JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Orang tua baru sering mengeluh kurang tidur saat merawat bayi. Namun, manusia sebenarnya masih beruntung jika kita bandingkan dengan Orca atau paus pembunuh.
Penelitian mengejutkan datang dari Universitas California, Los Angeles (UCLA). Ahli saraf Jerome Siegel dan rekannya Oleg Lyamin menemukan fakta mencengangkan. Selama bulan pertama pasca-kelahiran, induk Orca dan bayinya sama sekali tidak mengalami tidur normal.
Mereka terus bergerak tanpa henti. Faktanya, pola ini sangat kontras dengan mamalia lain yang biasanya butuh tidur ekstra saat bayi.
“Gerakan dan kesigapan orca muda membantu mereka menjaga suhu tubuh tetap konstan,” jelas Siegel. Selain itu, mereka harus terus bergerak agar bisa bernapas dan waspada terhadap serangan hiu.
Otak Besar Tanpa Tidur?
Temuan ini mengguncang pemahaman kita tentang fungsi tidur. Dulu, ilmuwan meyakini tidur mutlak kita perlukan untuk perkembangan otak.
“Di sini kita memiliki makhluk yang menumbuhkan salah satu otak terbesar di dunia hewan, namun ia melakukannya tanpa tidur,” ujar Siegel heran.
Sementara semua mamalia dan burung tampaknya butuh tidur, misteri masih menyelimuti reptil dan ikan. Contohnya, ikan mas di akuarium tidak pernah benar-benar berbaring diam. Mereka mungkin memasuki kondisi “dorman” yang mirip tidur, namun tetap waspada.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Relung Lingkungan Menentukan Tidur
Apa yang menentukan durasi tidur hewan? Tampaknya, faktor lingkungan lebih berpengaruh daripada fungsi biologis semata. Ketersediaan makanan menjadi kunci utama.
Kelelawar, misalnya, memiliki waktu istirahat yang sangat panjang. Alasannya, mereka bisa mendapatkan cukup makanan (serangga) hanya dalam tiga jam berburu.
“Mungkin hal terbaik bagi kelelawar adalah menggantung terbalik di gua sepanjang hari untuk menghemat energi,” kata Siegel.
Di sisi lain, lumba-lumba memiliki kemampuan tidur yang unik. Mereka bisa mengistirahatkan separuh otak mereka sementara separuh lainnya tetap terjaga. Bahkan, mereka tidur dengan satu mata terbuka untuk memantau predator. Mata yang tertutup selalu berlawanan dengan belahan otak yang sedang tidur.
Burung yang Tidur Sambil Terbang
Adaptasi ekstrem juga terlihat pada burung migrasi seperti Swainson’s thrush. Biasanya, burung ini tidur 10-12 jam sehari. Akan tetapi, saat musim migrasi tiba, mereka memangkas waktu tidurnya secara drastis menjadi hanya 2,5 jam.
Psikolog Verner Bingman menyebut mereka sebagai “model alami kurang tidur”. Hebatnya, burung ini tetap berfungsi efektif meski kurang istirahat.
Mereka melakukan micro-naps atau tidur mikro sebanyak 50 kali per jam. Setiap sesi hanya berlangsung 10 hingga 20 detik. Secara teknis, gelombang otak mereka menunjukkan pola tidur normal, meskipun mereka sedang terbang atau beraktivitas.
Bisakah Manusia Menirunya?
Penemuan ini memicu imajinasi liar. Bisakah manusia beradaptasi untuk hidup dengan tidur minimal seperti burung thrush? Bingman membayangkan masa depan di mana manusia bisa hidup aktif selama 20 jam sehari tanpa kehilangan efektivitas.
“Triknya adalah mengembangkan teknik atau obat yang bisa menciptakan kembali pola otak serupa pada manusia,” harap Bingman.
Namun, ahli saraf Clifford Saper tidak setuju. Ia memperingatkan bahaya fatal bagi otak manusia. Kurang tidur terbukti merusak memori, kewaspadaan, dan penilaian.
“Efek terjaga 20 jam saat mengemudi setara dengan minum dua gelas wiski,” peringat Saper.
Pada akhirnya, otak manusia tampaknya tidak sefleksibel hewan. Kita mungkin bermimpi untuk tidak tidur, tetapi biologi kita berkata lain. Tidur tetap menjadi kebutuhan mutlak yang tidak bisa kita tawar demi kesehatan dan keselamatan jiwa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















