JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Game Grand Theft Auto (GTA) VI mencetak rekor penjualan yang sangat luar biasa. Game garapan Rockstar Games ini langsung menguasai tangga lagu PlayStation Store di berbagai belahan dunia hanya dalam waktu lima hari.
Pembeli Mengincar Versi Termahal
Laporan terbaru menunjukkan fenomena menarik mengenai perilaku belanja para gamer dunia. Mayoritas pemain tidak memilih opsi termurah saat melakukan pesanan awal game ini.
Mereka justru langsung membeli versi tertinggi, yaitu Ultimate Edition seharga 100 dolar AS (sekitar Rp 1,6 juta). Edisi premium ini sukses memuncaki tangga lagu di setiap toko digital regional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sistem peringkat PlayStation Store sendiri mengurutkan posisi game berdasarkan total pendapatan, bukan jumlah unit fisik yang terjual. Keberhasilan GTA VI menggeser dominasi game gratis seperti Fortnite membuktikan volume pesanan awal yang sangat masif.
Kemenangan Mutlak Era Game Digital
Pola distribusi Rockstar Games pada era modern ini turut memicu ledakan pembelian versi digital. Rockstar memang tetap merilis versi fisik game ini ke pasar ritel global.
Namun, salinan fisik tersebut murni berisi kode unduhan kertas di dalam kotak tanpa menyertakan piringan cakram (disc). Karena kedua versi memiliki harga serupa, jutaan pemain akhirnya langsung memilih transaksi digital lewat PlayStation Store.
Langkah berani Rockstar ini bertujuan untuk menekan angka kebocoran konten sebelum hari peluncuran. Kebijakan ini juga efektif mematikan pasar jual-beli game bekas yang merugikan pengembang.
Meski demikian, game ini menghadapi kendala perizinan di beberapa wilayah. Pengguna di Kuwait dan Taiwan melaporkan bahwa game ini belum muncul pada daftar toko digital lokal.
Bayang-Bayang Gerakan Serikat Pekerja Rockstar
Kesuksesan komersial ini berjalan beriringan dengan dinamika internal yang memanas di dalam tubuh Rockstar Games. Para pekerja pengembang kini tengah gencar menuntut pengakuan serikat pekerja resmi menjelang tanggal rilis game.
Gerakan ini menguat pasca kebijakan pemecatan sejumlah pengembang oleh manajemen pada tahun 2025 lalu. Asosiasi pekerja menilai pemecatan tersebut merupakan tindakan balas dendam atas aktivitas pengorganisasian serikat.
Sebaliknya, pihak manajemen Rockstar bersikeras menyebut pemecatan tersebut murni karena pelanggaran disiplin berat oleh karyawan. Kendati konflik internal terus membara, antusiasme tinggi konsumen global tampaknya sama sekali tidak surut.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












