Teori Perdamaian Demokratis: Mitos atau Fakta

Sabtu, 20 Desember 2025 - 08:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Benarkah sesama negara demokrasi tidak akan pernah berperang? Teori ini menjadi dogma kebijakan luar negeri Barat. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Benarkah sesama negara demokrasi tidak akan pernah berperang? Teori ini menjadi dogma kebijakan luar negeri Barat. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda menyadari sebuah pola unik dalam sejarah perang modern? Negara demokrasi sering berperang melawan negara otoriter. Namun, sangat jarang kita melihat dua negara demokrasi saling mengangkat senjata secara terbuka.

Fenomena empiris ini melahirkan sebuah tesis besar dalam Hubungan Internasional yang bernama “Teori Perdamaian Demokratis” (Democratic Peace Theory).

Para pendukung teori ini percaya bahwa demokrasi adalah kunci perdamaian dunia. Oleh karena itu, jika seluruh dunia menganut demokrasi, perang akan punah dari muka bumi. Terdengar indah, bukan? Akan tetapi, realitas politik tidak sesederhana itu.

Rem Pakem Bernama “Akuntabilitas”

Mengapa demokrasi cenderung lebih damai? Logika pertamanya bersifat institusional. Pemimpin negara demokrasi tidak memiliki kekuasaan mutlak.

Mereka harus menjawab kepada rakyat dan parlemen. Pasalnya, mereka membutuhkan persetujuan publik sebelum menyatakan perang. Mekanisme pengawasan dan keseimbangan (check and balances) ini bertindak sebagai rem pakem.

Akibatnya, pemimpin akan berpikir seribu kali sebelum mengirim tentara. Mereka takut kalah dalam pemilu berikutnya jika perang tersebut tidak populer atau memakan banyak korban jiwa. Sebaliknya, seorang diktator bisa mengobarkan perang kapan saja tanpa takut kehilangan jabatan.

Baca Juga :  Pemprov DKI Tebus Ijazah 1.238 Siswa Senilai Rp4,13 Miliar, Kesempatan Kerja Terbuka

Budaya Negosiasi

Logika kedua bersifat normatif atau budaya. Negara demokrasi terbiasa menyelesaikan konflik internal mereka melalui dialog, debat, dan hukum, bukan kekerasan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lantas, kebiasaan ini terbawa ke panggung internasional. Saat berselisih dengan sesama negara demokrasi, mereka akan mengedepankan negosiasi diplomatik. Mereka memandang negara lain sebagai mitra yang setara dan memiliki legitimasi yang sama.

Dengan begitu, kepercayaan terbangun lebih mudah. Mereka berasumsi bahwa negara demokrasi lain juga akan bertindak rasional dan tidak agresif.

Sisi Gelap: Operasi Intelijen

Meskipun demikian, teori ini memiliki lubang besar yang menganga. Kritikus menunjuk pada sejarah kelam intervensi terselubung. Negara demokrasi mungkin jarang berperang secara terbuka (open warfare), tetapi mereka sering melakukan penggulingan rezim lewat pintu belakang.

Baca Juga :  Tamám Shud: Misteri Mayat di Pantai Adelaide

Amerika Serikat (AS) adalah contoh paling nyata. Faktanya, CIA terlibat aktif dalam penggulingan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh di Iran pada 1953. Padahal, Mossadegh adalah pemimpin yang terpilih secara demokratis.

Hal serupa terjadi di Chile pada 1973. AS mendukung kudeta militer untuk menjatuhkan Presiden Salvador Allende yang juga terpilih lewat pemilu sah. Alasannya murni kepentingan ekonomi dan ideologi anti-komunis, mengabaikan prinsip demokrasi itu sendiri.

Alat Politik Barat?

Pada akhirnya, banyak pengamat menilai teori ini sering menjadi alat justifikasi politik. Negara-negara Barat menggunakannya untuk membagi dunia menjadi dua blok: “Demokrasi vs Otokrasi”.

Narasi ini memberikan legitimasi moral bagi kebijakan luar negeri mereka. Jika musuh adalah negara otoriter, maka perang dianggap sah demi menyebarkan demokrasi dan perdamaian.

Maka, kita harus kritis. Demokrasi memang menawarkan mekanisme damai yang lebih baik. Akan tetapi, label “demokrasi” tidak serta-merta menyucikan sebuah negara dari dosa ambisi kekuasaan dan intervensi militer.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rumah Siti Nurbaya Digeledah Kejagung, Fokus Kasus Korupsi Perkebunan Sawit
Bau Sampah Mengganggu, RDF Rorotan Dihentikan Sementara oleh Pemprov DKI
Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga
Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?
Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini
Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api
Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?
Perlombaan Baru Miliarder Menuju Nol Gravitasi dan Koloni Mars

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 18:15 WIB

Rumah Siti Nurbaya Digeledah Kejagung, Fokus Kasus Korupsi Perkebunan Sawit

Jumat, 30 Januari 2026 - 17:47 WIB

Bau Sampah Mengganggu, RDF Rorotan Dihentikan Sementara oleh Pemprov DKI

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:04 WIB

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:17 WIB

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:58 WIB

Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini

Berita Terbaru

Ilustrasi, Australia pernah menjadi

INTERNASIONAL

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Jan 2026 - 13:17 WIB