SEOUL, POSNEWS.CO.ID – Pemuda berusia 28 tahun Lee Geon Hui memilih hadiah sangat unik untuk sang ayah. Ia memesan video animasi kecerdasan buatan (AI) dari mendiang sang kakek.
Sapaan Hangat dari Alam Baka
Mendiang sang kakek wafat akibat kecelakaan sebelum Geon Hui lahir. Sang ayah memendam rasa rindu yang sangat mendalam kepada mendiang.
Geon Hui kemudian menulis naskah percakapan khusus untuk proyek ini. Perusahaan teknologi Vaice membantu memproses video berdurasi pendek tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam video itu, sosok virtual sang kakek menyapa ayahnya secara hangat. Sang kakek meminta maaf atas kesalahan masa lalu melalui layar digital.
Ayah Geon Hui meneteskan air mata haru saat menyaksikan tayangan tersebut. Geon Hui merasa sangat bahagia karena berhasil menghibur hati sang ayah.
Bisnis Rekreasi Mendiang Tumbuh Subur
Masyarakat Korea Selatan kini semakin akrab dengan teknologi duka digital. Banyak perusahaan rintisan menawarkan jasa rekonstruksi video dan suara mendiang.
Acara televisi lokal juga rutin menampilkan konser virtual penyanyi legendaris yang sudah wafat. CEO Vaice Jeongu Won mengonfirmasi lonjakan permintaan pelanggan saat ini.
Vaice melayani sekitar 300 pelanggan setiap bulan secara konsisten. Mayoritas pemesan merupakan kalangan paruh baya yang merindukan orang tua mereka.
Proses pembuatan video hanya membutuhkan beberapa foto dan contoh suara singkat mendiang. Biaya pembuatan video berdurasi tiga menit mencapai 600.000 won atau sekitar 390 dolar AS.
Keluarga biasanya memutar video ini saat ritual upacara peringatan hari kematian mendiang.
Ancaman Kejutan Budaya dan Dampak Psikologis
Namun inovasi teknologi ini memicu perdebatan etika yang sangat serius. Pakar kecerdasan buatan KAIST Yong Man Ro menyebut inovasi ini sebagai senjata bermata dua.
Inovasi ini berpotensi memicu kejutan budaya yang belum pernah ada sebelumnya. Eksekutif JL Standard Choi Yu Ha juga mengakui adanya kecurigaan awal dari masyarakat.
Sebagian masyarakat khawatir teknologi ini justru membuka kembali luka duka keluarga.
Pakar psikologi juga menyoroti risiko kehadiran asisten kencan duka (deathbots) interaktif. Chatbot interaktif berpotensi mengacaukan proses duka alami manusia.
Proses duka yang sehat menuntut penerimaan kenyataan kehilangan secara utuh. Sebaliknya, interaksi dua arah dengan mesin justru menjebak keluarga dalam fantasi semu.
Mendesak Kehadiran Regulasi Hak Mendiang
Guru Besar Hukum Universitas Kyung Hee Choung Wan mendesak pemerintah merilis regulasi hukum secepatnya. Negara harus melindungi martabat dan hak suara mendiang dari eksploitasi komersial.
Undang-undang baru wajib melarang pembuatan versi AI jika mendiang menolak semasa hidup. Perusahaan teknologi juga harus membatasi penggunaan data pribadi mendiang tanpa izin ahli waris.
Vaice sendiri memilih bersikap sangat hati-hati terhadap pengembangan teknologi interaktif real-time. Mereka enggan merilis fitur percakapan langsung tanpa pengawasan tim ahli perusahaan.
Hingga kini, publik masih menanti langkah tegas pemerintah dalam menyusun aturan hukum teknologi duka ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












