WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Meksiko kembali tegang. Kali ini bukan soal tembok perbatasan atau imigrasi, melainkan masalah air yang vital. Presiden Donald Trump mengeluarkan ancaman serius pada Senin (09/12/2025).
Trump bersumpah akan menjatuhkan tarif tambahan sebesar 5 persen terhadap Meksiko. Syaratnya, tarif itu akan berlaku “SEGERA” jika Meksiko tidak menyuplai tambahan air untuk membantu petani AS yang kekeringan.
Ia menuduh negara tetangganya itu telah melanggar perjanjian pembagian air yang bersejarah. Seketika, isu pengelolaan sumber daya alam di perbatasan menjadi bola panas politik tingkat tinggi.
Melanggar Traktat 1944?
Sengketa ini berakar pada perjanjian tua, yakni Traktat Air 1944. Berdasarkan aturan, Meksiko wajib mengirimkan 1,75 juta acre-feet air dari Sungai Rio Grande ke AS setiap lima tahun.
Sebaliknya, AS juga memiliki kewajiban mengalirkan air dari Sungai Colorado ke Meksiko. Namun, Trump mengklaim Meksiko telah gagal memenuhi janji.
“Meksiko berutang 800.000 acre-feet air karena pelanggaran selama lima tahun terakhir,” tulis Trump di platform Truth Social.
Ia menuntut Meksiko melepaskan 200.000 acre-feet sebelum 31 Desember nanti. Jika tidak, tarif impor akan menjadi hukuman nyata. Trump menilai situasi ini sangat tidak adil bagi petani Texas yang tanaman dan ternaknya menderita akibat kekurangan air.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meksiko Berdalih Kekeringan
Pihak Meksiko belum memberikan respons resmi atas ancaman terbaru ini. Akan tetapi, mereka sebelumnya berargumen bahwa negara mereka juga sedang dilanda kekeringan parah.
Krisis iklim memang memainkan peran besar. Faktanya, studi terbaru World Wildlife Fund (WWF) menemukan bahwa Sungai Rio Grande sedang sekarat. Sekitar 52 persen konsumsi air dari sungai tersebut dinilai tidak berkelanjutan.
Akibatnya, waduk dan akuifer mengering dengan cepat. Bahkan, kekurangan air telah menyebabkan hilangnya 36 persen lahan pertanian di sepanjang Rio Grande di New Mexico.
Bantuan $12 Miliar untuk Petani
Dampak ekonomi dari krisis air ini sangat nyata di Texas. Salah satunya, pabrik pengolahan gula terakhir di negara bagian itu terpaksa gulung tikar.
Sadar akan penderitaan konstituennya, Trump tidak hanya menebar ancaman. Ia juga meluncurkan paket bantuan ekonomi senilai $12 miliar. Rencananya, dana ini akan cair pada Februari 2026 melalui program Farmer Bridge Assistance (FBA).
Bantuan ini menyasar produsen jagung, kapas, kedelai, dan gandum yang terdampak perang dagang dan tarif. “Bantuan ini akan memberikan kepastian yang sangat dibutuhkan petani,” janji Trump dalam diskusi meja bundar pertanian.
Pada akhirnya, air kini menjadi komoditas politik yang mahal. Ketegangan di perbatasan selatan bukan lagi sekadar soal siapa yang melintas, tetapi juga soal siapa yang berhak meminum air dari sungai yang sama.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: The Guardian





















