timur, hingga Laut China Selatan dan Pasifik Barat.
“Ini sungguh menimbulkan ancaman dan dampak bagi Indo-Pasifik dan seluruh kawasan,” ujar Kuo kepada wartawan di Taipei.
Oleh karena itu, Taiwan mendesak China untuk bertindak sebagai kekuatan besar yang bertanggung jawab. Presiden Lai Ching-te telah menginstruksikan pasukan keamanan untuk menjaga kesadaran situasional penuh.
Selanjutnya, Taiwan berjanji akan menjaga kontak erat dengan “mitra sahabat”. Tujuannya, mereka ingin menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan secara kolektif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jepang Pantau dengan “Perhatian Besar”
Di Tokyo, Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi turut angkat bicara. Ia mengakui bahwa Jepang mengetahui laporan tersebut. Pihaknya kini mengawasi pergerakan militer China dengan “perhatian besar”.
“China telah memperluas dan meningkatkan aktivitas militernya di wilayah sekitar Jepang,” kata Koizumi.
Meskipun menolak mengomentari detail penyebaran spesifik, Koizumi menegaskan komitmen pemerintah. Jepang akan terus memantau perkembangan dengan keprihatinan mendalam. Bahkan, mereka akan mengerahkan segala upaya untuk pengumpulan informasi dan pengawasan menyeluruh.
China: Jangan Bereaksi Berlebihan
Di sisi lain, Beijing menanggapi kekhawatiran tersebut dengan dingin. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, membela tindakan negaranya.
Menurutnya, aktivitas angkatan laut dan penjaga pantai di “wilayah maritim terkait” sepenuhnya mematuhi hukum domestik dan internasional.
“Tidak perlu bagi pihak mana pun untuk bereaksi berlebihan, menafsirkan secara berlebihan, atau terlibat dalam spekulasi tidak berdasar,” tegas Lin di Beijing.
Konteks Krisis Diplomatik
Eskalasi ini terjadi di tengah hubungan diplomatik yang rapuh. Pasalnya, China dan Jepang sedang terlibat krisis diplomatik serius.
Pemicunya adalah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi bulan lalu. Saat itu, Takaichi menyebut bahwa serangan hipotetis China terhadap Taiwan dapat memicu respons militer dari Tokyo.
Selain itu, Beijing juga marah besar terhadap Taiwan. Presiden Lai Ching-te baru saja mengumumkan tambahan anggaran pertahanan sebesar $40 miliar. Langkah ini diambil untuk menangkal klaim kedaulatan China atas pulau demokratis tersebut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Reuters





















