Tragedi Laut Mediterania: 53 Migran Tewas atau Hilang di Lepas Pantai Libya

Sabtu, 14 Februari 2026 - 19:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Prahara di jalur maut. Sebuah kapal migran terbalik di lepas pantai Libya, menewaskan puluhan orang dan hanya menyisakan dua wanita yang harus kehilangan seluruh anggota keluarganya. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Prahara di jalur maut. Sebuah kapal migran terbalik di lepas pantai Libya, menewaskan puluhan orang dan hanya menyisakan dua wanita yang harus kehilangan seluruh anggota keluarganya. Dok: Istimewa.

TRIPOLI, POSNEWS.CO.ID – Kabar duka kembali menyelimuti wilayah perairan Laut Mediterania. Sebanyak 53 migran dilaporkan tewas atau hilang setelah kapal yang mereka tumpangi terbalik di lepas pantai Libya.

Hanya dua orang yang berhasil selamat dalam insiden memilukan ini. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengonfirmasi bahwa kedua penyintas adalah wanita asal Nigeria. Otoritas Libya segera memberikan perawatan medis darurat begitu mereka tiba di daratan setelah operasi pencarian di utara Zuwara.

Kesaksian Memilukan Penyintas

Kisah di balik penyelamatan kedua wanita tersebut sungguh menyayat hati. Salah satu penyintas mengungkapkan bahwa ia kehilangan suaminya dalam tragedi tersebut. Sementara itu, wanita lainnya menyatakan bahwa dua bayinya turut hilang tertelan ombak saat kapal terbalik.

Berdasarkan keterangan para penyintas, kapal yang mengangkut migran dari berbagai negara Afrika tersebut berangkat dari Al-Zawiya, Libya, sekitar pukul 23.00 pada tanggal 5 Februari. Sekitar enam jam perjalanan, kapal mulai kemasukan air dan akhirnya terbalik. Kondisi cuaca yang buruk serta kelebihan muatan diduga menjadi penyebab utama bencana di jalur Mediterania Tengah tersebut.

Baca Juga :  Pramono Anung Belajar Kepemimpinan Jakarta dari Ahok

Eksploitasi Jaringan Penyelundup Manusia

IOM mengecam keras jaringan penyelundup dan perdagangan manusia yang terus mencari keuntungan dari penderitaan para migran. Jaringan kriminal ini sengaja menggunakan kapal-kapal yang tidak layak laut untuk menyeberang dari Afrika Utara menuju Eropa Selatan.

“Jaringan ini membiarkan orang-orang terpapar pelecehan berat dan bahaya maut demi keuntungan finansial,” tegas pernyataan resmi IOM dari Jenewa. Oleh karena itu, badan PBB tersebut mendesak penguatan kerja sama internasional untuk memberantas jaringan kriminal tersebut. IOM juga meminta pembukaan jalur migrasi yang aman, legal, dan teratur guna meminimalisir risiko kehilangan nyawa di masa depan.

Reaksi Uni Eropa dan Statistik Kematian

Menanggapi kejadian ini, Komisi Eropa menyatakan komitmennya untuk mengatasi akar penyebab migrasi tidak teratur. Juru bicara Komisi Eropa di Brussel menekankan pentingnya meningkatkan upaya bersama dengan mitra seperti Libya guna mencegah perjalanan berbahaya yang mempertaruhkan nyawa ini.

Baca Juga :  Polri Gelar Pelepasan Purna Tugas Komjen Pol. Ahmad Dofiri di STIK Jakarta

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara statistik, Laut Mediterania tetap menjadi jalur migrasi paling berbahaya di dunia. Proyek Migran Hilang (Missing Migrants Project) mencatat bahwa antara tahun 2014 hingga akhir 2025, lebih dari 33.000 migran telah tewas atau hilang di perairan tersebut. Tahun lalu saja, tercatat 1.873 korban jiwa, di mana 1.342 di antaranya terjadi di rute Mediterania Tengah. Krisis kemanusiaan yang terus berulang ini menuntut tindakan konkret global agar laut tersebut tidak terus menjadi “kuburan massal” bagi mereka yang mencari kehidupan lebih baik di Eropa.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kemendag Gencarkan Friday Mubarak 2026, Diskon hingga 50 Persen Sambut Ramadan
Bareskrim Polri Tangkap Pria Berjaket Ojol Diduga Transaksi Sabu di SPBU Kemang
Kejahatan Perang di Sudan: Drone RSF Bantai Keluarga
Viral BBM Tercampur Air di SPBU Parungpanjang Bogor, Pertamina Hentikan Penyaluran Pertalite
Pemprov DKI Siapkan Mudik Gratis 2026 ke 20 Kota, Motor Diangkut ke 6 Tujuan
Visi Pertahanan Keir Starmer: Eropa adalah Raksasa Tidur
Aliansi Pertahanan Udara: Jepang, Inggris, dan Italia Percepat Pengembangan Jet Tempur Generasi Terbaru
Aturan Pembelajaran Ramadan 2026 Resmi Terbit, Ini Skema Belajar dan Libur Idulfitri

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:36 WIB

Kemendag Gencarkan Friday Mubarak 2026, Diskon hingga 50 Persen Sambut Ramadan

Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:07 WIB

Bareskrim Polri Tangkap Pria Berjaket Ojol Diduga Transaksi Sabu di SPBU Kemang

Sabtu, 14 Februari 2026 - 20:59 WIB

Kejahatan Perang di Sudan: Drone RSF Bantai Keluarga

Sabtu, 14 Februari 2026 - 20:55 WIB

Viral BBM Tercampur Air di SPBU Parungpanjang Bogor, Pertamina Hentikan Penyaluran Pertalite

Sabtu, 14 Februari 2026 - 20:31 WIB

Pemprov DKI Siapkan Mudik Gratis 2026 ke 20 Kota, Motor Diangkut ke 6 Tujuan

Berita Terbaru

Ilustrasi,
Tragedi di Kordofan. Kelompok paramiliter RSF meluncurkan serangan drone mematikan yang menyasar warga sipil dan bantuan pangan, memperburuk krisis kemanusiaan di tengah ancaman kelaparan massal. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kejahatan Perang di Sudan: Drone RSF Bantai Keluarga

Sabtu, 14 Feb 2026 - 20:59 WIB