Tiongkok Kecam Kebijakan Ekspor Senjata Jepang sebagai Ancaman Remiliterisasi

Kamis, 23 April 2026 - 14:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beijing mendesak komunitas internasional untuk waspada terhadap langkah Tokyo yang melonggarkan aturan penjualan senjata. Dok: Istimewa.

Beijing mendesak komunitas internasional untuk waspada terhadap langkah Tokyo yang melonggarkan aturan penjualan senjata. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Tiongkok menyampaikan keprihatinan serius atas keputusan Jepang untuk merombak aturan ekspor senjatanya. Beijing memandang langkah tersebut sebagai upaya sistematis Tokyo guna membangun kembali kekuatan tempur yang ofensif.

Dalam konteks ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, memberikan taklimat media pada hari Selasa. Oleh karena itu, Tiongkok mendesak masyarakat internasional agar tetap waspada terhadap setiap manuver militer Jepang di tahun 2026 ini.

Remiliterisasi dan Peringatan Sejarah

Guo Jiakun menyoroti bahwa agresi militer Jepang di masa lalu telah menyebabkan penderitaan luar biasa bagi bangsa Tiongkok dan negara-negara Asia lainnya. Oleh sebab itu, Beijing menilai Tokyo memiliki kewajiban moral dan hukum guna mempertahankan komitmen damainya.

Secara khusus, Tiongkok merujuk pada sejumlah dokumen hukum internasional yang mengikat:

  1. Deklarasi Kairo: Menetapkan batasan ketat bagi kedaulatan militer Jepang.
  2. Proklamasi Potsdam: Menuntut pelucutan senjata total bagi militer Jepang pasca-perang.
  3. Instrumen Penyerahan Jepang: Dokumen resmi yang menandai berakhirnya ambisi ekspansi militer Tokyo.
Baca Juga :  India dan Pakistan Saling Buka Kartu Fasilitas Nuklir

Menurut Guo, dokumen-dokumen tersebut secara jelas melarang Jepang untuk membangun kembali industri yang berkaitan dengan persenjataan berat. Langkah Tokyo saat ini dipandang sebagai bentuk pengabaian terhadap tatanan hukum dunia yang telah pemerintah global sepakati sejak 1945.

Potensi Ekspor Konflik ke Mancanegara

Tiongkok juga memperingatkan dampak destruktif dari kehadiran senjata Jepang di pasar global. Para pakar dan akademisi di Beijing menyatakan kekhawatiran bahwa Jepang kini mulai memiliki kapasitas untuk “mengekspor konflik” ke wilayah lain.

Dalam hal ini, kebijakan Perdana Menteri Sanae Takaichi dianggap terlalu agresif. Bahkan, Beijing menuduh Tokyo sedang merancang rencana aksi yang nyata guna menghidupkan kembali kekuatan perang nasionalnya. Akibatnya, Tiongkok memprediksi akan terjadi perlombaan senjata baru di kawasan Asia Timur jika negara-negara tetangga mulai merespons remiliterisasi tersebut secara fisik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Respon Komunitas Internasional

Beijing menyerukan agar dunia tidak menutup mata terhadap pergeseran kebijakan Tokyo. Terlebih lagi, Tiongkok berkomitmen untuk memimpin upaya diplomatik guna menentang kebangkitan militerisme Jepang dalam bentuk apa pun.

Baca Juga :  Swedia Resmi Larang Ponsel di Sekolah Mulai 2026

“Kita semua harus tetap waspada dan tegas menentang setiap langkah yang merusak perdamaian regional,” tegas Guo kepada wartawan. Secara simultan, Tiongkok terus memperkuat koordinasi dengan mitra-mitra strategisnya guna memastikan keseimbangan kekuatan di Pasifik Barat tidak terganggu oleh ambisi baru Jepang.

Menakar Kedaulatan Pasifisme Jepang

Masa depan stabilitas Asia kini bergantung pada seberapa konsisten Jepang dalam menjaga identitas pasifisnya. Pada akhirnya, kecaman Tiongkok ini merupakan pengingat bahwa trauma sejarah masih menjadi variabel kunci dalam hubungan luar negeri di tahun 2026.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah Tokyo akan merespons keberatan Beijing ini melalui dialog atau tetap melanjutkan agenda penguatan militernya. Di tengah ketegangan dunia yang kian volatil, ketegasan Tiongkok dalam menjaga “garis merah” kedaulatan regional menjadi instrumen utama guna mencegah pecahnya konfrontasi bersenjata di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Xi Jinping dan Utusan Laos Sahkan Visi Masa Depan Bersama
Tiongkok Sebut Penolakan Izin Terbang Presiden Taiwan Bukti Dukungan Global
Operasi Intelijen Somalia Lumpuhkan 33 Militan di Shabelle Tengah
Uni Eropa Sahkan Pinjaman $106 Miliar dan Sanksi Baru Rusia
Iran Tolak Putaran Kedua Perundingan Damai dengan Amerika Serikat
Thailand Dorong Normalisasi Hubungan Myanmar dengan ASEAN
Kebijakan Tarif Nol Persen Tiongkok Pacu Hilirisasi Karet
Gangguan di Terminal 1: Polisi Selidiki Tas Tak Bertuan di Bandara Perth

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 15:23 WIB

Xi Jinping dan Utusan Laos Sahkan Visi Masa Depan Bersama

Kamis, 23 April 2026 - 14:14 WIB

Tiongkok Kecam Kebijakan Ekspor Senjata Jepang sebagai Ancaman Remiliterisasi

Kamis, 23 April 2026 - 14:06 WIB

Tiongkok Sebut Penolakan Izin Terbang Presiden Taiwan Bukti Dukungan Global

Kamis, 23 April 2026 - 13:02 WIB

Operasi Intelijen Somalia Lumpuhkan 33 Militan di Shabelle Tengah

Kamis, 23 April 2026 - 12:58 WIB

Uni Eropa Sahkan Pinjaman $106 Miliar dan Sanksi Baru Rusia

Berita Terbaru

Mempererat ikatan ideologi. Presiden Xi Jinping menerima utusan khusus Presiden Laos di Beijing guna mematangkan pembangunan komunitas nasib bersama dan merayakan 65 tahun hubungan diplomatik di tengah dinamika politik global tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Xi Jinping dan Utusan Laos Sahkan Visi Masa Depan Bersama

Kamis, 23 Apr 2026 - 15:23 WIB

Serangan presisi di Guulane. Badan Intelijen Nasional Somalia (NISA) bersama mitra internasional menghancurkan pangkalan milisi Al-Shabaab, menewaskan puluhan pejuang termasuk pemimpin senior dalam operasi pencegahan teror tahun 2026. Dok: CFP.

INTERNASIONAL

Operasi Intelijen Somalia Lumpuhkan 33 Militan di Shabelle Tengah

Kamis, 23 Apr 2026 - 13:02 WIB

Pecah kebuntuan di Brussel. Uni Eropa secara resmi menyetujui pinjaman jumbo senilai 90 miliar Euro untuk menjaga stabilitas Ukraina hingga 2027, menyusul pencabutan veto oleh Hungaria dan perubahan peta politik di Budapest tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Uni Eropa Sahkan Pinjaman $106 Miliar dan Sanksi Baru Rusia

Kamis, 23 Apr 2026 - 12:58 WIB